sign up SIGN UP search


moms-life

Penyakit Autoimun, Begini Gejala hingga Pengobatannya

Annisa Afani   |   Haibunda Rabu, 06 May 2020 05:40 WIB
Drugs and syringe for autoimmune disease treatment caption
Jakarta - Autoimun adalah sebuah penyakit atau suatu kondisi di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru malah menyerang tubuh. Biasanya, sistem kekebalan ini berfungsi untuk menjaga tubuh terhadap kuman seperti bakteri dan virus.

Biasanya, sistem kekebalan dapat membedakan sel asing dan sel sendiri. Namun pada penyakit autoimun, sistem kekebalan bagian tubuh justru melepaskan protein yang disebut autoantibodi, lalu menyerang sel-sel sehat.


Beberapa penyakit autoimun hanya menargetkan satu organ. Misalnya, diabetes tipe 1 yang merusak pankreas atau systemic lupus erythematosus (SLE), yang dapat mempengaruhi seluruh tubuh.


Mengapa sistem imun malah menyerang tubuh?

Dokter tak tahu persis apa yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menjadi terganggu. Namun beberapa orang lebih mungkin mengidap penyakit autoimun dibanding yang lain.

Dilansir dari HealthLine, menurut sebuah studi pada 2014, wanita berpeluang mengidap penyakit autoimun sebesar 6,4 persen dibandingkan dengan pria 2,7 persen. Penyakit ini seringkali muncul beberapa tahun setelah wanita melakukan persalinan dalam rentang usia 15-44 tahun.

Ternyata, beberapa penyakit autoimun lebih sering terjadi pada kelompok etnis tertentu. Misalnya lupus, mempengaruhi lebih banyak orang Afrika-Amerika dan Hispanik dibanding Kaukasia.

Penyakit autoimun tertentu, seperti multiple sclerosis dan lupus, bisa menular dalam keluarga. Memang tidak setiap anggota keluarga memiliki penyakit yang sama, akan tetapi mereka akan mewarisi kerentanan terhadap kondisi autoimun.

Dengan meningkatnya kasus penyakit ini, para peneliti menduga faktor lingkungan seperti infeksi dan paparan bahan kimia atau pelarut juga mungkin menjadi penyebabnya.

Makan makanan tinggi lemak, tinggi gula, dan olahan dianggap terkait dengan peradangan, yang berpotensi faktor risiko lain yang dicurigai mengembangkan penyakit autoimun. Namun ini belum terbukti.

Dalam sebuah studi tahun 2015, berfokus pada teori lain yang disebut hipotesis kebersihan menyebutkan, karena vaksin dan antiseptik, anak-anak sekarang tidak terpapar kuman sebanyak di masa lalu. Kurangnya paparan bisa membuat sistem kekebalan tubuh mereka cenderung bereaksi berlebihan terhadap zat-zat yang tidak berbahaya.

7 penyakit yang disebabkan autoimun

Terdapat banyak penyakit yang dapat disebabkan oleh autoimun. Namun, HaiBunda telah merangkum beberapa penyakit yang paling umum:

1. Diabetes tipe 1

Pankreas menghasilkan hormon insulin, yang membantu mengatur kadar gula darah dalam tubuh. Pada diabetes millitus tipe 1, sistem kekebalan menyerang dan menghancurkan sel-sel yang memproduksi insulin di pankreas.

Seperti yang diketahui, gula darah yang tinggi tidak baik bagi kesehatan. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah, serta organ-organ seperti jantung, ginjal, mata, dan saraf

2. Penyakit addison

Penyakit addison memengaruhi kelenjar adrenal, yang menghasilkan hormon kortisol dan aldosteron serta hormon androgen. Terlalu sedikit kortisol dapat memengaruhi cara tubuh menggunakan dan menyimpan karbohidrat dan gula (glukosa).

Kekurangan aldosteron akan menyebabkan hilangnya natrium dan kelebihan kalium dalam aliran darah. Gejalanya meliputi kelemahan, kelelahan, penurunan berat badan, dan gula darah rendah.

3. Penyakit seliaka

Orang dengan penyakit ini biasanya tidak bisa makan makanan yang mengandung gluten, protein dalam gandum, dan produk biji-bijian. Ketika gluten berada di usus kecil, sistem kekebalan menyerang bagian saluran pencernaan dan menyebabkan peradangan.

Studi pada 2015 mencatat bahwa penyakit seliaka memengaruhi sekitar 1 persen orang di Amerika Serikat. Sejumlah besar orang telah melaporkan sensitivitas gluten, yang bukan penyakit autoimun, tetapi dapat memiliki gejala yang sama seperti diare dan sakit perut.

4. Anemia pernisiosa

Kondisi ini menyebabkan kekurangan protein dalam lambung. Protein disebut sebagai faktor intrinsik yang diperlukan agar usus kecil menyerap vitamin B12 dari makanan. Jika tubuh kekurangan vitamin ini, maka akan mengalami anemia, dan kemampuan tubuh untuk sintesis DNA yang tepat akan diubah.

{SEO} Penyakit Autoimun, Begini Gejala hingga PengobatannyaIlustrasi mengalami anemia/Foto: istock

Anemia pernisiosa lebih sering terjadi pada orang dewasa atau yang lebih tua. Menurut sebuah studi 2012, penyakit ini memengaruhi 0,1 persen orang pada umumnya, tetapi hampir 2 persen orang di atas usia 60.

5. Vaskulitis autoimun

Vaskulitis autoimun terjadi ketika sistem kekebalan menyerang pembuluh darah. Peradangan yang terjadi mempersempit pembuluh darah dan arteri, sehingga darah yang mengalir melaluinya menjadi lebih sedikit.

6. Penyakit Grave

Penyakit ini menyerang kelenjar tiroid di leher, dan menyebabkan terlalu banyak produksi hormon tiroid. Hormon ini berfungsi untuk mengendalikan penggunaan energi dari dalam tubuh, yang dikenal sebagai metabolisme.

Memiliki terlalu banyak hormon ini meningkatkan aktivitas tubuh, dan menyebabkan gejala seperti gugup, detak jantung yang cepat, intoleransi panas, dan penurunan berat badan.

7. Systematic lupus eryhematosus (SLE)

Pada tahun 1800-an, dokter pertama kali menggambarkan lupus sebagai penyakit kulit. Hal ini karena ruam yang biasa timbul berbentuk sistemik. Namun sebenarnya juga memengaruhi banyak organ, termasuk persendian, ginjal, otak, dan jantung.

Gejala penyakit autoimun

Gejala awal dari banyaknya penyakit autoimun sangat mirip, meskipun terkadang datang dan pergi seiring waktu, yakni:

1. Kelelahan
2. Otot pegal
3. Bengkak dan kemerahan
4. Demam ringan
5. Sulit berkonsentrasi
6. Mati rasa dan kesemutan di tangan dan kaki
7. Rambut rontok
8. Ruam pada kulit

Bagaimana cara mengobati penyakit autoimun?

Sayangnya, autoimun tidak dapat disembuhkan dengan perawatan, namun hanya dapat mengontrol respons imun yang terlalu aktif.

Pengobatan utama untuk penyakit autoimun adalah dengan obat-obatan yang menurunkan peradangan dan menenangkan respons imun yang terlalu aktif. Obat-obatan yang dapat membantu meringankan gejala, di antaranya:

1. Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti ibuprofen (Motrin, Advil) dan naproxen (Naprosyn)
2. Obat penekan kekebalan tubuh
3. Perawatan untuk meredakan gejala seperti nyeri, bengkak, kelelahan, dan ruam kulit.


Selain itu, menjaga pola hidup hidup sehat dengan makan makanan yang seimbang serta berolahraga secara teratur juga dapat membantu agar tubuh merasa lebih baik.

Simak juga manfaat daging sapi bagi kesehatan tubuh dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi
Bunda sedang hamil, program hamil, atau memiliki anak? Cerita ke Bubun di Aplikasi HaiBunda, yuk!