parenting

Perlukah Anak Autis Mengonsumsi Obat?

Yuni Ayu Amida Sabtu, 14 Sep 2019 10:30 WIB
Perlukah Anak Autis Mengonsumsi Obat?
Jakarta - Saat mengetahui anak mengidap gangguan spektrum autisme (ASD), tentu ada tindakan yang mesti dilakukan orang tua untuk menanganinya. Namun, apakah pemberian obat termasuk dalam tindakan yang bisa membuat kondisi anak autisme jadi lebih baik?

Dikatakan dr.Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), MPH, pemberian obat pada anak yang mengidap autisme bukan suatu keharusan atau wajib dilakukan. Semua bergantung pada tingkat spektrum autisme yang dialami anak.

"Tergantung, jadi nanti dokter yang menentukan, minum obatnya, kapan dimulainya, tergantung tingkat autismenya separah apa," jelas Bernie, saat dihubungi HaiBunda.


Senada dengan Bernie, dilansir Very Well Health, sebenarnya belum ada obat medis yang khusus untuk pengidap autisme. Saat dokter meresepkan obat untuk anak autis, itu adalah obat untuk merawat gejala tertentu. Seringkali, ketika gejala diobati, anak dengan autisme lebih mampu belajar, berkomunikasi, dan bisa terhubung dengan orang lain.

Perlu Bunda tahu, tidak semua pengidap ASD memiliki gejala yang sama. Tidak semua pula gejala dapat diobati dengan obat-obatan. Biasanya, obat diberikan untuk mengatasi gejala spesifik seperti masalah perilaku, kecemasan, depresi, gangguan obsesif-kompulsif, masalah atensi, hiperaktif, dan perubahan suasana hati dari masalah seperti gangguan bipolar.

Perlukah Anak Autisme Mengonsumsi Obat?Foto: istock


Tak sembarang obat

Beberapa obat yang mungkin akan diresepkan dokter seperti Prozac (fluoxetine), yang telah disetujui Food and Drug Administration (FDA). Obat ini untuk mengatasi kecemasan, depresi, dan/atau gangguan obsesif-kompulsif. Bisa dikonsumsi anak-anak mulai usia 8 tahun. Ada pula Lexapro (escitalopram), yang juga dibolehkan untuk anak-anak dengan depresi yang berusia 12 tahun atau lebih.

Selain itu, satu dari empat orang dengan gangguan spektrum autisme (ASD) biasanya memiliki gangguan kejang. Maka, untuk mengobati kejang ini mereka diberi antikonvulsan seperti Tegretol (carbamazepine), Lamictal (lamotrigine), Topamax (topiramate), atau Depakote (asam valproat).

Kemudian, obat stimulan seperti Concerta (methylphenidate) dan Strattera (atomoxetine), yang digunakan secara aman dan efektif bagi pengidap attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD), juga telah diresepkan untuk anak-anak dengan autisme.

Obat-obatan ini dapat mengurangi impulsif dan hiperaktif pada beberapa anak. Adapula obat Adderall (dextroamphetamine dan amphetamine) yakni stimulan lain yang sering digunakan untuk membantu masalah perhatian, fokus, dan perilaku.

Obat-obat di atas hanya beberapa contoh saja, Bun. Namun, kadang ada risiko di balik penggunaan obat. Karena risiko tersebut, maka dianjurkan mengonsumsi obat hanya jika dan saat gejalanya parah atau tidak terkendali.

Meski demikian, yang terpenting adalah berkonsultasi ke dokter medis untuk hal ini. Tanyakan kepada dokter apakah efek samping dari minum obat bisa berbahaya, juga pastikan kita tahu apa yang harus dilakukan jika ada efek samping.

Simak pula tayangan video berikut, Bun.

[Gambas:Video 20detik]

(yun/muf)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi