sign up SIGN UP search


parenting

Jarang Disadari Orang Tua, Begini Bentuk dan Tanda Kekerasan pada Anak

Inkana Putri Minggu, 10 Jan 2021 13:22 WIB
Tanda kekerasan pada anak
Poster caption

Tanda kekerasan pada anak

1. Muncul luka

Adanya luka di tubuh anak menjadi salah satu hal termudah yang menjadi tanda kekerasan fisik pada anak. Beberapa luka kekerasan pada anak umumnya berupa memar, luka bakar, fraktur, cedera, atau cedera kepala. Jika ditemukan luka, Bunda bisa tanyakan Si Kecil mengenai penyebab luka tersebut.

Apabila luka tidak sesuai dengan kejadian yang diceritakannya, Bunda patut curiga akan hal ini. Memar adalah gejala yang sering ditemukan pada child abuse dan dapat ditemukan di berbagai permukaan tubuh seperti tulang kering, lengan bawah, dagu, dan alis. Selain itu, memar pada bokong, punggung, genitalia, telinga, dan telapak tangan juga jarang disebabkan karena kecelakaan.

Memar yang baru biasanya berwarna biru, atau merah-keunguan dan yang lama berwarna kuning, hijau, atau coklat. Saat ditemukan memar atau luka parah, sebaiknya Bunda segera periksakan ke dokter.


2. Ketakutan

Kekerasan seksual pada anak tak jarang menimbulkan ketakutan di dalam dirinya. Akibatnya, anak menjadi lebih murung dan diam dari biasanya. Bahkan, beberapa anak mengalami depresi berlebihan. Jika hal ini terjadi, Bunda bisa ajak bicara anak secara perlahan hingga ia bercerita penyebab ketakutannya.

3. Perubahan perilaku

Beberapa tanda kekerasan pada anak yang diabaikan, yakni perubahan perilaku. Anak yang mengalami kekerasan terkadang cenderung melarikan diri, sering absen sekolah, mencuri atau mengemis, dan tak terawat. Beberapa anak juga sering terlihat bau, kotor, dan berperilaku aneh atau irasional lainnya.

4. Keluhan penyakit

Anak yang mengalami kekerasan seksual atau fisik biasanya sering mengeluh sakit dan nyeri. Ada juga anak yang mengalami keluhan seperti perdarahan, gatal-gatal, gangguan tidur, hingga timbul fobia. Bila Bunda menjumpai tanda dan gejala seperti ini, segera periksakan ke dokter.

Bentuk dan tanda kekerasan pada anak memang penting untuk disadari sedini mungkin. Pasalnya, jika dibiarkan, bisa menimbulkan bahaya pada anak seperti cacat hingga trauma psikis mendalam. WHO juga menyebut kekerasan seksual pada anak dapat meningkatkan risiko HIV dan infeksi menular seksual, kehamilan yang tidak diinginkan, isolasi sosial dan trauma psikologis.

Guna mengantisipasi hal ini, Bunda perlu mencegah faktor yang mengakibatkan kekerasan pada anak baik dari segi anak, orang tua maupun lingkungan masyarakat. Faktor masyarakat bisa terjadi karena tingginya tingkat kriminalitas, kemiskinan, pengangguran, serta perumahan yang padat dan kumuh.

Kekerasan anak juga bisa muncul karena faktor orang tua yang dahulunya mengalami kekerasan fisik atau seksual pada masa kecil, atau riwayat masalah kesehatan mental.

Sementara itu, faktor anak meliputi adanya vulnerable children, yaitu anak dengan cacat fisik, cacat mental, anak yang tidak diinginkan, atau anak dari orang tua pecandu obat-obatan terlarang. Anak dengan kondisi tersebut biasanya memiliki risiko lebih besar untuk memperoleh kekerasan seksual.

Tak hanya itu saja, Bunda juga sebaiknya mencari cara lain dalam mendidik dan mengasuh anak selain memukul, memaki, atau melakukan tindak kekerasan lainnya.

(som/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi