HaiBunda

PARENTING

Adakah Efeknya Kalau Orang Tua Sering 'Curhat' ke Bayinya?

Radian Nyi Sukmasari   |   HaiBunda

Jumat, 15 Sep 2017 13:02 WIB
Adakah Efeknya Kalau Orang Tua Sering 'Curhat' ke Bayinya? / Foto: HaiBunda
Jakarta - Cuma berdua sama si kecil yang masih bayi di rumah. Kebetulan lagi ada masalah dan nggak sengaja, kita pun para bunda curhat alias mencurahkan perasaan kita ketika mengalami masalah ke si kecil. Memang, anak masih bayi. Tapi, ada nggak ya efeknya kalau mereka sering kita ajak curhat?

Bunda perlu tahu nih, anak-anak terutama yang masih bayi baru bisa menangkap emosi. Sebelum usia 2 tahun pun, anak nggak ngerti sebab akibat. Makanya, ketika dia mainan stop kontak misalnya, bayi nggak ngeh kalau itu bahaya buat dia. Baru, saat kita teriak dan berkata jangan, dengan intonasi dan ekspresi berbeda, bayi ngeh kalau hal itu nggak boleh dia lakukan.

Kata psikolog anak dari Tiga Generasi, Anastasia Satriyo M.Psi., Psikolog atau biasa dipanggil Anas, kalau mau curhat ke bayi lebih baik kayak ngobrol gitu, Bun. Soalnya, kalau kita, sebagai orang tua benar-benar curhat ke anak, dalam kajian psikologi bisa terjadi yang namanya parentification.


"Ibaratnya di rumah cuma punya anak, lagi ada masalah sama suami kita menganggap dia kayak anak yang udah besar. Padahal, kemampuan bayi untuk mengerti masih susah. Kemampuan bayi masih konkret, simpel," kata Anas waktu ngobrol sama HaiBunda.

Baca juga: Sudahkah Kita Mengenal Temperamen si Kecil?

Kalau terjadi parentification, kata Anas si kecil bisa merasa bersalah Bun. Ada perasaan 'Oh gara-gara aku ya bunda sama ayah jadi begini'. Apalagi ke bayi, Bun. Mereka baru bisa menangkap emosi. Ketika kita curhat, dalam artian sebenarnya sampai kita menumpahkan segala emosi ke mereka, bayi juga bisa menangkap energi negatif yang kita miliki.

Makanya, Anas menekankan penting banget nih buat ibu-ibu menjaga kesehatan mental dengan punya teman berbagi. Termasuk saat ada masalah, para bunda bisa curhat ke teman atau komunitasnya. Terlebih, dengan majunya teknologi, sharing bisa lebih mudah dilakukan kan?

Tapi, bukan berarti kita nggak boleh ngobrol sama anak kok. Misalnya Bunda mau cerita kalau tadi di kantor ada teman yang menyebalkan. Boleh aja, tapi nggak perlu sampai meluap-luap amarahnya dan nangis kesal gitu, Bun. Jadi, kita olah dulu emosi, sehingga saat cerita ke bayi emosinya sudah lebih netral.

"Jadi kayak cerita aja. Bayi itu cukup peka sama emosi kita. Ya, walaupun mereka belum ngerti apa yang kita omongin, tapi dia bisa menangkap emosi kita. Apalagi kalau anak tipe yang peka, dia tahu orang yang dia sayang lagi ada beban berat nih," tutur Anas yang juga praktik di Petak Pintar, Mampang Prapatan ini.

Baca juga: Kebahagiaan Bayi 3 Bulan Saat Dengar Suara Ibunya Pertama Kali

(rdn)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Kasus Virus Parainfluenza Naik di China, Ini Gejala yang Banyak Dialami Anak

Parenting Natasha Ardiah

5 Gaya OOTD Alea Anak Anissa Aziza & Raditya Dika, Outfitnya Selalu Kece

Parenting Nadhifa Fitrina

Kisah Bunda Terkena Kanker Usus Besar Stadium 4, Gejala Muncul saat Hamil 8 Bulan

Kehamilan Annisa Karnesyia

Career Lily Pad, Tren Berpindah Tempat Kerja yang Populer di Kalangan Gen Z

Mom's Life Arina Yulistara

Intip Potret Tebaru Acha Septriasa yang Jalani Hidup Sehat di Australia

Mom's Life Nadhifa Fitrina

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Kasus Virus Parainfluenza Naik di China, Ini Gejala yang Banyak Dialami Anak

5 Gaya OOTD Alea Anak Anissa Aziza & Raditya Dika, Outfitnya Selalu Kece

Career Lily Pad, Tren Berpindah Tempat Kerja yang Populer di Kalangan Gen Z

Alergi pada Anak yang Tidak Tertangani Bisa Menyebabkan Masalah Gigi

Kisah Bunda Terkena Kanker Usus Besar Stadium 4, Gejala Muncul saat Hamil 8 Bulan

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK