sign up SIGN UP search


parenting

Anak Terkena Diare, Ini yang Harus Dilakukan Bunda

Asri Ediyati Rabu, 15 Jan 2020 19:05 WIB
Salah satu penyakit umum terjadi di musim hujan adalah diare. Jika si kecil terlihat mengalami diare, jangan panik dahulu. Simak cara penanganannya di sini. caption
Jakarta - Diare menjadi salah satu penyakit umum yang terjadi di musim hujan. Diare adalah buang air besar yang frekuensinya lebih sering dan konsistensi tinja lebih encer dari normal.

Diare disebabkan infeksi oleh virus, bakteri dan parasit. Virus, terutama Rotavirus merupakan penyebab utama (60 - 70 persen) diare infeksi pada anak, sedangkan sekitar 10-20 persen adalah bakteri dan kurang dari 10 persen adalah parasit.


Selama terjadi diare, tubuh akan kehilangan cairan dan elektrolit secara cepat. Pada saat yang bersamaan, usus kehilangan kemampuannya untuk menyerap cairan dan elektrolit yang diberikan kepadanya.


Diare menjadi salah satu penyakit yang ditakutkan bagi orang tua karena rentan terjadi pada anak-anak. Ya, selain itu bayi dan anak yang lebih kecil juga lebih mudah mengalami dehidrasi dibanding anak yang lebih besar dan dewasa.

Nah, jika anak Bunda menunjukkan tanda-tanda diare yaitu buang air besar dengan konsistensi cair lebih dari tiga kali, jangan panik dahulu. Mengutip laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Bunda bisa mencegah atau mengatasi dehidrasi untuk menangani diare pada anak.

"Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mencegah atau mengatasi dehidrasi pada anak yang mengalami diare, yaitu (1) mengganti kehilangan cairan yang telah terjadi, (2) mengganti kehilangan cairan yang sedang berlangsung, dan (3) pemberian cairan rumatan," tulis IDAI.

Bunda bisa menggantikan cairan tubuh yang hilang dengan cairan rehidrasi oral (CRO) atau yang dikenal dengan nama ORALIT. ORALIT adalah cairan yang dikemas khusus, mengandung air dan elektrolit digunakan untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi saat diare.
Ilustrasi anak sakit perutIlustrasi anak sakit perut/ Foto: Thinkstock

Pemberian CRO berdasarkan tingkat dehidrasi

Jika anak tak menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, ASI diteruskan, tidak perlu membatasi atau mengganti makanan, termasuk susu formula. Dapat diberikan CRO 5-10 ml setiap buang air besar cair.

Kalau anak mengalami dehidrasi ringan-sedang, tandanya anak akan terlihat haus dan buang air kecil mulai berkurang. Mata terlihat agak cekung, kekenyalan kulit menurun, dan bibir kering.

"Pada keadaan ini, anak harus diberikan cairan rehidrasi di bawah pengawasan tenaga medis, sehingga anak perlu dibawa ke rumah sakit. CRO diberikan sebanyak 15-20 ml/kgBB/jam. Setelah tercapai rehidrasi, anak segera diberi makan dan minum. ASI diteruskan," tulisnya.


Bagaimana dengan pemberian teh saat diare? Teh sebaiknya tidak digunakan sebagai cairan rehidrasi karena juga mengandung kadar Na yang rendah. Untuk makanan, tidak perlu dibatasi karena pemberian makanan akan mempercepat penyembuhan. Pemberian terapi CRO cukup dilaksanakan pada ruang observasi di UGD atau Ruang Rawat Sehari.

Untuk dehidrasi berat, tanda-tandanya napas cepat dan dalam, sangat lemas, kesadaran menurun, denyut nadi cepat, dan kekenyalan kulit sangat menurun. Kalau sudah begini, anak harus dibawa ke rumah sakit.

Simak juga dehidrasi akut yang bisa disebabkan oleh diare dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(aci/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi