parenting

Siswa Penerima Sepeda Jokowi Bunuh Diri, Dibully karena Ayah Bunuh Ibu

Annisa Karnesyia Minggu, 20 Oct 2019 17:14 WIB
Siswa Penerima Sepeda Jokowi Bunuh Diri, Dibully karena Ayah Bunuh Ibu
Jakarta - Bunda masih ingat kisah tragis suami yang menganiaya istri hingga tewas, lalu memasukkan jasadnya ke lubang bekas galian WC di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT)? Kasus ini telah selesai secara hukum dan sang suami ditahan.

Namun, masalah baru justru muncul dari anak pasangan ini, Bunda. YS, siswa SMP yang merupakan anak kandung tersangka dan korban ditemukan meninggal bunuh diri, pada 14 Oktober lalu.

Mengutip detikcom, YS meninggalkan surat berisi curahan hati tentang sang ayah. Ia mengaku memiliki niat untuk membalas kematian ibunya pada sang ayah.


"Inti suratnya terima kasih kepada kakak dari ibu kandungnya, yang mengurus dirinya. Dia juga meminta maaf karena sering membuat budenya marah," kata Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, Iptu Bobby Jacob Mooynafi.

"Dia (menyampaikan) menyesal belum sempat niatnya kesampaian balas dendam ke ayahnya atas meninggal ibunya," sambung Bobby.

Selain itu, dalam suratnya, YS juga mengaku tertekan karena kerap dibully teman-temannya. Iptu Bobby akan memastikan hal tersebut ke teman sekolah YS.

"Kalau ikut catatan dalam surat, sepertinya almarhum nyatakan, terkadang dia diolok tentang keturunannya (mungkin karena ayahnya yang adalah napi) di lingkungan keluarga tempat dia (almarhum) tinggal," ujar Bobby.

Terkait kasus ini, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti menyayangkan bullying yang menimpa YS. Apalagi tekanan psikologis ini membuat YS bunuh diri.

Lebih disayangkan lagi karena YS dikenal pintar dan berprestasi. YS adalah salah satu siswa yang juga pernah menerima sepeda dari Presiden Jokowi pada Januari 2018 lalu.

"Remaja sering kali tak terbuka soal masalah-masalah yang dialaminya. Begitu pula dengan orang tua dan guru yang mengabaikan kondisi remaja. Pengabaian ini mengakibatkan anak korban merasa tidak ada solusi dari permasalahannya sehingga akhirnya memutuskan bunuh diri," kata Retno, dilansir detikcom.

Untuk saudara YS, Retno berharap mendapatkan perlindungan secara khusus. Terutama untuk mencegah bullying terjadi lagi.

Ilustrasi bullying pada anakIlustrasi bullying pada anak/ Foto: iStock

Sedangkan menurut psikolog anak dan remaja dari EduPsycho Research Institute, Yasinta Indrianti, M.Psi, anak korban bullying harus didukung. Penting untuk mengembalikan kepercayaan diri anak.

"Jangan sampai anak susah menerima dirinya sendiri akibat hinaan yang diterimanya. Buatlah suasana senyaman mungkin agar anak mau lebih terbuka dengan kondisi yang dialaminya," ujar Yasinta.

Tentu, kasus bunuh diri ini harus jadi perhatian khusus ya, Bunda. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek pernah menyatakan, untuk mencegah aksi bunuh diri, masyarakat bisa menghubungi nomor darurat 119.

"Nomor 119 bisa dimanfaatkan untuk pencegahan. Nomor itu untuk emergency dan bisa untuk kesehatan mental," tutur Nila, dilansir CNN Indonesia.

Simak juga penjelasan tentang tekanan sosial dan bunuh diri dari psikolog, di video berikut:

[Gambas:Video 20detik]

(ank/muf)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi