kehamilan

Pelajaran dari Cerita Bunda yang Gagal Jalani Program Bayi Tabung

Ratih Wulan Pinandu Kamis, 14 Mar 2019 - 17.09 WIB
Ilustrasi bayi tabung/ Foto: iStock Ilustrasi bayi tabung/ Foto: iStock
Jakarta - Mendapatkan keturunan menjadi dambaan pasangan yang sudah menikah. Bagi pasangan suami istri (pasutri) yang sudah menikah bertahun-tahun, pasti rela melakukan berbagai cara demi mendapatkan buah hati.

Salah satu upaya yang banyak dicoba adalah program bayi tabung. Melansir Mayo Clinic, bayi tabung atau disebut sebagai in vitro fertilization (IVF) merupakan prosedur mengumpulkan sel telur yang matang, lalu diambil dari ovarium untuk dibuahi sperma di laboratorium.

Keberhasilan bayi tabung sendiri dipengaruhi beberapa faktor seperti usia dan penyebab infertilitas itu sendiri, Bun. Selama ini, program IVF memang lebih banyak ditawarkan pada wanita di atas usia 40 tahun, atau pada wanita dengan gangguan kesehatan tertentu.


Beberapa di antaranya seperti kerusakan atau penyumbatan tuba falopi, gangguan ovulasi, kegagalan ovarium prematur atau hilangnya fungsi ovarium sebelum usia 40 tahun, endometriosis, sterilisasi atau pengangkatan tuba sebelumnya, hingga gangguan genetik.

Namun, tak sedikit pula wanita yang berusia di bawah 30 tahun mencoba melakukan prosedur bayi tabung. Trisna Wijaya (30), menjadi salah satunya. Wanita asal Palangkaraya ini pernah melakukan IVF akhir 2016 lalu, di salah satu rumah sakit swasta di Jawa Timur.

Awalnya, Trisna dan sang suami, Ivan Sugiantoro memutuskan untuk melakukan program bayi tabung setelah mendapat saran dari dokter. Kala itu, dokter obgyn menyebut kondisi saluran tuba falopi Trisna mengalami penyumbatan di salah satu sisinya. Selain itu, posisi rahim Trisna juga disebut dokter dalam kondisi miring, sehingga sperma kesulitan untuk masuk ke dalamnya.

"Waktu itu saluran tubaku cuma sebelah yang lancar, yang satunya tersumbat. Sama rahimku juga posisinya agak miring. Sperma mau masuk ke rahimnya susah. Perjalanannya jauh atau lama, jadi bisa mati dalam perjalanan sebelum sampai rahim. Makanya dibantu alat," ungkap Trisna saat berbincang dengan HaiBunda.

Keputusan untuk mencoba IVF tak datang tiba-tiba, Bun. Trisna dan Ivan terlebih dulu melakukan serangkaian tes, hingga kemudian disarankan untuk menjalani inseminasi. Setelah itu, dokter kandungan memberi beberapa alternatif rumah sakit untuk Trisna dan Ivan menjalani prosedur bayi tabung.

Lantas, keduanya sepakat untuk mencoba pelayanan program bayi tabung di Rumah Sakit Siloam Surabaya. Sesampainya di sana, tim dokter menawarkan untuk mengikuti program bayi tabung dengan tingkat keberhasilan lebih tinggi dibandingkan inseminasi.

"Awalnya kita ditawarin di Banjarmasin, cuma biayanya di sana jauh lebih mahal, bisa dua kali lipat. Cuma bisa inseminasi saja dan memang bayi tabung belum bisa," lanjutnya.

Pelajaran dari Cerita Bunda yang Gagal Jalani Program Bayi TabungIlustri bayi tabung/ Foto: iStock

Pada awal program, sperma sang suami dites lebih dulu. Sedangkan Trisna sendiri harus menjalani USG untuk mengetahui apakah ada kista atau mioma di saluran reproduksinya. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan tes salurah tuba falopi dengan pemeriksaan histerosalpingografi (HSG).

"Prosesnya kurang lebih sebulan, dari haid pertama langsung mulai programnya. USG transvaginal dilakukan untuk menghitung jumlah sel telur yang bakal diprogram. Terus kemudian disuntikkan hormon pembesar sel telur supaya nanti sel telurnya gede-gede, jadi gampang dipetik dan diproses di laboratorium," terang Trisna.

Selanjutnya, membutuhkan waktu 7 - 12 hari untuk mengetahui kondisi sel telur, Bun. Tak ketinggalan, Trisna juga menerima suntikan agar sel telur yang telah dibesarkan tidak pecah di dalam rahim. Diungkapkan Trisna, kala itu dia memiliki 17 sel telur yang siap dibuahi.

"Pada hari ke 13 sel telurnya dipetik dari rahim. Semua itu tanpa bius, yang kualami gitu dan itu rasanya sakit bangetttt. Nama prosesnya itu ovum pick up (OPU) dan setelah itu baru dibawa ke lab, digabungkan dengan sperma suami yang sudah dicuci dan dipilih yang terbaik kualitasnya di lab. Setelah itu dibiarkan sampai berkembang jadi embrio," jelas Trisna menambahkan.

Namun sayangnya, pada perkembangan selanjutnya hanya ada 11 sel telur yang bisa dipetik pada proses OPU. Lalu, tersisa 5 sel telur yang mampu berkembang menjadi embrio. Tak berhenti sampai di situ, karena pada kelanjutannya hanya ada 3 embrio yang berkembang sempurna di laboratorium.

"Cuma tiga yang berkembang sempurna dan dari tiga itu yang ditanam di rahimku. Ternyata ketiganya enggak mau nempel di dinding rahim jadinya gugur alias negatif hamil," ujar Trisna.

Trisna harus menunggu sekitar 2 - 5 hari untuk menjalani embrio transfer (ET), yaitu penanaman embrio di dalam rahim. Proses ET dilakukan secara manual melalui vagina. Kemudian, pasien penerima disarankan untuk istirahat total selama kurang lebih delapan jam.

Tak sembarangan, Bun, karena saat itu Trisna diharuskan tidur dalam kondisi miring dengan kondisi kaki lebih tinggi dibanding kepala. Bahkan, ranjang rumah sakit pun dirancang dengan kondisi miring.

Setelah melewati 8 jam, pasien baru diperbolehkan pulang. Sedangkan hasilnya baru bisa diketahui kurang lebih dua minggu setelah dilaksanakan proses ET. Atau, mendekati jadwal datang bulan berikutnya.

"Langsung tes darah, di situ ketahuan hasilnya positif atau negatif. Hari itu pas keluar ruangan ET, dokternya bilang 'Ibu, ilmu pengetahuan cuma bisa membantu sampai di sini ya, Bu. Selanjutnya itu urusan yang di Atas'. Di situ aku nangis. Emang bener banget kalau manusia itu bisa berusaha dan semua kembali sesuai kehendak-Nya," imbuh Trisna.

Ya, saat itu hasil pemeriksaan negatif, Bun, atau dengan kata lain proses yang dijalani Trisnya gagal. Bicara perkiraan biaya, Trisna dan Ivan menghabiskan dana sekitar Rp46 juta. Namun, ditegaskan olehnya jika biaya program bayi tabung bervariasi tergantung pada setiap pasangan. Hal itu tergantung pada seberapa banyak suntik hormon yang dijalani.

"Kalau inseminasi kisaran biayanya Rp4 - 8 saja karena lebih sederhana prosesnya. Kalau biaya proses OPU - ET itu sama saja semua, kisaran Rp25 juta," ungkap Trisna.

Meskin gagal, namun Trisna tak menyerah begitu saja, Bun. Ke depan, Trisna dan Ivan sedang mempertimbangkan untuk memulai program bayi tabung di Jakarta.


Untuk para Bunda yang juga ingin memulai proses inseminasi atau bayi tabung, Trisna menyarankan untuk mulai menjalankan hidup sehat. Salah satunya menjaga asupan makanan, jangan konsumsi makanan sembarangan ya.

"Persiapannya satu atau dua bulan sebelumnya disarankan benar-benar hidup sehat. Makanan dijaga seperti non MSG atau non pengawet dan olahraga. Nah itu persiapannya aku yang kurang waktu itu," tutupnya.

[Gambas:Video 20detik]

(rap/rdn)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi