Sign Up search


moms-life

Tangisan Madame Dewi Saat Soekarno Menderita di Detik-detik Jelang Meninggal

Muhayati Faridatun Jumat, 27 Mar 2020 15:51 WIB
Tangisan Madame Dewi Saat Soekarno Menderita di Detik-detik Jelang Meninggal Soekarno dan istri ke-6, Ratna Sari Dewi/ Foto: Instagram
Jakarta - Detik-detik saat Soekarno mengembuskan napas terakhir, masih lekat dalam ingatan sang istri, Ratna Sari Dewi. Wanita asal Jepang itu pun tak kuasa menahan tetesan air mata.

Bukan hal mudah bagi Dewi untuk menemui Soekarno, saat Presiden ke-1 Republik Indonesia (RI) itu menjadi tahanan rumah di Wisma Yaso, Jakarta. Dari Paris, ia nekat terbang ke Jakarta untuk melihat kondisi sang suami.


Namun saat di Bangkok, ia dilarang melanjutkan perjalanan ke Indonesia. Dewi bercerita, Duta Besar di sana saat itu tidak memberikan alasan apapun dan hanya bilang, ia tidak boleh menemui Soekarno di Wisma Yaso.


Sama halnya saat di Singapura, Dewi mendapat larangan dari Duta Besar di sana. "Dia mengatakan: Ibu, Anda tidak diizinkan datang ke Jakarta'. Saya bilang, maaf," ungkap wanita yang biasa disapa Madame Dewi ini, dikutip dari YouTube channel CNN Indonesia, Jumat (27/3/2020).

Ya, ketika itu pada 1970, dari Wisma Yaso, Soekarno dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto. Dewi lalu menceritakan kondisi rumah tahanan Soekarno saat itu.

"Sebelum beliau dibawa ke rumah sakit, saya melihat tempat tidurnya kotor, seprainya tidak pernah dicuci," kenangnya.

Ia kemudian ke ruang ganti, katanya, di sana ada dua buah keranjang untuk perangkap tikus. Wanita kelahiran Tokyo, 80 tahun silam ini juga melihat alat cukur yang sudah karatan di toilet. Ada juga beberapa perlengkapan medis, yang menurutnya tidak pernah digunakan.

Soekarno dan istri ke-6, Ratna Sari DewiSoekarno dan istri ke-6, Ratna Sari Dewi/ Foto: instagram
Seorang pelayan yang pernah bekerja untuknya di Wisma Yaso itu, lalu mengatakan tentang kondisi Soekarno sebelum dibawa ke rumah sakit. Madame Dewi lalu menceritakan, Soekarno dibawa menggunakan tandu.

"Dia berkata: 'Ibu, saat Bapak masuk rumah sakit, beliau masih sangat sehat, beliau diangkut menggunakan tandu'. Beliau berusaha keras untuk berdiri. 'Saya tidak mau ke rumah sakit. Saya ingin menunggu Ibu Dewi di sini'," ungkap istri keenam Soekarno ini.

Madame Dewi meyakini, saat itu Soekarno tidak benar-benar sakit. Ia juga mengatakan kalau sang suami berteriak menolak dibawa ke rumah sakit.


Bapak menderita

Setibanya di rumah sakit, Madame Dewi melihat Soekarno dalam keadaan mulut terbuka lebar, selama berjam-jam. Ia pun menganggap kondisi itu sangat janggal, lalu memutuskan bertanya pada temannya yang seorang dokter.

"Saya melihat detik-detik terakhir sebelum beliau meninggal, bagaimana beliau menderita. Dan saya menjelaskan situasi saat itu, menurutnya, Bapak diberi terlalu banyak obat tidur," ungkap Madame Dewi.

Hingga akhirnya, Soekarno mengembuskan napas terakhir di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, pada 21 Juni 1970. Ketika itu, Madame Dewi pun tak kuasa menahan tangisnya. Ia kemudian berusaha mencari tahu kondisi Soekarno sebenarnya.

"Saya menangis, saya ingin menemui lima dokter yang merawatnya, namun saya tidak bisa menemui mereka. Ini tidak adil, saya memaksa kemudian tiga dari lima dokter itu akhirnya datang," ucap ibunda Karina Kartika Sari Dewi Soekarno ini.

"Dan saya bertanya tentang kondisi sebenarnya. Kemudian salah satu dokter mengatakan, 'Mohon maaf Ibu, saya tidak bisa mengatakan apapun.'"

Dikutip dari Wikipedia, jenazah Soekarno dipindahkan dari RSPAD Gatot Subroto ke Wisma Yaso. Sang Proklamator lalu dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, pada 22 Juni 1970. Pemerintah pun menetapkan masa berkabung selama tujuh hari.


Bunda, simak juga curahan hati Juliana Moechtar tentang hal paling dirindu dari almarhum suami, Herman 'Seventeen'. Di video Intimate Interview berikut:

[Gambas:Video Haibunda]




(muf/muf)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi