mom-life

Dukungan Menteri Yohana untuk Korban Tsunami Selat Sunda

Amelia Sewaka Jumat, 28 Dec 2018 08:01 WIB
Dukungan Menteri Yohana untuk Korban Tsunami Selat Sunda
Jakarta - Indonesia tengah dirundung duka akibat gelombang tsunami yang menghantam pesisir pantai di Selat Sunda, pada Sabtu (22/12/2018) malam. Longsor bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau disinyalir menjadi penyebabnya.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise, Kamis (27/12/2018) pagi, mengunjungi posko GOR Margono, Kecamatan Labuan dan Posko Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, Banten, untuk melihat langsung kondisi para korban pasca bencana tsunami. Yohana didampingi Ibu Gubernur Banten, Niniek Wahidin Halim, meninjau penanganan korban terutama para perempuan dan anak-anak sudah terpenuhi sebagaimana mestinya.

"Saya berdoa agar para korban bencana alam tsunami Selat Sunda, yang terjadi di Banten dan Lampung, yang meninggal dunia dapat diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan agar tetap tabah dan sabar menghadapi cobaan ini," kata Yohana, seperti disampaikan melalui rilis Indonesia Siaga Bencana, Perempuan dan Anak Tanggap Bencana.


Yohana Yembise juga memastikan, meski dalam kondisi pasca bencana, perempuan dan anak harus dapat terpenuhi hak-haknya termasuk hak untuk mendapat perlindungan. Menurutnya, bencana alam ini tidak boleh dijadikan sebuah alasan untuk terus terpuruk dan bersedih.

"Perempuan dan anak korban bencana tsunami harus terus semangat dan bangkit untuk menata kembali kehidupan yang akan datang," ungkap Yohana.




Berdasarkan data yang dihimpun dari Pusat Data Informasi dan Humas BNPB hingga Rabu (26/12/2018), tercatat 430 orang meninggal dunia, 1.495 orang luka-luka, 159 orang hilang, dan 21.991 orang mengungsi. Kementrian PPPA telah memberikan bantuan kepada para pengungsi korban tsunami Selat Sunda, berupa pakaian layak pakai untuk perempuan dan anak, perlengkapan mandi, selimut, pembalut dan popok bayi, susu untuk bayi, ibu hamil dan ibu menyusui, mainan anak serta biskuit.

Pemberian bantuan ini semata-mata agar perempuan dan anak korban tsunami tetap terpenuhi kebutuhan sehari-harinya. Dalam keadaan apapun, perempuan dan anak harus tetap terpenuhi hak-haknya dan mendapatkan perlindungan dari segala bentuk kekerasan, baik kekerasan fisik, psikis, maupun seksual.

"Melihat kondisi Indonesia yang berada pada cincin api pasifik, sudah semestinya membuat kita sadar agar dapat membekali diri terutama perempuan dan anak. Dengan adanya pemahaman tanggap bencana, pengetahuan menghadapi bencana, dan penanganan pasca bencana, proses pemulihan trauma pun bisa berjalan lebih cepat," tambah Yohana.

Yohana juga mengaku sangat senang karena disambut dengan semangat yang kuat dari para pengungsi, terutama para ibu dan anak. Ini bisa dikatakan, mereka sudah cukup kuat dan mampu bangkit dari keterpurukan pasca bencana tsunami yang melanda.




Bicara soal trauma healing pada anak-anak korban bencana alam seperti korban tsunami Selat Sunda itu memang penting banget dilakukan, Bun. Karena bencana alam yang dialami anak ternyata bisa memengaruhi kondisi psikologis anak kelak.

Dikutip dari Kids Health, ada beberapa hal penting yang perlu dilakukan orang tua atau tenaga relawan ketika melakukan trauma healing untuk anak korban bencana alam, yaitu:

1. Bicarakan perasaan anak. Biarkan mereka tahu, rasa takut atau cemas yang mereka rasa itu wajar.
2. Jujur ke anak tentang bencana yang terjadi.
3. Cintai anak dan yakinkan mereka ada dalam posisi aman.
4. Perbanyak aktivitas bareng anak, misal menulis kartu atau menggambar.
5. Berikan tiap anak perhatian yang khusus.
6. Tawarkan kenyamanan saat anak mulai tertekan. (aml/muf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi