Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Perbandingan Gejala Omicron dan Deltacron, Mana yang Paling Berat?

Mutiara Putri   |   HaiBunda

Kamis, 17 Mar 2022 09:35 WIB

Young woman suffering from cold
Ilustrasi Sakit Tenggorokan/Foto: iStock

Akhir-akhir ini Indonesia digemparkan dengan isu adanya mutasi varian baru yang dinamakan Deltacron. Deltacron sendiri merupakan varian COVID-19 yang terdiri dari elemen Delta dan Omicron.

Profesor Zubairi Djoerban, selaku Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menjelaskan Deltacron pada laman Twitter-nya. Ia mengungkapkan bahwa varian ini mengandung gen dari varian Delta dan Omicron sehingga membuatnya menjadi virus rekombinan.

Tak hanya itu, Zubairi juga menjelaskan alasan seseorang bisa terkena varian Deltacron ini, Bunda. Menurutnya, ketika seseorang terinfeksi dua varian Delta dan Omicron, sel mereka akan bereplikasi secara bersamaan.

Meski telah tersebar di Amerika Serikat, Prancis, Denmark, Inggris, dan Belanda, Zubairi belum bisa memastikan apakah varian Deltacron lebih mematikan dari varian Omicron, Bunda.

"Mungkin sekali tidak berbahaya ketimbang varian Omicron. Belum bisa dipastikan karena jumlah kasusnya masih amat sedikit," tulisnya dilihat dari akun @ProfesorZubairi, Rabu (16/3/2022).

"Indonesia harus khawatir? Hanya sedikit data yang dapat digunakan untuk mengukur khawatir atau tidak. Namun, sejumlah ahli mengatakan bahwa varian ini harus diawasi," sambungnya kemudian.

Banner Hidup Indra Kenz

Dokter Sonam Solanki, seorang konsultan pulmonologist dan bronchoscopist dari Rumah Sakit Masina, mengungkapkan bahwa gejala Omicron yang paling umum terjadi di awal-awal adalah nyeri badan disertai dengan kelelahan dan sakit kepala.

Seiring dengan berjalannya waktu, gejala-gejala lainnya akan bermunculan, Bunda.

"Gejala-gejala Omicron umumnya dimulai dengan sakit badan, kelemahan umum, kelelahan, sakit kepala dan demam pada hari-hari awal. Kemudian gejala tersebut mungkin berkembang, kadang-kadang kering disertai pilek seperti hidung berair, bersin, dan lain-lain," ujarnya.

Biasanya, pasien yang terkena Omicron dan mengalami gejala batuk akan hilang dalam beberapa hari. Sedangkan pasien yang terkena demam akan turun dalam waktu tiga hari.

"Batuk biasanya kering yang sembuh dalam beberapa hari ke depan. Sebagian besar waktu yaitu 80 persen pasien, demam sembuh selama tiga hari pertama. Jika tidak, maka itu menjadi tanda infeksi sedang hingga berat yang memerlukan pemantauan ketat," tutur dr Sonam.

Sebagai pembanding, Bunda juga perlu tahu apa saja gejala yang umum dirasakan oleh pasien COVID-19 varian Deltacron. Simak di laman berikutnya yuk, Bunda.

Simak juga video bahan alami pereda sakit tenggorokan berikut ini:

[Gambas:Video Haibunda]




GEJALA COVID-19 VARIAN DELTACRON

Ilustrasi Demam Covid

Ilustrasi Demam/Foto: iStock

Beberapa peneliti telah menemukan varian baru virus COVID-19 yang disebut dengan Deltacron, Bunda. Kabar ini tentu membuat masyarakat khawatir akan adanya gelombang COVID-19 berikutnya.

Meski begitu, Profesor Zubairi mengatakan kalau ada kemungkinan varian Deltacron ini tidak semematikan varian Omicron, Bunda. Lantas, seperti apa gejalanya?

Juru bicara Satgas COVID-19, dr. Reisa Broto Asmoro, mengungkapkan kalau gejala yang timbul pada varian Deltacron tidak berbeda dengan varian sebelumnya.

"Jadi gejalanya sama-sama seperti SARS-CoV-2. Gejalanya sama-sama menyerang tubuh kita," katanya dikutip detikcom.

Dijelaskan oleh Rrisa, mereka yang terkena Deltacron umumnya merasakan gejala batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan demam, Bunda. Gejala ini pun menyerupai flu sehingga perlu dilakukan antigen sesegera mungkin.

Lebih lanjut, Reisa mengungkapkan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih terus melakukan pemantauan tentang perkembangan virus Deltacron ini.

"Kalau Delta lebih banyak menyerang bagian saluran pernapasan bawah, kalau Omicron banyak menyerang saluran pernapasan atas. Hati-hati kalau sampai terinfeksi karena WHO juga terus memantau," imbuhnya.


(mua/som)
Loading...

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

ADVERTISEMENT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda