parenting

Rumus 'Cinta' yang Bisa Diterapkan dalam Mengasuh Anak

Amelia Sewaka Sabtu, 30 Dec 2017 12:05 WIB
Rumus 'Cinta' yang Bisa Diterapkan dalam Mengasuh Anak
Jakarta - Memang nggak ada rumus pasti mengasuh anak harus seperti apa. Soalnya pola asuh yang diterapkan tergantung keputusan masing-masing orang tua dan karakter anak kita juga, Bun. Tapi, nggak ada salahnya juga kita meng-upgrade pola asuh buat si kecil seiring perkembangan zaman.

Nah, muncul dari pengalamannya sebagai sebagai ibu dan pendidik, Najeela Shihab punya rumus 'Cinta' yang bisa kite terapkan sebagai bentuk pola asuh untuk anak-anak.

"Sebelum anak lahir pun orang tua udah punya cinta, karena modal cintanya udah ada kita bisa kok mencintai anak dengan lebih baik," papar wanita yang akrab disapa Ela ini. Hmm, tapi kenapa ya masih ada orang tua yang memperlakukan sang anak dengan kurang tepat?


Menanggapi hal ini, Ela bilang cinta bisa jadi alasan orang tua melakukan sesuatu untuk anaknya tapi sayangnya, cinta tersebut bukan untuk yang lebih baik tapi justru merugikan.

"Keluarga adalah pendidik utama dan pertama dan kita mau anak jadi mandiri, bahagia dan cerdas. Karena kita mau jadi keluarga yang belajar dan berdaya," tutur pendiri keluargakita dan inibudi.

Karena itu menentukan pola asuh yang akan kita terapkan untuk anak penting banget, Bun. Sejak anak lahir, kita sudah menerapkan pola asuh tersebut yang pastinya berdampak sampai anak besar nanti. Makanya, Ela bilang nggak sedikit orang tua berpikir pola asuh untuk anak hanya untuk hari ini aja padahal itu berdampak pada jangka panjang kan?

Ela menambahkan, tugas utama orang tua adalah memahami perkembangan anaknya. Nah, yang perlu kita ingat, tahap perkembangan anak berbeda sehingga penting banget kita menentukan apakah perkembangan anak wajar atau nggak. Rumus 'Cinta' ini bisa lho kita terapkan dalam mengasuh anak. Yuk simak, Bun.

1. (C)ari Cara

Menurut Ela, kebanyakan orang tua hanya tahu bagaimana cara memberikan kasih sayangnya secara fisik aja namun secara sosial emosi atau stimulan dan kognitif, pengetahuannya masih minim.

"Maka itu ada anak usia di bawah satu tahu lalu dia lengket dengan pengasuhnya sangat wajar dan kita orang tua harus bersyukur karena itu berarti anak kita punya person attachmenent. Sebenarnya kalau kita tahu tahap perkembangan anak kita paham kok," papar Ela.

2. (I)ngat Impian Tinggi

Kita perlu menanamkan dalam pikiran dan percaya kalau anak bisa, Bun, termasuk dalam mencapai sesuatu yang baik.

"Kalau anak bandel, cari perhatian ya itu karena anak membutuhkannya. Kalau anak lompat-lompat terus misalnya ya itu karena emang usianya. Anak butuh dipercaya terlebih dulu baru mereka bisa membuktikan bahwa ya mereka bisa," tutur ibu tiga anak ini.

Menurut Ela, kalau kita mau mencintai anak lebih baik, kita juga harus memberi mereka yang lebih baik. Sayangnya, kesulitan yang kerap dihadapi orang tua adalah membangun komunikasi yang efektif sama anak.

Tujuan semua orang tua sama kok, Bun, untuk melindungi anak-anaknya, namun memang caranya yang berbeda-beda.

3. (N)erima Tanpa Drama

Dalam kasus ini, Ela ngasih contoh berdasar pengalamannya. Jadi, anak peryama Ela ikut les renang dan suatu hari, Ela datang ke tempat les tapi anaknya malah nggak ada, Bun.

"Untuk yang 'detektif' Mami pasti langsung deh berpikir, wah anak gue ke mana? wah harus dibilangin nih, dan sebagainya," tutur Ela.

Namun, akan lebih baik kalau orang tua jujur aja sama keadaan yang didapat. Nggak perlu drama dan pura-pura bertanya gimana renangnya, siapa aja tadi yang datang dan sebagainya. Bunda tahu yang Ela lakukan? Ia berkata, 'Kak, aku nggak lihat kamu tadi di kolam, kamu ke mana?'. Dan ajaibnya, sang anak menjawab jujur.

Ela mengatakan, cara komunikasi orang tua ke anak akan menentukan kepercayaan atau kecurigaan yang orang tua berikan ke anak.

4. (T)idak Takut Salah

Semua kesalahan dan kesempatan itu pasti ada. Maka dari itu kenapa semua orang tua tetap masih harus belajar.

"Rewarding parenting adalah ketika kita buat kesalahan, kita masih dapat kesempatan lagi dan lagi. Salah iya namun kita masih diberi kesempatan untuk belajar menjadi orang tua yang lebih baik," papar Ela.

Begitu juga dengan anak, biarkan mereka belajar dari kesalahannya. Ela memberi contoh kasus sederhana dari anak perempuannya. Ketika itu anak ketiganya tidak memakai sepatu karena tertinggal di mobil. Si anak pun menghubungi Ela untuk minta dikirimkan sepatunya namun keadaannya Ela saat itu sedang rapat.

Alhasil Ela tidak mengirimkan sepatunya dan anaknya pun ngambek. Namun, pada akhirnya si anak sadar bahwa ia lalai atas kesalahannya sendiri dan minta maaf pada Ela.

"Jika anak tidak diberi konsekuensi maka akan terus melakukan kesalahan tersebut. Selama menurut anak bukan masalah, dia nggak akan ada motivasi untuk benerin masalahnya," tutur Ela.

Jadi kata Ela, biarkan anak menyelesaikan masalahnya sendiri ya, Bun.

5. (A)syik Main Bersama

Bermain itu bagian pentingnya suatu hubungan. Terus, banyak banget kok, Bun, yang bisa kita jelajah bareng anak dengan bermain bersama. Cara main sama anak antara lain kayak gini, Bun:

a. Kritis. Contohnya kita membandingkan buku dinosaurus versi fiksi dan non fiksi bareng anak.

b. Keamanan. Contohnya main kontak fisik seperti, gulat-gulatan, lempar bantal, dan lainnya.

c. Kolaborasi. Misalkan membahas bagaimana cara mendukung teman yang punya inisiatif baik di dunia digital bareng anak.

d. Kreativitas. Misalnya kita bikin kue bersama anak dan dijajakan ke keluarga.

Gimana, Bun, tertarik menerapkan rumus 'Cinta' dalam mengasuh anak?
(aml/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi