sign up SIGN UP search


parenting

5 Teknik Mengelola Marah agar Perkataan Bunda Tak Melukai Hati Anak

Melly Febrida Selasa, 01 Sep 2020 14:33 WIB
Angry mother scolding lecturing stubborn kid closing ears not listening to mom, strict mum talking to rebellious child demanding discipline from preschool girl ignoring rebuke family conflict concept caption
Jakarta -

Memarahi anak rasanya menjadi hal yang sulit dihindari orang tua. Setiap hari, ada saja tingkah si kecil yang memancing emosi Bunda atau Ayah.

Kalau sudah begini, bukan tidak mungkin Bunda jadi berteriak dan mengeluarkan kata-kata yang keras. Duh, si kecil pasti sedih kalau mendengar teriakan atau amarah dari orang tuanya.

Melihat mereka menangis pasti menyesal ya, Bunda. Jangan sampai perkataan Bunda atau Ayah melukai hati anak saat memarahi mereka.


Julie King seorang parent educator, mengatakan bahwa kebanyakan orang tua berasumsi harus bisa tetap tenang dan mengendalikan diri sepanjang waktu. Padahal, ia saja belum pernah bertemu orang tua semacam itu, Bunda.

Dikutip dari bukunya How to Talk so Little Kids Will Listen, King menuliskan ketika orang tua marah tetap ingat setelah selesai marah harus tetap terhubung dengan anak-anaknya. Anak perlu tahu bahwa mereka selalu bisa mendapat kasih sayang dari orang tuanya dan memiliki hubungan yang lebih baik ke depannya.

Setelah marah, ada sebagian orang tua yang mencoba teknik menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam atau melompat-lompat. Namun menurut King, mungkin bisa membantu tapi malah membingungkan anak.

"Hal itu mungkin akan membantu, tetapi ide bahwa saya harus mencoba menenangkan diri saat marah itu...menjengkelkan! Saat marah, saya tidak ingin tenang. Ini bisa membingungkan anak-anak karena orang tua mereka berbicara dengan tenang sementara mereka jelas-jelas melihat orang tuanya marah besar. Ada dua pesan yang maknanya bertolak belakang," ujar King.

Saat marah biasanya suara Bunda menjadi sangat keras. Tapi, kata King, ada banyak cara agar perkataan keras itu tidak menyakiti hati hingga merusak psikologis anak. Simak tips mengelola emosi di bawah ini:


Young mother scolding her sad little daughter who made a mistake.5 Teknik mengelola marah agar tak melukai anak/ Foto: iStock

1. Ucapkan satu kata

Bunda cukup mengucapkan satu kata saja. Misalnya, Bunda beberapa kali meminta anak segera ke mobil tapi nggak dilakukan. Nah, Bunda cukup mengatakan "Mobil". Meski mungkin diucapkan dengan nada paling keras, tapi King bilang tidak akan menyakiti hati anak dalam jangka panjang.

2. Beri informasi

Kalau satu kata masih juga belum cukup, King menyarankan mengarahkan kemarahan dengan memberi informasi.

"Anda bisa bersuara keras, 'Adik bukan untuk ditendang'".

3. Deskripsikan perasaan

King mengatakan, Bunda juga perlu mengekspresikan perasaan dengan terus terang ketika marah. "Pakai kata saya, bukan kamu, 'Bunda marah sekali kalau melihat adik bayi dicubit'," kata King mencontohkan.

4. Deskripsikan yang dilihat

Saat marah, Bunda bisa mengatakan apa yang Bunda lihat ke anak. Misalnya saja, "Bunda melihat ada orang yang terluka".

5. Bertindak

Tindakan perlu dilakukan saat anak bertingkah kurang pas. Misalnya Bunda bisa mengatakan, "Bunda tak mengizinkan siapa pun melempar pasir. Kita pulang sekarang".

Dengan mengucapkan kata-kata di atas, menurut King, tak ada satu pun yang melukai anak. Kata-kata di atas, tidak ada yang menyebutkan bahwa anak itu jahat, tidak berharga, atau tidak disayang.

"Kata-kata ini justru menunjukkan bahwa orang tua mereka telah kehilangan kesabaran. Dan mereka mencontohkan cara yang sehat untuk mengekspresikan marah dan frustrasi tanpa menyerang," jelas King.

Sebenarnya, ada beberapa cara yang bisa Bunda lakukan ketika kemarahan memuncak. Ahli Gentle Parenting Sarah Ockwell-Smith menyaran, kalau marah biasanya menggunakan teknik Peter Bun.

"Teknik 'Peter' ini membantu ketika saya kesulitan menghadapi situasi tersebut," ujarnya. Dalam bukunya The Gentle Discipline.

Lebih lanjut, Ockwell-Smith menjelaskan 'Peter' adalah:

- P atau Pause: Jeda untuk tidak langsung bereaksi.
- E atau Empathise: Berempati dengan memahami bagaimana perasaan dan sudut pandang anak.
- T atau Think: Memikirkan cara yang berbeda dalam merespons dan belajar dari hasilnya.
- E atau Exhale: Buang napas. Ketika Bunda sudah tak sabar, coba tarik napas dalam-dalam, relakskan bahu dan bayangkan kemarahan meninggalkan tubuh Bunda.
- R atau Response: Menanggapi atau merespons perbuatan anak.

Semoga tipsnya membantu mengelola emosi Bunda ketika marah ya, sehingga tidak melukai hati anak.

Bunda, simak juga yuk cara meredakan emosi anak ala Ririn Dwi Ariyanti berikut ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi