moms-life
5 Hal yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Resign Agar Keuangan Tak Berantakan
HaiBunda
Jumat, 09 Jan 2026 17:10 WIB
Daftar Isi
Bunda berencana resign? Persiapkan beberapa hal sebelum resign agar keuangan tidak berantakan.
Fenomena resign massal atau yang kerap disebut Great Resignation menjadi sorotan di berbagai negara dalam beberapa tahun terakhir. Jutaan pekerja memilih meninggalkan pekerjaannya, sementara tak sedikit lainnya masih mempertimbangkan langkah serupa.
Keputusan ini umumnya dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari keinginan memperbaiki keseimbangan hidup dan kerja, kekecewaan terhadap kebijakan perusahaan selama pandemi, hingga kebutuhan akan fleksibilitas kerja yang lebih besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di balik keberanian mengambil keputusan resign, ada satu aspek penting yang kerap luput dari perhatian, yakni kesiapan keuangan. Resign bisa memicu guncangan finansial yang signifikan.
Pendapatan terhenti, sementara pengeluaran rutin tetap berjalan seperti biasa. Para pakar keuangan menekankan bahwa resign seharusnya bukan keputusan impulsif.
Persiapan yang matang, khususnya dari sisi keuangan, menjadi kunci agar masa transisi karier tidak berubah menjadi sumber stres baru.Â
Hal yang perlu dipersiapkan sebelum resign
Berikut deretan hal penting yang perlu dipersiapkan sebelum resign agar kondisi keuangan tetap terkendali.
1. Punya dana darurat yang cukup
Langkah pertama dan paling krusial sebelum mengajukan surat pengunduran diri adalah memastikan dana darurat dalam kondisi aman. Dana ini berfungsi sebagai bantalan keuangan ketika pemasukan terhenti, baik selama satu bulan, dua bulan, bahkan lebih lama dari yang diperkirakan.
Mengutip Independent, dana darurat idealnya setara dengan enam bulan pengeluaran rutin. Jika masih memiliki waktu sebelum resign, fokuslah menambah tabungan dan menahan pengeluaran yang tidak mendesak.
Dana darurat inilah yang akan memberi rasa aman saat mencari peluang baru atau beradaptasi dengan jalur karier yang berbeda.
2. Kelola utang sebelum resign
Selain dana darurat, kondisi utang juga perlu menjadi perhatian utama. Melunasi atau setidaknya mengurangi beban utang sebelum resign bisa membuat keuangan jauh lebih ringan saat pemasukan tidak menentu.
Bebas dari utang mengurangi tekanan untuk segera mendapatkan penghasilan pengganti dalam jumlah yang sama. Ini memberi Bunda ruang untuk mengambil risiko dan percaya pada diri sendiri.
Utang cicilan kartu kredit, pinjaman konsumtif, atau cicilan dengan bunga tinggi sebaiknya diprioritaskan untuk dilunasi. Dengan struktur keuangan yang lebih sederhana, pengelolaan uang selama masa transisi pun menjadi lebih terkendali.
3. Menyusun anggaran minimal (Bare-bones budget)
Sebelum resign, penting untuk mengetahui dengan pasti berapa biaya minimum yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Inilah yang disebut anggaran minimal atau bare-bones budget, yaitu anggaran yang hanya mencakup kebutuhan paling esensial. Bunda disarankan agar membuat anggaran sehemat mungkin.
Angka pondasi adalah jumlah pengeluaran wajib yang harus dibayar setiap bulan, seperti sewa rumah atau cicilan KPR, cicilan kendaraan, pembayaran minimum kartu kredit, serta kebutuhan pokok seperti bahan makanan. Begitu mengetahui angka ini, Bunda tahu persis berapa pendapatan minimum yang dibutuhkan untuk bertahan setiap bulan.
Dalam fase ini, Bunda juga disarankan untuk meninjau ulang investasi. Jika diperlukan, hentikan sementara investasi bisa menjadi pilihan realistis agar arus kas tetap aman hingga pekerjaan baru diperoleh.
4. Rutin evaluasi pengeluaran secara berkala
Menyusun anggaran saja tidak cukup jika tak diikuti dengan evaluasi rutin. Justru setelah resign, kebiasaan memantau pengeluaran perlu dilakukan secara lebih disiplin. Bunda disarankan meluangkan waktu secara konsisten untuk meninjau kondisi keuangan.
Dengan evaluasi rutin, pengeluaran yang tidak disadari bisa segera dikoreksi. Cara ini juga membantu menjaga fokus terhadap tujuan keuangan jangka pendek, yakni bertahan dengan kondisi keuangan yang sehat selama masa transisi kerja.
5. Perhatikan dana pensiun, tunjangan, dan asuransi
Hal lain yang kerap terlewat saat resign adalah urusan dana pensiun dan berbagai tunjangan dari perusahaan. Perlu diketahui bahwa tidak semua hak Bunda otomatis ikut berpindah saat keluar dari perusahaan.
Tak kalah penting, riset opsi asuransi juga harus dilakukan sejak awal. Asuransi kesehatan, jiwa, dan disabilitas yang sebelumnya ditanggung perusahaan mungkin perlu diganti dengan polis mandiri. Dengan mengetahui estimasi biayanya sejak awal akan mencegah pengeluaran tak terduga membebani keuangan.
Dengan persiapan yang matang, keputusan resign tidak harus berujung pada kekacauan keuangan. Sebaliknya, resign bisa menjadi awal perjalanan baru yang lebih sehat, baik secara profesional maupun finansial.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
Mengenal Istilah Loud Quitting di Dunia Kerja, Pengertian dan Alasan Mengapa Itu Terjadi
Mom's Life
10 Tips Bekerja Sambil Urus Anak yang Minim Stres, Dicoba ya Bun
Mom's Life
5 Skill Ibu Rumah Tangga yang Patut Dipamerkan saat Bunda Wawancara Kerja
Mom's Life
5 Tips yang Perlu Dipertimbangkan Wanita Karier Sebelum Berencana Resign
Mom's Life
Studi: Benci dengan Pekerjaan Diam-diam Merusak Kesehatan
5 Foto
Mom's Life
5 Potret Anak Artis Tinggal di Luar Negeri di Usia Muda, Ada yang Berkarier di AS
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
10 Jurusan Kuliah yang Nilainya Sudah Menurun di Pasar Kerja Menurut Harvard
11 Skill Ibu Rumah Tangga yang Bisa Bunda Cantumkan di CV
Program Work From Mall Mulai Diterapkan 2026, Apa Itu?