sign up SIGN UP search


parenting

Kisah Anak Ditolak Sekolah karena Dianggap Autis

Muhayati Faridatun Selasa, 17 Sep 2019 06:04 WIB
Mungkin bagai tersambar petir di siang bolong, ketika sang buah hati didiagnosis autisme. caption
Jakarta - Apa yang terlintas dalam benak Bunda, seandainya si buah hati didiagnosis mengidap Autism Spectrum Disorder (ASD) atau autisme? Seperti pengalaman pahit yang dialami orang tua asal Indonesia, yang kini menetap di Australia.

Pada Februari 2016, ayah Iko (bukan nama asli) memboyong keluarga pindah ke Australia setelah mendapat beasiswa studi Ph.D. (Doctor of Philosophy). Ketika itu, Iko belum genap lima tahun dan baru tujuh bulan bersekolah TK A di Indonesia.

Untuk melanjutkan sekolah Iko, sang ayah pun mencarikan TK A baru di Australia. Karena sekolah dekat rumah sudah tidak menerima murid baru, Iko akhirnya bersekolah di TK A lain yang berlokasi di Brisbane.

Baru dua pekan berlalu, Ayah dan Bunda Iko mendapat informasi tak terduga dari pihak sekolah. Betapa mengejutkan saat disampaikan Iko mengidap autisme.

"Guru dan sejumlah terapis mendiagnosis Iko memiliki spektrum autis. Namun karena berbagai keterbatasan, diagnosis awal tersebut tidak kami tindaklanjuti," cerita ayah Iko kepada HaiBunda.

Pria kelahiran 1982 ini menganggap, Iko mengalami masalah adaptasi dari sekolah di Indonesia ke sekolah di Brisbane. Ia pun meyakini, Iko juga mengalami culture shock khususnya masalah bahasa dan norma yang berlaku di Negeri Kanguru.

Kisah Anak Ditolak Sekolah karena Dianggap AutisIlustrasi anak autis terapi bicara/ Foto: iStock
Sayangnya, pihak sekolah tetap menilai Iko mengidap autisme dan mengharuskan masuk sekolah khusus penyandang disabilitas.

"Kami memutuskan memberi perhatian lebih di bidang yang dianggap kurang, sehingga tidak pernah ikut terapi khusus," ungkapnya, sambil memastikan sang buah hati tidak mengidap autisme.

Iko kemudian pindah ke TK lain. Dan di sekolah yang baru, guru menilai baik. Meski tidak menonjol, tapi sang guru memastikan Iko tidak ada masalah mengikuti kegiatan di sekolah.

Namun, kejadian terulang saat Iko hendak masuk ke prasekolah dasar atau TK besar. Seperti sebelumnya, orang tua Iko pun tak menerima begitu saja apa yang dikatakan pihak sekolah.

"Sekali lagi, Iko didiagnosis memiliki masalah komunikasi bicara, mengutarakan pendapat, hingga masalah akademik. Saya tidak percaya begitu saja dan menanyakan proses assesment (penilaian)," tuturnya.

Alhasil setelah berdiskusi, kata ayah Iko, guru kelas berpendapat bahwa ada masalah dengan penilaian sekolah. "Contoh, Iko diminta menjelaskan tentang toaster (pemanggang roti), dia kesulitan menjelaskan. Itu ditulis sebagai masalah karena anak Australia usia 5 - 6 dianggap pasti tahu apa itu toaster," urainya.

[Gambas:Instagram]


Sang ayah kembali bercerita, mereka sempat berkonsultasi dengan terapis bicara. Iko disarankan untuk fokus belajar satu bahasa dan mereka memilih Bahasa Inggris, supaya cepat adaptasi dan mudah berkomunikasi di sekolah.

Setelah itu, Iko tak mengalami kendala mengikuti kegiatan di sekolah. Dan saat ini, Iko sudah kelas 2 SD, Bun. Sang ayah pun merasa lega karena selalu dapat respons positif dari guru di sekolah.

"Saat SD kelas 1 sudah lancar (Bahasa Inggris). Prestasi akademik kelas 2 sudah di atas rata-rata," ucapnya bangga.

Sungguh pengalaman berharga ya, Bun, apa yang dialami orang tua Iko. Pelajaran untuk kita sebagai orang tua, tentu harus benar-benar memahami dan meyakini kemampuan si buah hati, baik akademik maupun non-akademik.


Bunda, simak juga curahan hati artis Joanna Alexandra tentang besarnya biaya melahirkan anak berkebutuhan khusus, dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]


(muf/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi