MOM'S LIFE

Bahagianya Seorang Ibu Saat Melahirkan di Rumah Dibantu Suami

Radian Nyi Sukmasari 22 Jan 2018
Bahagianya Seorang Ibu Saat Melahirkan di Rumah Dibantu Suami/ Foto: Thinkstock Bahagianya Seorang Ibu Saat Melahirkan di Rumah Dibantu Suami/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Setiap ibu umumnya ingin bisa melahirkan secara normal. Nah, ibu yang satu ini akhirnya bisa melahirkan normal di rumah dengan dibantu suaminya, Bun. Rasa bahagia bisa melahirkan di rumah ia bagikan di Facebook.

Adalah ibu bernama Marissa Heckel. Di persalinan pertama, Marissa sempat merasa kesulitan saat melahirkan di RS. Makanya, di kelahiran anak keduanya, Marissa mau nyoba melahirkan di rumah. Apalagi, menurut Marissa dia sempat mendapat pengalaman nggak mengenakkan pas melahirkan di RS.



"Ibaratnya saya sempat di-bully karena nggak mau pakai epidural. Saya selalu diminta mengejan hingga terjadi beberapa robekan dan perlu jahitan," kata Marissa kepada Pop Sugar.

Untuk itu, di persalinan keduanya, Marissa dan suaminya sepakat mencoba melahirkan di rumah. Di halaman Facebook-nya, Marissa menceritakan pengalamannya melahirkan bayi laki-laki berbobot 3,6 kg dengan panjang 55 cm di rumah, dengan hanya dibantu suaminya.

Kata Marissa, suaminya mendukung banget keinginan dia melahirkan normal di rumah. Apa sih alasan Marissa pengen banget mencoba melahirkan normal? Katanya, dia mau membuktikan kalau tubuh wanita dirancang secara alami untuk melahirkan. Nah, selama 36 jam Marissa merasakan kontraksi sampai akhirnya bisa melahirkan. Waktu ini sama dengan persalinan pertamanya.

"Saya memilih meredakan rasa nyeri dengan berdiri bersandar dinding. Saya berusaha mensugesti kalau nyeri Ini cuma sementara. Saat kontraksi besok harinya makin menjadi, suami saya memegang tangan saya. Romantis walaupun saat itu saya menjerit," kata Marissa di halaman Facebook-nya.

Pengalaman Happy Seorang Ibu Saat Melahirkan di Rumah Dibantu SuamiSeorang Ibu Saat Melahirkan di Rumah Dibantu Suami/ Foto: Facebook/marissaheckel


Saat merasa air ketubannya pecah, Marissa duduk di toilet dan suaminya mengawasi progres lahirnya si kecil. Sampai akhirnya suami Marissa melihat kepala si kecil mulai muncul.

"Setelah dia melihat kepala anak kami, dia memastikan saya perlu mengejan sekali lagi. Mungkin bisa saja kalau suami saya tidak fokus kepala bayi saya bisa tergelincir di kloset," kata Marissa.

Memang, melahirkan normal atau caesar merupakan keputusan masing-masing pasangan. dr Boy Abidin SpOG dari RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, menuturkan ada tiga komponen yang menjadi perhatian dokter kandungan saat membantu persalinan seseorang. Tiga komponen itu yakni 3P yaitu passageway, power, dan passenger.




"Passageway adalah jalan lahirnya apakah kondisi panggulnya bagus atau tidak atau jalan lahirnya tertutup tidak dengan plasenta. Artinya kalau jalan lahir tidak bagus atau tidak cukup besar untuk lewatnya bayi maka tidak bisa dengan persalinan normal," tutur dr Boy dilansir detikHealth.

Kalau passenger, terkait kondisi bayi. Kalau ukuran bayinya terlalu besar. Nah, ini juga membuat melahirkan normal nggak bisa dilakukan, Bun. Kata dr Boy bayi yang normal beratnya 2,5 kg - 3,5 kg.

"Diperhatikan pula letak bayi yang melintang atau sungsang, kemudian tidak ada pecah ketubah, atau gawat janin. Jadi hal-hal tersebut yang membuat kita harus menyelamatkan passenger-nya dengan cara operasi caesar," papar dr Boy.

Tapi posisi janin yang sungsang pun tidak serta-merta harus membuatnya dilahirkan dengan caesar. Namun syaratnya, berat si janin tidak lebih dari 3 kg dan juga harus dilihat posisinya. Terkait power, itu adalah kontraksi yang memicu mulai atau kekuatan mulas-mulasnya. Walaupun sudah diberi obat perangsang tapi jalan lahir nggak membuka dengan sempurna, maka perlu dilakukan persalinan caesar. (rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi