parenting

Pelajaran dari Anak yang Tangannya Terjepit Pintu ATM

Annisa Karnesyia Selasa, 06 Aug 2019 19:01 WIB
Pelajaran dari Anak yang Tangannya Terjepit Pintu ATM
Jakarta - Kejadian nahas menimpa seorang anak laki-laki yang tangannya terjepit pintu ATM. Sang anak sampai harus diselamatkan petugas pemadam kebakaran, Bun.

Dikutip dari detikcom, peristiwa ini terjadi di salah satu ATM di Jalan Merpati depan Lapangan Deppen, Jakarta Selatan, Senin (5/8/2019) siang. Sampai kini, belum diketahui identitas sang anak.

Untuk menyelamatkan tangan anak, petugas damkar harus membongkar pintu ATM. Kondisi sang anak mengalami luka memar.


"Jadi kita proses evakuasinya, dibongkar pintu tersebut. Untuk tangan korban itu hanya luka memar di telapak tangan kanan," kata petugas Command Center Damkar DKI Jakarta.

Proses penyelamatan anak ini cukup cepat. Petugas hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Pembongkaran pintu ATM menggunakan alat spreader dengan melibatkan 4 petugas.

"Prosesnya enggak lama, 10 menit setelah tiba. Ada 4 personel itu pakai rescue tool, namanya spreader, seperti tang capit yang bisa memotong," ujar si petugas.

Respons cepat tanggap memang diperlukan dalam kondisi tersebut. Bicara soal keselamatan si kecil, ini memang menjadi kekhawatiran setiap orang tua ya, Bun?

Kata profesor psikologi di Universitas of Iowa, Jodie Plumert, salah satu kekhawatiran terbesar orang tua adalah menjauhkan anak dari bahaya seperti luka. Sebenarnya, mengajarkan anak tanggung jawab tentang keselamatan bisa dimulai sejak dini.

Anak terjepit pintu ATMTangan anak terjepit pintu ATM/ Foto: dok. Twitter Dinas Penanggulangan Kebakaran & Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta

"Anak bisa belajar berhati-hati dengan mencoba beberapa hal misalnya dengan aktivitas seperti memasak dan memotong," tutur Plumert, dilansir Science Daily.

Dalam Journal of Pediatric Psychology, Plumert meneliti ibu dan anak yang bicara soal keselamatan. Hasilnya didapatkan opini yang berbeda di antara keduanya. Tapi, tim peneliti juga menemukan pengaruh ibu dalam membentuk opini anaknya.

Sekitar 80 persen ibu bisa mengubah cara pikir anak. Artinya, orang tua bisa membentuk pola pikir anak tentang keselamatan terkait aktivitas yang berbahaya sejak kecil.

"Ibu bisa menunjuk satu bahaya dari suatu situasi dan menjelaskan dampaknya yang bisa membuat si anak terluka," kata Plumert.

Tapi, tidak semua anak bisa memahami situasi ini. Untuk pencegahan, Bunda bisa memulai percakapan penting tentang risiko dan pentingnya sikap waspada.

Saat anak terluka, kesigapan orang tua penting, Bun. Simak tips mengatasi luka di kepala anak di video berikut.

[Gambas:Video Haibunda]





(ank/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi