PARENTING
Kenali Ciri-ciri Kejang Pada Bayi 0-6 Bulan dan Cara Mengatasinya
Annisya Asri Diarta | HaiBunda
Rabu, 17 Apr 2024 04:00 WIBKejang pada bayi saat merupakan momen yang menakutkan bagi para orang tua. Meski jarang terjadi, kejang pada bayi bisa menjadi tanda gejala kondisi medis serius atau hanya respons tubuh terhadap rangsangan yang tidak biasa. Bunda perlu mengetahui penyebab, gejala, serta langkah-langkah yang harus diambil jika bayi mengalami kejang.
Salah satu penyebab umum kejang pada bayi adalah demam tinggi, yang dapat memicu kejang demam. Walaupun kejang demam biasanya tidak membahayakan dan jarang menyebabkan komplikasi, tetapi bisa menjadi momen yang mengkhawatirkan bagi orang tua.
Selain itu, kondisi medis seperti epilepsi, infeksi, trauma kepala, dan ketidakseimbangan elektrolit juga dapat menyebabkan kejang pada bayi. Bunda perlu memahami ciri-ciri dan tindakan yang tepat saat bayi mengalami kejang untuk mengurangi kecemasan dan memberikan bantuan yang diperlukan.
Penyebab kejang pada bayi
Kejang pada bayi disebabkan oleh beberapa hal. Berikut penjelasannya, Bunda.
1. Infeksi bakteri dan virus
Ketika terkena infeksi bakteri terutama bakteri streptokokus Grup B, bayi akan mengalami kondisi serius seperti meningitis, hal ini dapat memicu terjadinya kejang. Ensefalitis virus juga dapat mengakibatkan peradangan pada otak bayi dan sering kali menjadi pemicu terjadinya kejang.
Virus umum seperti flu dapat meningkatkan suhu tubuh bayi sehingga meningkatkan risiko kejang demam.
2. Kejang demam
Kejang demam merupakan kondisi yang sering terjadi pada bayi, terutama pada usia enam bulan ketika sistem kekebalan tubuh masih berkembang. Hal ini biasanya terjadi ketika suhu tubuh meningkat secara cepat selama infeksi virus atau bakteri, sehingga menyebabkan bayi mengalami kejang.
Meski kejang demam biasanya berlangsung hanya beberapa menit, hal ini dapat mengejutkan dan menakutkan bagi orang tua. Bunda perlu mengetahui cara merespons dengan benar saat bayi mengalami kejang demam, termasuk memberikan perawatan pertolongan pertama dan menghubungi profesional medis jika diperlukan.
Ciri-ciri kejang pada bayi
Ciri-ciri kejang halus ditandai dengan gejala yang dialami bayi sebagai berikut:
- Bayi akan memutar mata, berkedip, dan menatap
- Pergerakan mata yang tidak terkontrol
- Lidah terlihat menonjol
- Bayi mulai melakukan pergerakan seperti bersepeda kaki
- Bayi merasakan jeda panjang di antara napas
Sedangkan kejang tonik ditandai dengan gejala yang dialami pada bayi sebagai berikut.
- Tubuh menjadi kaku sepenuhnya
- Lengan dan kaki mereka dalam posisi yang canggung kemudian mulai menekuk
- Posisi kepala terjaga di satu sisi saja
- Mengalihkan pandangan ke satu sisi
Apakah kejang pada bayi berbahaya?
Kejang pada bayi merupakan kondisi yang perlu mendapatkan perhatian medis segera. Walaupun kejang pada bayi cukup jarang terjadi, setiap kejadian kejang harus dianggap sebagai keadaan darurat neurologis. Sekitar 1-5 bayi dari setiap 1.000 bayi mengalami kejang dalam empat minggu pertama kehidupannya.
Meski beberapa kejang hanya terjadi sekali dan berlangsung hanya beberapa menit tanpa menyebabkan kerusakan permanen, kejang yang sering atau berkepanjangan dapat menyebabkan risiko kerusakan otak. Hal ini disebabkan oleh gangguan sirkulasi oksigen ke otak dan aktivitas sel otak yang berlebihan selama kejang.
Oleh sebab itu, Bunda perlu memberikan pengobatan yang tepat kepada bayi yang sering mengalami kejang untuk mencegah terjadinya kerusakan otak yang lebih serius.
Beda kejang biasa dan kejang demam pada bayi
Kejang biasa pada bayi disebabkan cedera kepala. Cedera kepala pada bayi bisa terjadi karena jatuh, terbentur, atau trauma saat kelahiran. Kejang biasa merupakan respons otak terhadap kerusakan atau gangguan yang terjadi pada tubuh, termasuk dalam kasus cedera kepala.
Sedangkan kejang demam merupakan kejang yang disebabkan oleh demam pada saat Si Kecil sakit. Biasanya terjadi pada bayi usia enam bulan sampai lima tahun.
Cara mengatasi kejang pada bayi
Pengobatan kejang pada bayi sering kali disesuaikan dengan penyebabnya dan mencakup penggunaan obat antikonvulsan seperti fenobarbital, fenitoin, atau zonisamida. Jika kejang disebabkan oleh kekurangan oksigen, dokter mungkin akan menggunakan pengobatan hipotermia untuk mendinginkan otak dan tubuh bayi sebagai upaya pencegahan kerusakan otak. Prosedur ini biasanya dilakukan pada bayi yang mengalami kesulitan bernapas saat lahir.
Jika kejang yang berulang, beberapa bayi memerlukan pengobatan jangka panjang untuk mencegah kejang kambuh. Sebelum meresepkan rencana pengobatan yang tepat, dokter akan mencari tahu penyebab pasti dari kejang tersebut.
Pengobatan akan disesuaikan pada kondisi spesifik bayi, seperti epilepsi atau penyakit lainnya seperti meningitis. Dengan diagnosis yang akurat dan pengobatan yang tepat, diharapkan bayi dapat mendapatkan perawatan yang efektif untuk mengelola kejang dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Komplikasi dari kejang demam pada anak
Kejang demam biasanya terjadi pada anak yang memiliki demam tinggi dan cenderung terjadi pada usia 6 bulan hingga 5 tahun. Risiko setelah kejang demam pada anak dengan epilepsi tidak begitu parah dibandingkan anak lainnya yang belum pernah mengalami kejang demam.
Namun, jika kejang demam terjadi berulang kali atau terjadi dengan riwayat epilepsi. Bunda perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter untuk mengevaluasi risiko epilepsi. Bunda perlu memahami kondisi tersebut dan berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan informasi dan saran yang tepat.
Demikian ulasan tentang ciri-ciri kejang pada bayi. Semoga bermanfaat untuk antisipasi kesehatan Si Kecil ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
Simak video di bawah ini, Bun:
Kenali Bahaya Shaken Baby Syndrome, Guncangan Keras pada Kepala Bayi
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
5 Penyebab Kejang pada Anak, Waspadai Gejalanya Ya Bunda
Pakai Gorden Blackout Bantu Bayi Tidur Lebih Nyenyak
5 Mitos & Fakta Tanda Lahir Bayi, Salah Satunya Bisa Tunjukkan Karakter
Anak Yasmine Wildblood Sempat Kejang hingga Dirawat 6 Hari di Rumah Sakit
TERPOPULER
Persiapan Nikah, Jennifer Coppen dan Justin Hubner Unggah Foto Berlatar Biru
5 Potret Mahalini & Rizky Febian Ajak Anak ke Maroko, Baby Selina Happy Lihat Unta
Mirip AC, Ini 9 Tanaman yang Bisa Mendinginkan Ruangan
5 Potret Wajah Tampan Rasheed Putra Nabila Syakieb yang Jarang Tersorot
Cerita Dongeng Persahabatan Gajah dan Tikus Penuh Makna Sebelum Tidur
REKOMENDASI PRODUK
3 Tips Jaga Pencernaan Anak saat Bepergian
Tim HaiBundaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Muted Lip Tint, Pas untuk Makeup Look Lembut
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Rekomedasi Susu Program Hamil untuk Dukung Keberhasilan Promil
Dwi Indah NurcahyaniREKOMENDASI PRODUK
Review Eomma Head to Toe Happiness, Sampo & Sabun Mandi untuk Perawatan Bayi
Firli NabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Lipstik Warna Muted, Ada Pilihan Bunda?
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
7 Ide Makeup Bridesmaid ala Artis Indonesia, Simpel dan Memesona
Persiapan Nikah, Jennifer Coppen dan Justin Hubner Unggah Foto Berlatar Biru
Terpopuler: Potret Ardio Anak Andre Taulany yang Kuliah di Inggris
5 Potret Mahalini & Rizky Febian Ajak Anak ke Maroko, Baby Selina Happy Lihat Unta
Mirip AC, Ini 9 Tanaman yang Bisa Mendinginkan Ruangan
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Terpopuler: Inara-Insan Tak Bisa Sahkan Pernikahan vs Sosok Tata Cahyani
-
Beautynesia
Perbedaan Air Lemon dan Air Cuka Apel untuk Diet, Mana yang Terbaik?
-
Female Daily
Tampil Anggun dengan Adat Jawa, Intip Penampilan Patricia Schuldtz saat Menikah!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Bukan Janur Kuning, Viral Pengantin di Lumajang Pasang Banner Jadi Sorotan
-
Mommies Daily
Ternyata Ini 10 Hal yang Paling Bikin Pasangan Baru Menikah Overthinking soal Anak