sign up SIGN UP search


parenting

Bahaya Terlalu Cepat atau Telat Mengenalkan MPASI ke Bayi

Annisa Afani Kamis, 19 Nov 2020 14:02 WIB
Bayi makan MPASI caption
Jakarta -

Air susu ibu (ASI) menjadi makanan, dan sumber nutrisi utama bagi bayi, yang disarankan diberikan secara eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya. Setelahnya, bayi boleh diberi makanan pendamping ASI (MPASI).

Umumnya, bayi mulai diberikan MPASI ketika sudah memasuki usia enam bulan. MPASI diberikan untuk memenuhi kebutuhan gizinya, Bunda.

"Pada usia empat hingga enam bulan, sebagian besar bayi sudah siap untuk mulai makan makanan padat sebagai pelengkap ASI atau susu formula," kata dokter anak Jay L. Hoeker, dikutip dari Mayo Clinic.


Sekitar waktu ini, bayi biasanya berhenti menggunakan lidahnya untuk mendorong makanan keluar dari mulutnya. Namun perlu diketahui bahwa menelan MPASI berbeda dengan menelan ASI.

Sebelum usia enam bulan, mulut bayi hanya bisa mengisap, dan menelan. Nah, setelah usia enam bulan, bayi akan mulai mengembangkan kemampuannya untuk memindahkan makanan dari depan ke belakang mulutnya agar bisa menelan dengan aman.

Memberikan MPASI terlalu cepat

Meski rata-rata bayi diberikan MPASI pada usia enam bulan, namun ada yang diberikan pada usia empat bulan. Biasanya karena berat badan bayi yang rendah, dan tak kunjung naik karena produksi ASI ibu tidak lancar. Namun mengutip Raising Children, tidak disarankan untuk memberikan MPASI sebelum usia bayi empat bulan ya, Bunda.

Ada banyak penelitian yang telah dipublikasikan secara luas terkait kemungkinan dan bahaya yang dapat ditimbulkan saat memberi MPASI terlalu cepat. Selain itu, pemberian MPASI yang terlalu cepat pun dapat membuat manfaat ASI yang diberi kurang maksimal.

"Untuk bayi yang diberikan ASI eksklusif, menunggu hingga usia enam bulan sebelum memperkenalkan MPASI dapat membantu memastikan bahwa mereka mendapatkan manfaat kesehatan sepenuhnya dari pemberian ASI," ujar Hoeker.

Jika MPASI diberikan pada bayi terlalu cepat, maka dapat mengakibatkan beberapa hal, seperti:

  • Beresiko membuat makanan yang dikonsumsinya tersedot ke jalur napas atau aspirasi bayi.
  • Menyebabkan bayi mendapat terlalu banyak atau tidak cukup kalori maupun nutrisi yang dibutuhkan.
  • Meningkatkan risiko bayi mengalami obesitas.

Mengutip Very Well Family, penelitian pada tahun 2011 yang diterbitkan dalan jurnal The American Academy of Pediatric (AAP) secara khusus menyelidiki kemungkinan hubungan antara waktu memberikan MPASI, dan risiko obesitas kepada bayi. Para peneliti melihat bagaimana MPASI memengaruhi tingkat obesitas anak usia prasekolah.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa di antara bayi yang tidak pernah disusui atau berhenti menyusu sebelum usia empat bulan, dan memberikan MPASI sebelum usia empat bulan dikaitkan dengan peningkatan enam kali lipat kemungkinan obesitas pada usia tiga tahun. Penelitian ini mendorong orang tua mulai memberikan MPASI kepada bayi sekitar usia enam bulan.

Memberikan MPASI terlambat

Dikutip dari Romper, meski ada beberapa penelitian yang menunjukkan kemungkinan bahaya memberi MPASI kepada bayi terlalu dini, namun jauh lebih sedikit risikonya dibanding jika Bunda memberikannya terlambat.

Menurut The Maternal and Child Health Journal, memberikan MPASI terlambat bisa menempatkan anak pada risiko pertumbuhannya yang terhambat. Selain itu, menunda bayi mengenal MPASI juga dapat berdampak besar pada keterampilan sensorik serta motorik oral. Kedua keterampilan tersebut sangat diperlukan terutama untuk makan dan kemampuannya berbicara.

Perlu diketahui, kemampuan tersebut dapat dipelajari pada proses sejak awal si kecil mengunyah dan menelan, Bunda. Dengan membatasi pengalaman tersebut, bisa menjadi penghambat utama kemampuannya untuk belajar sehingga memengaruhi masa depannya.

Beberapa risiko yang dapat terjadi pada bayi karena terlambat mengenalkan MPASI, yakni:

  • Memperlambat pertumbuhan bayi
  • Menyebabkan kekurangan zat besi pada bayi yang diberi ASI
  • Menunda fungsi motorik oral
  • Menyebabkan keengganan pada makanan padat
  • Menunda bayi mengenal makanan alerginya, seperti kacang tanah, telur maupun ikan.

Namun risiko paling menakutkan dari menunda MPASI adalah kemungkinan korelasi nutrisi oral yang tertunda di luar ASI atau susu formula, dengan leukimia limfoblastik. Kasus ini pertama kali diidentifikasikan oleh analisis kuantitatif di Texas Children's Cancer Center.

Kapan waktu tepat mengenalkan MPASI pada bayi?

Menurut Hoeker, bayi yang memasuki usia enam bulan membutuhkan makanan pendamping untuk mendukung pertumbuhan, memuaskan rasa lapar, dan membantu memenuhi kebutuhan energi, dan gizi. Meski umumnya bayi dikenalkan MPASI pada usia enam bulan, namun memberikan MPASI ke bayi, juga harus memperhatikan beberapa hal, seperti tanda-tanda kesiapan bayi.

Biasanya tanda-tanda ini umum ditunjukkan sekitar usia enam bulan, namun setiap bayi berbeda. Adapun tanda-tanda bayi siap diberikan MPASI, di antaranya:

  • Bisa menahan kepala, dan duduk tegak
  • Penasaran pada makanan yang dilihatnya
  • Kehilangan refleks mendorong lidah yang secara otomatis membuat makanan keluar dari mulut
  • Tampak lapar meski sudah menyusu dengan porsi yang banyak
  • Mengambil, dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya secara mandiri

Selain itu, Bunda sebaiknya juga berkonsultasi dengan dokter anak. Jika bayi menunjukkan tanda-tanda tersebut, dan dokter setuju bayi diberikan MPASI, Bunda bisa segera mulai memberikannya.

Berdasarkan pada saran yang diberikan AAP, bayi sebenarnya tidak membutuhkan banyak makanan padat pada usia enam bulan. Si kecil hanya membutuhkan beberapa sendok makan makanan kaya zat besi per hari.

Sebagai tahap awal, Bunda bisa mencoba 1-2 sendok teh makanan, lalu tingkatkan sesuai dengan nafsu makan bayi. Pada usia 12 bulan, bayi harus makan sekitar tiga porsi kecil sehari ditambah ASI atau susu formula.

Tekstur makanan saat pertama kali memberikan MPASI harus dihaluskan atau lembut. Setelah itu, bayi bisa diberikan makanan cincang, dan yang dipotong-potong atau finger food.

Pemberian MPASI di waktu yang tepat tak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi lho, Bunda. Ini juga bermanfaat untuk si kecil agar dapat belajar mengunyah, dan mengunyah membantu perkembangan bicaranya. Selain itu, juga membantu mendorong pemberian makan mandiri, dan mencegah kesulitan makan saat bayi berkembang.

Bunda, simak juga tips Farah Quinn agar anak suka makan buah dan sayur dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi