sign up SIGN UP search


parenting

Mengenal Penyebab Hipospadia, Kelainan Penis Bawaan Lahir pada Anak Laki-laki

Annisa Karnesyia Kamis, 08 Jul 2021 19:45 WIB
Anak laki-laki caption
Jakarta -

Hipospadia kini bukan lagi kelainan medis yang tabu di masyarakat. Kondisi medis yang terjadi pada anak laki-laki ini mulai diketahui banyak orang, Bunda.

Dilansir Mayo Clinic, hipospadia adalah cacat lahir atau kondisi bawaan di mana lubang kencing atau uretra berada di bagian bawah penis. Uretra adalah tempat di mana urin mengalir dari kandung kemih dan ke luar tubuh.

Kondisi hipospadia bisa membuat anak sulit berkemih lho. Selain itu, apabila tidak segera ditangani, anak bisa mengalami masalah saat berhubungan seksual ketika dewasa.


Menurut Konsultan Dokter Spesialis Urologi Siloam Hospitals ASRI dr. Arry Rodjani, Sp.U (K), hipospadia ditandai dengan lubang saluran kencing tidak di ujung penis, tapi berada di bawah batang penis. Selain itu, kulit kulup tidak menutup sampai ke bagian bawah, tapi hanya di bagian atas dan penis akan tampak bengkok ketika ereksi.

"Kalau dibiarkan sampai anak besar, akan sulit sexual intercourse dan buang air kecil (BAK) harus duduk karena kalau sambil berdiri akan membasahi celananya," kata Arry dalam Virtual Media Briefing bersama Siloam Hospitals ASRI via Zoom, belum lama ini.

Hipospadia tidak menimbulkan rasa sakit namun menyebabkan gangguan saat berkemih, Bunda. Kelainan ini juga menimbulkan dampak jangka panjang, seperti gangguan pada fungsi reproduksi, infertilitas, dan psikologi bila tidak ditangani dengan benar.

"Prevalensinya ditemukan 1 dari 200-300 kelahiran bayi laki-laki. Di Indonesia sendiri belum ada studi epidemiologinya," ujar Arry.

Penyebab Hipospadia

Menurut dokter spesialis anak, dr.Melisa Anggraeni, M.Biomed, Sp.A, hipospadia biasanya ditemukan di awal dan bisa diamati sejak bayi lahir. Beberapa pasien dengan kondisi ini bisa disertai kelainan genetik lain atau hormonal, Bunda.

"Kelainan genital memang sering ditemukan pada bayi, tapi kalau kasus hipospadia enggak terlalu sering juga ditemukan," kata Melisa, saat dihubungi HaiBunda beberapa waktu lalu.

Kelainan kongenital hipospadia bisa disebabkan beberapa hal, yakni:

  1. Faktor genetik, yakni ada riwayat keturunan yang pernah mengalami masalah ini.
  2. Usia ibu hamil di atas 35 tahun berisiko melahirkan bayi dengan kelainan kongenital, seperti hipospadia. Wanita usia di atas 35 tahun dikaitkan dengan sel telur yang kurang bagus.
  3. Penyakit penyerta atau komorbid, seperti diabetes melitus atau obesitas.
  4. Paparan tambahan, seperti paparan bahan kimia selama kehamilan.
  5. Berat badan lahir bayi rendah.

Tanda atau gejala hipospadia

Pada anak yang mengalami hipospadia, lubang kencing terletak di bagian bawah penis, bukan di ujungnya. Dalam kebanyakan kasus, lubang juga terdapat di dalam kepala penis. Hipospadia dapat ditandai dengan:

  • Lubang kencing atau uretra berada di liokasi selain ujung penis
  • Derajat kelengkungan atau kurva penis cenderung ke arah bawah
  • Bentuknya penis berbeda karena bagian atasnya ditutupi oleh kulup
  • Aliran air kencing anak tidak normal.
Anak laki-lakiIlustrasi anak laki-laki/ Foto: iStock

Tingkat keparahan hipospadia

Tingkat keparahan hipospadia dibagi menjadi ringan, sedang, dan berat. Sayangnya, lokasi anatomi dari ujung lubang saluran kemih mungkin tidak selalu cukup untuk menjelaskan tingkat keparahan dan sifat komplek dari penyakit ini.

Dalam melihat tingkat keparahan, dokter biasanya perlu mempertimbangkan panjang penis, ukuran, bentuk, kualitas lempeng saluran kemih, dan derajat kelengkungan penis.

Penangaan hipospadia

Hipospadia bisa ditangani melalui operasi rekonstruksi, Bunda. Idealnya operasi dilakukan ketika anak berusia 6 sampai 24 bulan ya.

Operasi rekonstruksi dilakukan dengan dua cara, yakni fungsional dan kosmetik. Secara fungsional, penis akan dibuat menjadi lurus dan lubang saluran kemih dibuatkan sampai mendekati ujung penis.

Selain untuk menghindari masalah ereksi dan mengatasi masalah berkemih, operasi ini bertujuan untuk kosmetik, yakni membuat penis memiliki bentuk seperti sudah sunat.

Kata Melisa, kondisi hipospadia akan ditangani dokter anak yang bekerja sama dengan dokter urologi anak. Operasi mungkin akan dilakukan beberapa kali disertai dengan perawatan hormonal bila anak mengalami masalah ini.

"Karena ini termasuk operasi korektif, bisa jadi membutuhkan beberapa kali operasi. Bisa juga disertai dengan kelainan hormonal jadi semuanya harus dikoreksi," kata Melisa.

"Beberapa anak juga mengalami kekurangan hormon seks. Meski sudah dioperasi, penis masih kecil karena kekurangan hormon testosteron. Kalau seperti ini, setelah operasi pertama biasanya kita bantu dengan terapi hormon," sambungnya.

Kapan membawa anak ke dokter?

Bunda bisa membawa anak ke dokter bila melihat tanda-tanda hipospadia pada si Kecil. Sejak dini, kita bisa mengidentifikasi genital anak, termasuk panjang penis, lokasi lubang kencing, dan bentuk penis.

Semakin dini diketahui, semakin tepat penangananya. Setelah melihat tanda-tanda, Bunda enggak perlu ragu untuk ke dokter memeriksakan buah hati.

"Kalau ibu-ibu merasa bentuk testis dan penis anak ini enggak seperti yang dilihat di internet, boleh coba konsultasi. Dokter benar-benar harus cek di mana letak lubang uretranya dan apakah testis sudah turun atau ukuran dan bentuknya normal," ujar Melisa.

Tanda lainnya yang bisa menjadi acuan hipospadia adalah masalah berkemih. Anak dengan hipospadia biasanya akan mengalami kesulitan berkemih saat dilatih toilet training.

(ank/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi