sign up SIGN UP search

parenting

Anak Home Learning Bikin Bunda Mudah Emosi? Begini Solusinya

Melly Febrida Sabtu, 04 Apr 2020 11:11 WIB
Kebijakan belajar di rumah tentu menambah pekerjaan orang tua. Kesabaran orang tua seakan diuji. Lantas bagaimana cara Bunda mengelola emosi? caption
Jakarta - Kebijakan belajar di rumah selama pandemi Corona tentu menambah tugas orang tua. Kesabaran seakan diuji, apalagi kalau masing-masing anak memiliki tugas yang berbeda-beda. Kalau sudah tak kuasa menahan emosi, Bunda harus bagaimana ya?

Tak sedikit orang tua yang merasakan beratnya menjalani work from home sambil mengerjakan tugas rumah tangga, sekaligus mengawasi tugas sekolah anak-anak. Kepala serasa mau pecah enggak sih, Bun?


Psikolog Adele Faber dan Elaine Mazlish mengatakan, ada seorang ibu yang melaporkan bahwa ia memberikan waktu dirinya untuk jeda ketika dia akan 'meledak'.


Faber menceritakan, saat itu sang ibu begitu marah lantaran melihat putranya membuat goresan di meja makan menggunakan kompas barunya. Ibu tersebut langsung mengambil kompas dari tangan putranya sambil berkata:

"Saya sangat marah karena apa yang saya lihat. Lalu, saya akan ke kamar untuk menenangkan diri!" begitu katanya, dikutip dari buku How to Talk So Kids Can Learn at Home and in School.

Setelah tenang, kata Faber, ibu tersebut keluar dari kamar sambil memberi tahu putranya bagaimana cara memperbaiki kerusakan yang sudah dibuatnya.

Faber juga memaparkan, ketika seorang psikolog anak yang juga parent educator, Dr Haim Ginott, ditanyakan tentang apa yang ia lakukan saat marah, ia mengaku akan menarik diri saat emosinya benar-benar memuncak sambil berkata:

"Saya sangat marah, saya akan memukul! Jadi menjauhlah!"

Dikutip dari Raising Child, semua orang tua akan merasa marah pada tahap tertentu. Marah dan mengelola kemarahan dengan cara positif dan sehat juga dapat memberi Bunda kesempatan memberikan contoh baik kepada anak-anak.

Misalnya, ketika mengambil napas dalam-dalam atau berjalan kaki ketimbang meledak, Bunda menunjukkan kepada anak-anak bagaimana mengelola emosi.

Ilustrasi anak home learningIlustrasi anak home learning/ Foto: Getty Images/Phynart Studio
Sebagai orang tua, Bunda mungkin dihadapkan banyak tuntutan yang berbeda termasuk pekerjaan, waktu dengan keluarga, pekerjaan rumah tangga, kegiatan anak-anak, dan kegiatan sosial. Saat Bunda sibuk dan lelah, mudah kehilangan kesabaran dan marah ketika anak-anak tidak mau bekerja sama, atau hal-hal tidak berjalan sesuai rencana.

Kadang-kadang Bunda mungkin merasa marah atau frustrasi dengan pasangan. Berbeda pendapat atau pandangan dengan pasangan dapat menyebabkan konflik, terutama jika merasa diremehkan atau tidak didukung.

Untuk mengatasi kemarahan atau emosi, ada beberapa langkah sederhana yang bisa Bunda lakukan:

1. Kenali kemarahan

Langkah pertama untuk mengelola kemarahan adalah dengan memperhatikan tanda-tanda awal. Sangat penting untuk mengetahui dan mengatakan bahwa Bunda marah, meskipun itu hanya untuk diri sendiri. Misalnya, 'Ini membuat Bunda marah'.

2. Cobalah untuk tenang

Setelah Bunda melihat tanda-tanda awal kemarahan, bisa melakukan beberapa hal untuk mulai menenangkan diri seperti"

- Ambil napas panjang dan buang napas. Cobalah untuk memperlambat pernapasan.

- Lakukan sesuatu yang menenangkan, seperti mendengarkan musik, membolak-balik majalah, atau hanya melihat keluar jendela.

- Pergi keluar untuk lari atau berjalan.

- Mandi air hangat.

- Pergi ke suatu tempat yang tenang selama beberapa menit.

Tanda-tanda bahwa Bunda sedang tenang termasuk detak jantung melambat dan otot-otot rileks.


3. Renungkan situasi

Jika Bunda merasa sudah tenang, mungkin ide yang baik untuk merenungkan kembali situasi, dan memikirkan apa yang baru saja terjadi. Ini dapat membantu Bunda belajar dari pengalaman, dan menangani situasi serupa di masa depan dengan lebih baik.

Sebenarnya, sebagai orang tua enggak seharusnya kita melampiaskan amarah ke anak, apalagi sampai melakukan tindakan yang buruk. Misalnya saja kalau kita kesal dengan pasangan, jangan sampai anak jadi korban. Setuju kan, Bunda?

"Hal ini menjadi bukti bahwa dalam membesarkan anak perlu adanya hubungan suami istri yang baik. Anak sering kali menjadi sasaran kekesalan orang tua," tegas psikolog klinis Christina Tedja yang akrab disapa Tina.

Bunda, simak juga cara Lenna Tan mendidik anak laki-laki, dengan statusnya sebagai single mother. Dalam video Intimate Interview berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(muf/muf)
Share yuk, Bun!

Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi
Pantau terus tumbuh kembang Si Kecil setiap bulannya hanya di Aplikasi HaiBunda!