sign up SIGN UP search


menyusui

13 Manfaat ASI Eksklusif, Mengurangi Risiko Alergi hingga Kanker

Annisa Afani Rabu, 18 Nov 2020 17:05 WIB
Young mother, holding her baby boy, breastfeeding him in the afternoon in her backyard, relax, zen, paece 13 Manfaat ASI Eksklusif, Mengurangi Risiko Alergi hingga Kanker/Foto: iStock
Jakarta -

Memberikan air susu ibu (ASI) memiliki segudang manfaat yang luar biasa bagi si kecil, Bunda. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif pada bayi selama enam bulan pertama kehidupannya, jika memungkinkan.

Manfaat dari menyusui sendiri sangat banyak, baik untuk bayi maupun sang ibu. Manfaatnya mulai dari kesehatan hingga perkembangan otak anak, Bunda.

"Kejadian pneumonia, pilek, dan virus berkurang pada bayi yang disusui," kata profesor pediatri, dan OB-GYN di Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi Universitas Rochester di Rochester, New York, Ruth A. Lawrence, dikutip dari Parents.


Manfaat ASI

Banyak manfaat yang bisa didapat dari ASI. Mengutip Baby Gaga, berikut manfaat ASI tidak hanya untuk bayi tapi juga ibunya:

1. Mengurangi resiko asma atau alergi

ASI memang menjadi sumber nutrisi super, Bunda. Ini karena ada salah satu kandungannya yang tak dapat ditiru dalam proses laboratorium, di antaranya Immunoglobulin A atau yang dikenal sebagai IgA.

IgA yang ditemukan dalam ASI diyakini menjadi alasan utama mengapa bayi yang mendapat ASI eksklusif tidak mengembangkan, dan mengalami asma atau alergi. Para peneliti mengatakan bahwa IgA juga melindungi usus bayi, sehingga menjaganya dari risiko radang yang menyebabkan sejumlah masalah lainnya seperti alergi.

2. Mempercepat masa pemulihan ibu melahirkan

Waktu pemulihan bagi ibu melahirkan dapat bervariasi tergantung pada jenis persalinan hingga komplikasi persalinan yang mungkin dialami, seperti terjadinya robekan atau menjalani episiotomi. Namun, dengan menyusui bayi secara eksklusif, dapat mempercepat waktu pemulihan. Pendarahannya berhenti dalam waktu singkat serta rahim menyusut kembali seperti ukuran normal.

3. Menurunkan risiko infeksi pernapasan bayi

Infeksi pernapasan seperti bronkitis dan pneumonia, sangat menakutkan pada bayi baru lahir. Namun bagi bayi yang mendapat ASI eksklusif, memiliki tingkat risiko yang jauh lebih rendah untuk mendapat perawatan masalah ini, Bunda.

Selain itu, para peneliti dan dokter juga percaya bahwa bayi yang mendapat ASI eksklusif memiliki risiko 75 persen lebih rendah terkena infeksi pernapasan. Jika bayi mengalami infeksi, biasanya pulih lebih cepat dengan komplikasi yang lebih sedikit.

4. Menurunkan risiko kanker payudara pada ibu

Kanker payudara menjadi satu hal yang ditakuti oleh semua wanita. Namun salah satu cara untuk memberi perlindungan ekstra pada diri dari ancaman ini ialah dengan menyusui bayi secara eksklusif. Diketahui pula, bahwa semakin lama kegiatan menyusui dilakukan, maka semakin besar perlindungan yang dimiliki dari risiko tersebut.

5. Terhindar dari masalah pencernaan

Bayi yang menyusu ASI tak memiliki hubungan terkait masalah pencernaan seperti gastrointestinal, seperti sembelit, penyakit radang usus, penyakit Crohn, dan kolitis ulserativa. Apabila bayi buang air besar hanya seminggu sekali atau lebih, Bunda tidak perlu khawatir karena hal tersebut normal dialami oleh bayi ASI eksklusif.

6. Menjaga berat badan ibu, dan bayi

Menyusui merupakan kegiatan yang dapat membakar kalori, sehingga dapat membantu ibu menghentikan penambahan berat badan jika diiringi dengan pola makan yang sehat. Tak hanya pada ibu menyusui, berat badan sehat bayi pun akan terjaga sehingga mengurangi risiko obesitas di kemudian hari. Ini karena ASI mengandung lebih sedikit insulin, yang merangsang pertumbuhan lemak.

7. Menurunkan risiko infeksi telinga pada bayi

Infeksi telinga pada buah hati dapat terjadi seiring bertambahnya usia. Meskipun tampaknya ini menjadi hal yang umum, namun yang berisiko lebih rendah mengalaminya adalah bayi yang mendapat ASI eksklusif.

Dengan menyusui bayi lebih singkat, maka risiko infeksi di telinga bayi berkurang setengahnya. Namun jika menyusui ASI eksklusif dapat berjalan lebih lama atau setidaknya enam bulan, dan hampir lebih dari setengah risiko tersebut dapat terhindar dari si kecil. 

8. Ekonomis

Harga susu formula cenderung mahal, Bunda. Sedangkan dengan ASI, bayi dapat memperoleh nutrisinya tanpa harus mengeluarkan uang sedikitpun. Meski menyusui ASI juga membutuh biaya untuk membeli beberapa perlengkapan pendukung seperti bra menyusui, bantalan menyusui, hingga pompa ASI, namun biaya tersebut tidak seberapa dibandingkan dengan biaya membeli susu formula.

9. Menurunkan tingkat stres ibu

Depresi pasca-persalinan seperti perasaan sedih, lekas marah, kehilangan nafsu makan, insomnia, merupakan sesuatu yang dikhawatirkan oleh banyak ibu, Bunda. Meski begitu, ternyata ada korelasi antara tingkat depresi postpartum dengan ibu yang tidak menyusui, atau berhenti menyusui sejak dini lho, Bunda.

Dalam penjelasan ilmiahnya, ketika ibu menyusui, maka hormon oksitosin atau yang disebut sebagai hormon bahagia dapat dilepaskan. Oksitosin dapat memberi perasaan rileks, sehingga banyak ibu yang mengaku dapat melepas stres, dan rileks saat sedang menyusui.

10. Mengurangi risiko SIDS

Sindrom Kematian Bayi Mendadak atau SIDS memang menjadi hal yang paling ditakutkan orang tua. Ini biasanya terjadi ketika bayi sedang terlelap dalam tidurnya.

Menyusui bayi secara eksklusif dapat mengurangi risiko SIDS menjadi setengahnya. Karena itu, sangat disarankan untuk menyusui bayi selama mungkin untuk terus mengurangi kemungkinan bayi mengalami hal ini.

11. Berisiko rendah alami alergi gluten

ASI bebas dari kandungan gluten, sehingga akan menurunkan risiko penyakit seliaka pada bayi. Pada dasarnya, apa pun yang dikonsumsi bayi dengan kandungan gluten dapat menyebabkannya mengalami nyeri usus yang tak tertahankan. Beberapa di antaranya seperti kembung, diare, kelelahan, dan lainnya.

12. Mengurangi risiko kanker

Menyusui bayi secara eksklusif juga dapat menurunkan risiko terkena kanker di masa kanak-kanak, Bunda. Para peneliti tidak yakin secara pasti alasan di baliknya, namun mereka setuju bahwa itu ada hubungannya dengan antibodi dalam ASI.

13. Membangun bonding antara ibu, dan bayi

Ikatan antara ibu, dan bayi tidak akan pernah bisa diduplikasi, tetapi dengan menyusui secara eksklusif, maka ikatan, dan kedekatan ini dapat dikembangkan secara alami.

Benarkah ASI dapat mencerdaskan?

Selain manfaat tersebut, banyak yang menyakini bahwa ASI dapat mencerdaskan bayi. Namun ada dua versi penelitian manfaat ASI dapat mencerdaskan bayi. Berikut penjelasannya!

ASI tidak mencerdaskan anak

Studi jangka panjang oleh para peneliti Inggris, yang diterbitkan di PLOS One, anak laki-laki dan perempuan yang diberi ASI tidak lebih baik pada tes IQ daripada anak lainnya yang menyusu formula. Untuk mencapai kesimpulan tersebut, para peneliti kembali meneliti sebanyak 11.582 anak yang lahir pada 1994 dan 1996, dan terus mengikutinya hingga berusia 16 tahun.

Dari seluruh anak yang diteliti, hampir dua per tiganya rata-rata hanya menyusu ASI selama empat bulan, dan sisanya diberi susu formula. Setelah itu, semua anak diikutsertakan menjalani sembilan jenis tes IQ.

Hasil yang mereka peroleh ternyata dapat disesuaikan berdasarkan faktor-faktor seperti status sosial, ekonomi, usia ibu, dan pendidikan orang tuanya. Selain itu, para peneliti pun menemukan bahwa anak laki-laki yang disusui tidak mendapat nilai lebih tinggi pada tes kecerdasan. Sedangkan anak perempuan yang disusui memiliki sedikit peningkatan tetapi tidak signifikan dalam nilai akademiknya.

"Kami melihat beberapa faktor, seperti pendidikan, usia ibu, jumlah stimulasi yang diterima anak di rumah, serta pendapatan keluarga di atas garis kemiskinan. Ketika kami memperhitungkan faktor-faktor ini, keuntungan bagi anak-anak yang mendapat ASI turun menjadi setengah poin IQ atau kurang," tutur Geoff Der, seorang ahli statistik di Unit Ilmu Sosial dan Kesehatan Masyarakat dari Dewan Riset Medis di Glasgow, Skotlandia.

ASI mencerdaskan anak

Sementara ilmuwan lain pun melakukan penelitian yang mendukung ASI dapat mencerdaskan bayi. Salah satunya penelitian yang dilakukan Betty Vohr, profesor pediatri di Brown University dan direktur klinik tindak lanjut neonatal di Rumah Sakit Wanita & Bayi Rhode Island di Providence.

"Banyak penelitian menunjukkan efek menguntungkan dari ASI pada perkembangan mental bayi dengan berat badan normal. Kami memutuskan untuk mempelajari efek pada bayi berisiko tinggi, dan berat lahir sangat rendah. Kami mengikuti 1.035 di antaranya sejak lahir hingga 18 bulan, saat itu kami mempelajari perkembangan mental mereka," ujar Vohr.

Selain itu, dia juga mencatat total asupan serta nutrisi harian bayi selama di rumah sakit, Bunda. Vohr setuju bahwa usia hingga tingkat pendidikan ibu dapat menjadi faktor yang memengaruhi perkembangan mental dan kecerdasan anaknya, ditambah jika anak mengalami komplikasi medis tertentu.

Meski begitu, dia mengatakan bahwa ada peningkatan yang signifikan pada bayi yang menyusu ASI. Untuk setiap bayi yang mengalami kenaikan berat badan hingga 1/3 ons per hari, indeks mental anak meningkat 0,53 poin, yang setara dengan kenaikan setengah poin dalam hitungan IQ.

"Bayi yang menerima ASI paling banyak menunjukkan peningkatan IQ paling banyak, yakni 5,3 poin," ungkapnya.

Sementara pada bayi lahir cukup bulan dengan berat badan normal, atau prematur dengan berat badan sangat rendah, peningkatan jumlah ASI dapat meningkatkan IQ. Menurutnya, manfaat ini kemungkinan berasal dari asam lemak tak jenuh yang ditemukan dalam ASI.

Dari dua hasil penelitian tersebut, efek jangka panjang dari menyusui pada perkembangan kognitif atau kecerdasan anak masih menjadi bahan perdebatan. Karena itu, diperlukan lebih banyak penelitian lain agar mendapat kesimpulan yang pasti.

Kendati demikian, kegiatan menyusui harus tetap berjalan sebagaimana mestinya ya, Bunda. Ini mengingat ASI memberikan banyak manfaat bagi ibu dan buah hati. 

Apa saja yang memengaruhi kecerdasan anak?

Baik itu dari ASI atau susu formula yang dikonsumsi bayi, tetap saja mendapatkan nutrisi yang tepat untuk perkembangan otak anak menjadi hal yang sangat penting, Bunda. Namun selain nutrisi, ada berbagai faktor lain yang dapat berkontribusi dalam penentuan kecerdasan si kecil, lho.

Dikutip dari Very Well Family, berikut beberapa faktor yang dapat memengaruhi kecerdasan anak:

  • Hasil kognitif positif dimulai sejak masa kehamilan.

Ketika seorang ibu mendapatkan perawatan pranatal yang baik hingga tidak merokok atau terlibat dalam perilaku berisiko lainnya, maka ini akan sangat membantu bayi dalam kandungannya memulai awal kehidupan yang baik.

  • Hubungan anak dan orang tua

Selama masa bayi dan kanak-kanak, hubungan antara orang tua dan anak-anak selama tumbuh kembang dapat membuat perbedaan. Pilihan orang tua yang dapat mendorong atau menghambat pembelajaran anak. Misalnya, membacakan buku pada anak setiap malam dapat membantu mengembangkan keterampilan membaca, menulis, dan bahasa anak.

Selain itu, dengan membuat anak terlibat dalam permainan aktif, mendengarkan musik, mendorong kreativitas, dan membiarkan anak bereksplorasi dan menjadi kotor, juga menjadi cara untuk membuka pikiran anak dibanding membiarkannya bermain gadget.

"Di sisi lain, menghabiskan terlalu banyak waktu di depan televisi dapat membatasi pembelajaran kognitif," kata perawat bersertifikat, Donna Murray.

  • Faktor lain

Selain itu, kecerdasan dan kesuksesan akademis seorang anak juga terkait dengan genetika, IQ, tingkat pendidikan, dan pendapatan orang tuanya. Sehingga jangan terlalu memaksakan anak atau menekannya terlalu keras hanya demi memperoleh hasil tes IQ yang lebih tinggi ya, Bunda. Setiap anak berbeda, mereka memiliki kemampuan dan kecerdasannya masing-masing.

Chow Yun Fat dan istri

Bunda, simak juga tips Nadia Mulya yang sukses beri ASI eksklusif sambil kerja dalam video berikut ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi