parenting

3 Tipe Orang Tua dalam Menyikapi PR Anak

Melly Febrida Senin, 19 Aug 2019 20:00 WIB
3 Tipe Orang Tua dalam Menyikapi PR Anak
Jakarta - Bunda termasuk tipe ibu yang seperti apa kalau anak ada Pekerjaan Rumah (PR)? Tipe yang heboh atau justru terlalu cuek? Entah saya saja atau Bunda juga merasakan yang sama kalau PR anak-anak sekarang meski masih S susahnya minta ampun, he-he-he.

Linda Bress Silbert, Ph.D dan Alvin J Silbert, Ed.D, founder Strong Learning Centers, New York, dalam bukunya Why Bad Grades Happen to Good Kids, What Parents Need to Know, What Parents Need to Do, menuliskan dalam mengerjakan PR anak, beberapa orang tua terlalu terlibat.

Silbert mengelompokkannya dalam tiga tipe orang tua yang paling umum dijumpai. Dan tanpa disadari, cara orang tua menghadapi PR cenderung mendorong anak untuk berbohong:


1. Orang tua perfeksionis

Kata Silbert, tipe orang tua yang perfeksionis menuntut semua tugas PR dikerjakan sempurna. Akibatnya, anak jadi enggak senang kalau orang tuanya melihat PR. Anak jadi takut orang tuanya menyalahkan, merobek buku, hingga menyuruhnya mengerjakan lagi.

"Selain membuat anak tak suka, dalam kasus ekstrem, orang tua tipe ini sama sekali tidak menghormati anak," ujar Silbert.

2. Orang tua helikopter

Nah, tipe orang tua helikopter berbeda lagi. Orang tua ini selalu mendampingi anak-anak mereka, memastikan anak-anak benar mengerjakan PR-nya. Akibatnya, tak ada ruang gerak untuk anak. Orang tua seakan mengirimkan pesan secara tidak langsung kalau anaknya tak bisa mengerjakan sendiri.

"Ini tidak hanya merusak harga diri anak, tapi juga tak memberi kesempatan pada anak-anak untuk bertanggung jawab dengan pekerjaan mereka sendiri," kata Silbert.

Ilustrasi anak mengerjakan PRIlustrasi anak mengerjakan PR/ Foto: thinkstock
3. Orang tua pandora

Anak-anak yang memiliki orang tua tipe pandora cenderung menolak PR yang tidak mereka pahami. Sebab, bertanya soal PR pada Ayah atau Bundanya diibaratkan dengan membuka kotak pandora (artefak terkait mitologi Yunani).

"Orang tua tentu bermaksud baik tapi anak-anak tak antusias. Apalagi jika tugas yang bisa dijawab singkat malah menjadi panjang lebar agar detail.

Sebelumnya, ahli metode Gentle Parenting, Sarah Ockwell-Smith, dalam bukunya The Gentle Discipline Book menuliskan, belum ada sebab pasti kenapa anak ogah mengerjakan PR. Namun, menurut dia, anak-anak setelah lelah di sekolah ingin bersantai di rumah dan bermain dengan teman-temannya.



"Untuk anak-anak yang lebih besar, ada tiga hal utama yang kurang ketika berhubungan dengan PR keterampilan organisasi, memahami, dan kontrol," tulis Ockwell-Smith.

Cari tahu juga cara Nirina Zubir melatih anak mau bangun pagi di video berikut.

[Gambas:Video Haibunda]

(rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi