parenting

Bahaya Terpapar Kabut Asap bagi Kesehatan Pernapasan Anak

Asri Ediyati Kamis, 12 Sep 2019 14:00 WIB
Bahaya Terpapar Kabut Asap bagi Kesehatan Pernapasan Anak
Jakarta - Penurunan kualitas udara di Sumatera akibat kebakaran hutan masih terus berlangsung. Dilansir detikcom, kabar terbarunya, asap sudah sampai Jambi dan membuat beberapa sekolah meliburkan anak didiknya. Sebelum kita bahas risiko terpapar asap kebakaran, sebenarnya bagaimana cara menilai udara tersebut kurang baik?

Menurut dr. Frans Abednego Barus, Sp.P., sebenarnya udara baik itu kan secara mudah diketahui kalau kita bernapas itu pasti baik. Nah, jika mengenai kualitas udara, harus dihitung partikelnya (ppm).

"Ada level petunjuk kualitas udara, nilai CO2-nya berapa, satu lagi jarak pandang. Kalau kabut berarti kualitas udaranya enggak baik," ujarnya kepada HaiBunda.

Namun, menurut dokter spesialis paru berpraktik di Omni Hospital Pulomas ini, kalau bicarakan kesehatan paru, kualitas udara yang baik itu tak mengandung partikel. Jadi, yang penting itu kandungan udaranya, Bun.


"Walaupun kualitas udara yang berbau itu tidak baik juga. Partikel, benda, gas yang dikandung udara tersebut, kalau kandunganya ada debu, jelaga tinggi, jelas itu bisa masuk ke paru. Kalau kualitas udara CO2-nya tinggi kan baik juga, berbahaya bagi kesehatan," kata Frans.
Kabut asapKabut asap/ Foto: Antara Foto
Partikel-partikel tersebut dalam dunia medis namanya stres oksidatif. Partikel itu berbahaya bagi paru, organ-organ lainnya. Jika sudah diserap darah berbahaya, bisa masuk ke otak, jantung, dan rahim. Lalu, bagaimana jika partikel tersebut terakumulasi dalam paru?

"Kalau partikelnya akan tersangkut di paru. Jika terakumulasi atau tertumpuk akan menyebabkan radang kronis. Efek jangka panjangnya kanker paru, penyempitan saluran napas dan fungsi paru menurun," tutur Frans.

Untuk efek langsung yang dirasakan, pasien bisa sesak. Belum lagi pasien yang sensitif misalnya asma atau punya penyakit paru sebelumnya. Itu akan semakin berat dia bernapas, semakin terganggu aktivitasnya.

"Asap itu sendiri kan racun, jadi membuat seseorang mudah terkena infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Demam batuk, nyeri menelan, suara parau. Asap dan jelaga bisa mencetuskan serangan asma," papar Frans.

Lantas, bagaimana cara menanggulanginya? Kata Frans, tidak ada cara yang lain selain padamkan apinya. Ini karena masker enggak berguna.

"Kalau masker N 95 boleh lah, tapi siapa yang tahan? Kebanyakan orang sesak napas. Makanya orang pakai masker dokter bedah, masker hijau itu enggak ada fungsi sama sekali. Untuk menenangkan jiwa, tapi tidak mengurangi sama sekali, kan CO2 bentuknya gas, lewat lah," kata Frans.

Simak cerita lengkap sejumlah sekolah diliburkan akibat asap.

[Gambas:Video 20detik]

(aci/som)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi