HaiBunda

PARENTING

Pujian 'Kamu Anak Pintar' Ternyata Membuat Kecerdasan Anak Mandek

Zika Zakiya   |   HaiBunda

Rabu, 12 Feb 2020 07:46 WIB
Ilustrasi memuji anak/Foto: iStock
Jakarta -

Memuji anak dengan ucapan 'Wah, kamu pintar!' sering kita lontarkan sebagai bentuk apresiasi pada anak. Tujuannya tentu untuk memberi penghargaan atas usaha yang sudah dia lakukan dan meninggikan kepercayaan dirinya. Tapi ternyata menurut riset selama 30 tahun oleh psikolog Stanford, Carol S.Dweck, malah membuktikan sebaliknya.

"Pujian terhubung erat dengan bagaimana anak-anak melihat kecerdasan mereka. Jika mereka terus-menerus dipuji pintar, cerdas, berbakat alami, maka mereka mengembangkan apa yang disebut pola pikir permanen," tulis hasil penelitian itu dalam buku terlaris soal parenting, The Danish Way of Parenting: Rahasia Orang Denmark Membesarkan Anak.

"Sebaliknya, anak-anak yang diberi tahu bahwa kecerdasan mereka bisa dibangun dengan kerjas keras dan pendidikan. Sehingga menumbuhkan pola pikir bahwa mereka bisa mengembangkan keterampilan diri dengan kerja keras," lanjut bunyi penelitian itu.


Ilustrasi pujian pada anak/ Foto: iStock

Masyarakat Denmark menjadi patokan tertinggi dalam hal parenting karena selama 30 tahun berturut-turut tercatat sebagai masyarakat paling bahagia di dunia. Catatan PBB menilai mereka menjalani hidup bahagia ini sejak tahun 1973 hingga 2013.

Kebahagiaan ini ternyata dipupuk sejak mereka kanak-kanak dengan ajaran-ajaran yang disebut sebagai 'The Danish Way'. Diteruskan dari generasi ke generasi. Inilah sebabnya mereka bisa bertahan sebagai masyarakat paling bahagia di dunia selama tiga dekade.

Menyangkut soal pujian, orang tua di Denmark menerapkan hasil penelitian Dweck untuk tidak menyanjung secara berlebihan. Pujian berlebihan hanya akan menghasilkan pemikiran yang tetap (fixed mindset). Sedangkan pola paling ideal dalam masyarakat mereka adalah pola pikir yang berkembang (growth mindset).

Contoh: Si Kakak memberikan gambar dengan dominasi warna merah. Orang tua pada umumnya akan memberi pujian,"Wah, Kakak pinter gambar!". Maka selain kepercayaan diri, Si Kakak akan memberi label pada dirinya 'Saya pintar menggambar dengan warna merah' (fixed mindset).

Sebaliknya, orang tua di Denmark akan memberi pujian seperti ini,"Wah, kenapa Kakak pilih warna merah? Hmm, menarik Kak. Bisa ngga ini diberi warna lain yang juga Kakak suka?". Maka Si Kakak akan coba memikirkan kemungkinan warna lain tanpa ada satu pun kalimat negatif yang ia terima (growth mindset).

Ilustrasi pujian pada anak/ Foto: iStock

Kenapa mereka memilih growth mindset? Karena anak yang diberi pikiran permanen (fixed mindset) terus-menerus, diberi tahu bahwa mereka cerdas, cenderung hanya akan peduli pada bagaimana mereka akan dinilai: cerdas atau tidak cerdas.

Mereka jadi takut menggunakan banyak usaha karena membuat mereka merasa bodoh. Mereka percaya bahwa jika memang sudah punya kemampuan, maka tidak perlu tuh yang namanya usaha. Karena usaha yang terlalu keras bisa membuat mereka kehilangan status 'anak cerdas'.

Dalam penelitian berbeda ditemukan bahwa anak dengan fixed mindset cenderung menyerah dan kehilangan kepercayaan diri begitu mereka kesulitan menyelesaikan suatu masalah. Buat mereka, sukses adalah cerdas alami. Jika harus berusaha maka artinya bukan sukses.

Sebaliknya dalam diri anak-anak berpola pikir growth mindset cenderung berperilaku berlawanan. Mereka peduli pada usaha dan pembelajaran. Mereka juga lebih fokus pada usaha daripada kecerdasan.

Dalam penelitian yang sama, ketika mereka diberi tantangan dalam soal yang sulit, tidak ada masalah kepercayaan diri yang dialami. "Kelompok yang dipuji karena usaha, kemampuannya meningkat secara terus-menerus dan melakukan tugasnya dengan baik secara keseluruhan," tambah pemaparan dalam The Danish Way of Parenting.

Satu penelitian lagi dari New York Times menyebut bahwa bisnis saat ini lebih cenderung mencari orang dengan growth mindset dibanding fixed mindset. Karena orang dengan growth mindset lebih baik dalam beradaptasi dalam tim dan menyelesaikan tantangan tanpa stres.

Nah, sesudah melihat pemaparan ini, kita intip yuk Bunda Enno Lerian dalam mengasuh empat anak laki-laki. Salah satunya sudah memasuki usia ABG lho. Cek di video berikut ya, Bun!



(ziz/ziz)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

5 Potret Artis Ikut Tren Filter AI 80-an, Tampil Jadul tapi Menawan

Mom's Life Amira Salsabila

10 Wilayah Terpanas di Indonesia Awal September 2026

Mom's Life Tim HaiBunda

15 Kalimat Berkelas yang Bisa Membuat Seseorang Lebih Dihormati, Tegas Tanpa Terlihat Kasar

Mom's Life Amira Salsabila

30 Soal Cerita Penjumlahan dan Pengurangan Kelas 2 SD Beserta Kunci Jawabannya

Parenting Asri Ediyati

Cerita Ayu Dewi Pulang ke Jakarta dari Bali Lewat Perjalanan Darat saat Bandara Ditutup

Mom's Life Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Cerita Meisya Siregar Masuki Masa Perimenopause, Alami Mood Swing hingga Mudah Gemuk

5 Potret Artis Ikut Tren Filter AI 80-an, Tampil Jadul tapi Menawan

10 Wilayah Terpanas di Indonesia Awal September 2026

30 Soal Cerita Penjumlahan dan Pengurangan Kelas 2 SD Beserta Kunci Jawabannya

15 Kalimat Berkelas yang Bisa Membuat Seseorang Lebih Dihormati, Tegas Tanpa Terlihat Kasar

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK