moms-life

Risiko Kematian Lebih Tinggi pada Ibu yang Melahirkan di Weekend

Melly Febrida Kamis, 15 Mar 2018 12:01 WIB
Risiko Kematian Lebih Tinggi pada Ibu yang Melahirkan di <i>Weekend</I>
Jakarta - Waktu kelahiran si kecil memang sulit diprediksi ya, Bun. Tapi, akhir pekan alias weekend disebut waktu yang kurang pas bagi ibu hamil untuk melahirkan nih, Bun.

Soalnya, ibu hamil yang cek untuk persiapan persalinan di akhir pekan atau setelah jam 5 sore di hari kerja, dilaporkan risiko meninggal dunia lebih tinggi.

Ini berdasarkan sebuah laporan Kementerian Kesehatan Kenya bahwa ibu hamil yang dilarikan ke rumah sakit untuk persalinan, baik di siang hari dan malam hari terkait kemungkinan nyawanya bisa diselamatkan ketika mengalami keadaan gawat. Menurut Investigasi Confidential Enquiry Into Maternal Deaths di Kenya, 72 persen kematian ibu terjadi selama akhir pekan dan hari kerja setelah jam kerja. Laporan tersebut mengungkapkan 43 persen ibu meninggal setelah pukul 17.00, 29 persen meninggal pada akhir pekan sementara 26 persen pada jam 8 pagi dalam kurun seminggu.



Kalau menurut laporan itu, Bun, perawatan sub-standar pada ibu hamil di rumah sakit pemerintah paling banyak kasus kematian ibu melahirkannya. Untuk penelitian ini, sebanyak 489 dari 945 kematian yang dilaporkan diselidiki, lebih dari 80 persen ibu meninggal sebagai akibat perawatan standar.

Kepala Unit Pelayanan Kesehatan Reproduksi dan Maternal Joel Gondi yang mempresentasikan temuan tersebut mengatakan bahwa penundaan dalam memulai perawatan,
staf yang hadir tidak memenuhi syarat, dan pemantauan yang buruk jadi penyebab utama kematian ibu.

"Empat puluh sembilan persen wanita meninggal karena perawatan sub-standar sementara 32 persen lainnya mendapat perawatan standar namun dengan hasil yang mungkin 88 persen diberi perawatan yang tidak efisien," katanya seperrti dilansir Standard Media.

Setelah dikeluarkannya laporan itu, Kementerian Kesehatan Kenya sudah meminta pemerintah daerah untuk mengevaluasi kualitas layanan di fasilitas rujukan yang mereka tawarkan. Direktur Pelayanan Medis Jackson Kioko mengatakan bahwa kabupaten harus melakukan audit dan mencari tahu mengapa perlakuan dan penundaan perawatan kesehatan yang buruk menyebabkan kematian begitu banyak wanita.

"Petugas Kesehatan Kabupaten harus menyelidiki fasilitas yang tersedia dan mencari tahu siapa yang bertanggung jawab, dan jika seseorang ditemukan bersalah maka tindakan harus dilakukan," katanya.

Laporan tersebut memfokuskan pada standar petugas layanan kesehatan dan tanggung jawab mereka pada tingkat kasus kematian ibu.

"Penyebab yang paling sering diidentifikasi yakni keterlambatan dalam memulai pengobatan menyumbang 33 persen kematian, 28 persen disebabkan oleh keterampilan klinis yang tidak memadai, sementara 27 persen adalah faktor terkait tenaga kerja kesehatan," katanya.


Laporan tersebut juga menemukan, kasus perempuan yang meninggal akibat kelalaian terus dilaporkan, Bun. Beberapa penyebab langsung kematian ibu yang diidentifikasi termasuk perdarahan, sekitar separuh dari semua kematian.

Tekanan darah tinggi juga menyumbang satu dari lima kematian, sementara itu sisanya disebabkan oleh infeksi terkait kehamilan. Hmm, kalau di Indonesia gimana ya?

Jumlah ibu yang meninggal dunia saat berjuang melahirkan buah hatinya di Indonesia, bisa dikatakan sudah mengalami penurunan. Namun demikian, Menteri Kesehatan RI Prof Nila Djuwita F. Moeloek, SpM(K) menegaskan angka ini belum signifikan dan masih butuh banyak pembenahan.

Disampaikan Nila, angka kematian ibu turun dari 4.999 kasus di tahun 2015 menjadi 4912 di tahun 2016 dan di tahun 2017, semester I jumlahnya turun sebanyak 1712 kasus, demikian dikutip dari situs resmi Kementerian Kesehatan. (rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi