sign up SIGN UP search


parenting

Cara Bunda Menghadapi Anak Berbohong Sesuai Tingkat Keparahannya

Melly Febrida Senin, 27 Jul 2020 09:40 WIB
ilustrasi ibu dan anak caption
Jakarta -

Kalau tahu anak bohong, Bunda akan bersikap seperti apa? Menghadapi anak yang berbohong tak selalu harus disikapi dengan berlebihan dan langsung memberinya konsekuensi. Ada berbagai tingkat kebohongan dan Bunda bisa menyikapi sesuai tingkatannya.

"Ketika saya melakukan evaluasi, ada pertanyaan dalam daftar kami bahwa orang tua bisa melihat apakah anak itu berbohong," kata Matthew Rouse, PhD, seorang psikolog klinis di Child Mind Institute.

Namun, menurut Rouse, ia membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk mencari tahu kebohongan macam apa dan bagaimana anak jadi berbohong. Lalu, menghadapi anak bohong itu tergantung pada fungsi kebohongan dan tingkat keparahan masalahnya.


"Tidak ada pedoman yang baku dan cepat. Level yang berbeda berarti dampaknya juga berbeda," ujar Rouse dilansir Child Mind.

Dari hasil evaluasi, Rouse membagi kebohongan anak dalam beberapa tingkat dan bagaimana menghadapinya:

1. Kebohongan tingkat 1

Kalau anak bohong karena ingin mencari perhatian, Rouse mengatakan cara terbaik yang bisa Bunda lakukan yakni dengan mengabaikannya.  

Daripada mengatakan dengan kasar, "Itu bohong. Bunda tahu itu tidak terjadi padamu," Rouse menyarankan agar orang tua melakukan pendekatan yang lembut. Orang tua tidak perlu memberikan konsekuensi tetapi juga tak perlu memberinya banyak perhatian.

Cara ini dilakukan ketika anak melakukan kebohongan untuk meningkatkan harga dirinya. 

"Jadi jika mereka mengatakan, 'Saya hari ini mencetak 10 gol saat jam istirahat sepakbola dan semua orang menggendong saya di pundak mereka dan itu luar biasa' dan Anda berpikir itu tidak benar, maka saya akan mengatakan jangan banyak bertanya," jelas Rouse.

Untuk kebohongan tingkat rendah semacam ini, menurut Rouse tidak menyakiti siapa pun tetapi bukan perilaku yang baik. Bunda bisa mengabaikan dan mengarahkan anak untuk berkata sesuai fakta. 

2. Kebohongan tingkat 2

Apabila cara di tingkat pertama tidak berhasil, Rouse berkata, orang tua dapat lebih transparan dengan memberikan teguran ringan.  

"Saya pernah mengalami situasi dengan jenis kebohongan yang fantastis," katanya.  

"Saya akan meminta orang tua memberi label dan menyebutnya dongeng. Jika anak itu menceritakan salah satu dari kisahnya, orang tua dengan lembut akan berkata, 'Hei, ini terdengar seperti dongeng, mengapa kamu tidak mencoba lagi dan memberi tahu saya apa yang sebenarnya terjadi?' Ini tentang menunjukkan perilaku dan mendorong anak-anak untuk mencoba lagi," ujar Rouse.

3. Kebohongan tingkat 3

Ini kondisi yang lebih serius, Bunda. Misalnya saja anak yang sudah lebih besar berbohong sedang ada di mana mereka atau apakah mereka sudah mengerjakan pekerjaan rumah (PR), orang tua bisa memberikan konsekuensi.

Menurut Rouse, anak-anak harus mengerti bahwa ada dampak karena kebohongan semacam ini, sehingga tidak perlu tiba-tiba berbohong.

Dalam memberi konsekuensi, Rouse merekomendasikan harus sesuatu yang berumur pendek, bukan berlebihan. Sehingga memberi anak kesempatan untuk berperilaku yang lebih baik lagi.

Contohnya saja Bunda menahan ponselnya selama satu jam atau harus melakukan pekerjaan rumah. Selain melihat dari tingkat keparahan dalam berbohong, juga harus ada komponen untuk mengatasi apa yang mereka bohongi.  

Apabila seorang anak mengatakan dia tidak memiliki pekerjaan rumah dan kemudian orang tua mengetahui bahwa dia memiliki pekerjaan rumah, maka Bunda perlu memberikan semacam konsekuensi untuk kebohongan. Dia juga harus duduk dan melakukan semua pekerjaan.

Jika dia memukul anak lain dan berbohong, ada konsekuensi karena berbohong serta memukul. Dalam hal ini, Rouse berkata, orang tua bisa meminta anak menulis surat permintaan maaf kepada anak lain.

Kalau ingin anak kita tumbuh sebagai orang jujur, sebagai orang tua juga harus jujur pada anak dan dapat mempercayainya.

Anak-anak itu mudah melakukan kesalahan, Bunda, karena itu bantu mereka untuk mencari jalan keluarnya. Jangan sampai kita mudah memarahi atau mengomeli anak tanpa memberikan faedah apapun.

"Saat marah-marah hanya karena orang tua menumpahkan kekesalan namun tidak menjelaskan kesalahan anak di mana, maka itu tidak akan memperbaiki apa yang anak lakukan. Lebih baik bantu anak membenahi masalahnya dan bukan malah membentuk jarak setelahnya," saran psikolog anak dan remaja dari RaQQi - Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi.

Simak juga alasan sebaiknya Bunda tak memarahi anak di depan umum:

[Gambas:Video Haibunda]



(kuy/kuy)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi