sign up SIGN UP search


parenting

9 Makanan yang Harus Bunda Hindari Saat Berikan MPASI ke Bayi

Annisa Afani Kamis, 12 Nov 2020 21:13 WIB
Close-up shot of mother spoon feeding her baby girl. caption
Jakarta -

Air susu ibu (ASI) merupakan sumber nutrisi yang penting untuk mendukung tumbuh dan kembang bayi hingga mencapai usia 6 bulan. Setelah itu, bayi akan mulai membutuhkan lebih banyak nutrisi yang dapat dipenuhi dengan makanan pendamping ASI (MPASI).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif sampai usia bayi 6 bulan dan MPASI pada usia 6 bulan. Mengutip dari HealthLine, jika bayi diberi MPASI lebih awal, dapat menyebabkan bayi menyusu lebih sedikit sehingga mengarah pada diet yang rendah protein, lemak, dan nutrisi lainnya.

Sementara memulai MPASI lebih dari usia 6 bulan juga enggak baik, Bunda. Itu karena akan membuat bayi sulit mengerti pada makanan dan mungkin membutuhkan ahli untuk membantunya mempelajari cara mengonsumsi makanan padat.


"Usia yang disarankan untuk memulai makanan padat adalah enam bulan, meskipun bisa bervariasi beberapa minggu, cari tanda-tanda kesiapannya," kata Becky Blair, ahli diet terdaftar, dikutip dari Today's Parent.

Adapun beberapa tanda bayi siap untuk MPASI, yakni:

  • Mampu menahan kepala dan duduk tegak.
  • Memiliki rasa penasaran saat melihat makanan di sekitarnya.
  • Telah kehilangan refleks mendorong lidah yang secara otomatis mendorong makanan keluar dari mulut.
  • Masih tampak lapar meski sudah menyusu dengan porsi yang banyak
  • Bisa mengambil makanan dan memasukkannya ke dalam mulutnya secara mandiri.
  • Jika tanda-tanda ini muncul sebelum bayi berusia sekitar 6 bulan, Bunda dapat membicarakan dan mengonsultasikannya kepada dokter anak sebelum memutuskan
  • memberi MPASI. Ini penting karena pada usia tersebut sistem pencernaan bayi mungkin belum cukup matang untuk menerima makanan padat.

Sebaliknya, jika bayi sudah mencapai 6 bulan dan belum menunjukkan tanda, Bunda perlu memeriksakannya. Pada usia tersebut, bayi membutuhkan lebih banyak nutrisi daripada yang didapatnya dari ASI atau susu formula, sehingga peran MPASI akan sangat penting dalam memengaruhi perkembangannya.

Berapa banyak MPASI untuk bayi 6 bulan?

Menurut WHO, bayi usia 6 bulan direkomendasikan mengonsumsi MPASI sebanyak 2-3 kali sehari selain ASI atau susu formula, Bunda. Soal berapa banyak atau porsi makanan yang harus mengisi perut kecilnya adalah mulai dari 1 satu sendok teh hingga empat sendok makan per makan.

Melansir Raised Real, porsi tersebut dianggap tidak terlalu sedikit. Selain karena bayi belum terbiasa dengan jadwal pemberian MPASI, si kecil juga masih mendapatkan sebagian besar nutrisinya dari ASI atau susu formula.

Terutama pada bayi yang menyusu sebelum makan, mungkin Bunda hanya bisa melihatnya mengonsumsi MPASI dengan porsi yang lebih sedikit. Meski begitu, dalam dua hingga empat bulan ke depan, si kecil akan mulai terbiasa. Mereka akan lebih sering mengonsumsi makanan padat dan mendapatkan lebih banyak nutrisi darinya.

MPASI biasanya diberikan pada di pagi hari, camilan di tengah hari, kemudian MPASI lagi pada makan malam. Namun untuk pemberian MPASI pertama kali, dianjurkan memberikannya lebih awal di hari tersebut, sehingga Bunda dapat melihat reaksi dari anak pada makanannya.

"Mereka harus makan tiga kali sehari, dengan dua kali makan dan camilan di antaranya," kata dokter anak Sara DuMond, dikutip dari Parents.

Perlu untuk diketahui juga, hindari memberi MPASI saat bayi kelaparan dan menangis ya, Bunda. Jika dalam keadaan seperti itu, lebih baik berikan ASI atau susu formula lebih dahulu, selanjutnya baru bisa diberi MPASI.

MPASI wajib dihindari untuk bayi

Bayi yang sedang tumbuh akan menunjukkan minat untuk mencoba makanan baru, dan wajar jika Bunda ingin mengenalkan mereka pada rasa dan tekstur baru. Namun tidak semua makanan aman untuk bayi.

Dikutip dari Family Education, berikut ini beberapa makanan yang harus dihindari selama tahun pertama kehidupan bayi:

1. Madu

Bayi di bawah usia 1 tahun tidak boleh diberi makan madu dalam bentuk apapun. Madu bisa memberi dampak buruk untuk bayi karena dapat menampung clostridium botulinum, yang bisa menghasilkan spora botulinum.

Spora ini mengeluarkan racun yang bisa menyebabkan kelemahan otot, kurang mengisap, tangisan lemah, sembelit, penurunan tonus otot, bahkan kelumpuhan pada bayi berusia dini. Pencernaan bayi belum sempurna, sehingga tidak cukup kuat untuk melawan spora dan racun ini.

2. Susu sapi

Bunda sebaiknya tetap memberikan ASI atau susu formula sampai usianya 1 tahun. Anak di usia 1 tahun tidak bisa mencerna enzim, dan protein dalam susu sapi, dan mineral tertentu di dalamnya bisa menyebabkan kerusakan pada ginjal bayi.

Selain itu, tidak seperti ASI atau susu formula, susu sapi tidak memberikan semua nutrisi yang tepat untuk bayi yang sedang tumbuh.

3. Putih telur

Jangan berikan produk telur kepada anak di bawah usia 1 tahun untuk menghindari reaksi alergi atau alergi di masa mendatang. Meski protein dalam kuning telur jarang menjadi sumber alergen, sedangkan protein dalam putih telur bisa menyebabkan reaksi alergi.

4. Jeruk

Hindari memberi jeruk dan jus jeruk pada bayi selama beberapa bulan pertama kehidupannya. Jeruk tinggi vitamin C dan asam, yang bisa menyebabkan sakit perut dan atau refluks asam pada bayi.

5. Seafood

Alergen potensial lain bagi bayi adalah seafood, terutama kerang-kerangan. Karena itu, jika Bunda ingin memberi makan bayi dengan ikan, konsultasikan dahulu ke dokter. Sebaiknya hindari kerang-kerangan, seperti udang, kerang, atau kepiting kepada bayi.

6. Gandum

Gandum bisa memicu alergi, sehingga sebaiknya tunggu sampai anak berusia satu, dua, atau tiga tahun sebelum memberikan gandum. Jika bayi sudah diperiksakan ke dokter dan yakin tidak akan mengalami reaksi alergi terhadap nasi, gandum, atau barley, Bunda bisa mencoba mengenalkan gandum pada usia delapan atau sembilan bulan.

7. Makanan dalam potongan besar

Bayi yang baru mulai MPASI sebaiknya diberikan makanan seukuran kacang polong untuk mencegah tersedak. Pastikan sayuran dipotong dadu dan dimasak dengan lembut. Selain itu, potong buah menjadi empat bagian agar tidak tersangkut di tenggorokan. Daging dan keju harus dipotong kecil-kecil atau diparut.

8. Makanan lunak

Makanan seperti jeli, marshmallow, dan jenis makanan lunak lainnya tidak boleh diberikan ke bayi. Makanan ini bisa dengan mudah masuk ke tenggorokan bayi.

9. Makanan kecil dan keras

Makanan seperti kacang-kacangan, popcorn, anggur utuh, sayuran mentah, kismis, permen, buah-buahan kering, biji-bijian, atau makanan keras kecil lainnya tidak boleh diberikan kepada bayi. Itu karena makanan tersebut berbahaya dan bisa dengan mudah tersangkut di tenggorokan bayi. Makanan apa pun yang Bunda berikan ke bayi harus dipotong kecil-kecil, dan dimasak sampai lunak.

Bunda perlu diperhatikan, jika bayi tidak tertarik untuk mengonsumsi MPASI setelah selama beberapa minggu, atau jika mereka mengalami masalah makanan seperti tersedak atau muntah, segeralah konsultasi ke dokter anak ya, Bunda.

Bunda, simak juga yuk resep sushi untuk MPASI anak usia setahun dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi