PARENTING
9 Cerita Dongeng untuk Anak TK dan Paud yang Mendidik Sebelum Tidur
Kinan | HaiBunda
Jumat, 06 Feb 2026 20:20 WIBUntuk anak usia TK dan PAUD, dibacakan dongeng sebelum tidur bisa membantu meningkatkan kosa katanya lho, Bunda. Pernah rutin bacakan dongeng untuk Si Kecil?
Selain memperkaya perkembangan bahasa dan bicara anak, memperkenalkan dongeng pada anak sejak dini juga bisa menjadi salah satu cara untuk menanamkan nilai-nilai positif dalam kehidupannya.
Dikutip dari Raising Children, anak yang sering dibacakan dongeng juga berpotensi memiliki ikatan emosional yang lebih kuat dengan orang tua.
Penelitian bahkan menunjukkan bahwa ketika orang tua berinteraksi secara verbal dengan anak-anak, termasuk dengan membacakan cerita sebelum tidur, ini dapat membantu menurunkan stres pada anak.
"Ada indikasi yang jelas tentang perbedaan neurologis antara anak-anak yang secara teratur dibacakan cerita dan yang tidak. Jadi kebiasaan ini sangat baik dilakukan secara rutin," ujar peneliti dari National Institute of Child Health and Human Development, Bethesda, G. Reid Lyon, Ph.D, seperti dikutip dari Parents.
Kumpulan cerita dongeng untuk anak TK dan PAUD sebelum tidur
Berikut beberapa pilihan cerita dongeng untuk anak TK dan PAUD yang bisa Bunda bacakan sebelum tidur:
1. Tuah, Tupai si Pantang Menyerah
Dongeng ini dikutip dari buku 5 Dongeng Anak Dunia oleh Dedik Dwi Prihatmoko yang diterbitkan oleh Kemendikbud RI.
Di daerah perbukitan Pulau Jawa, terdapat kumpulan tupai pemakan buah kelapa. Para tupai jantan memiliki kegemaran unik yaitu meloncat dari ranting pohon ke ranting pohon lainnya.
Sementara para tupai betina lebih suka merayap. Mereka tidak berani untuk meloncat.
Tetapi berbeda dengan Tuah, tupai betina si pantang menyerah. Dia ingin sekali dapat meloncat. Oleh karena itu, Tuah mendatangi Eyang Tupai.
Beliau adalah pelatih yang selama ini mengajari para tupai jantan meloncat.
"Eyang, jadikanlah aku muridmu seperti para tupai jantan itu," pinta Tuah.
"Kamu perempuan, sudahlah tidak perlu kamu susah payah berlatih loncat padaku,” jawab Eyang Tupai.
"Tolonglah Eyang, aku ingin seperti para tupai jantan yang dengan mudah meloncat dari satu pohon ke pohon lain," ucap Tuah dengan nada memohon.
Eyang Tupai akhirnya merasa kasihan melihat Tuah yang begitu ingin berlatih melompat padanya. Eyang pun melatih Tuah sama seperti melatih tupai jantan lainnya.
Hari pertama latihan menjadi hari yang cukup buruk. Tuah jatuh berkali-kali. Begitupun di hari kedua, ketiga, keempat, dan kelima.
Sepekan sudah lamanya Tuah berlatih. Ia berusaha keras untuk menjadi peloncat seperti tupai jantan, tetapi belum ada tanda-tanda keberhasilan.
"Sudahlah Tuah, kau tidak usah menyiksa tubuhmu seperti ini. Terimalah keadaanmu seperti apa adanya".
"Tidak Eyang, aku hanya perlu berlatih lebih keras lagi, aku akan seperti tupai jantan yang dapat melompat dengan lincahnya," ucap Tuah.
Ia pun kembali berlatih sesuai apa yang diajarkan Eyang Tupai sebelumnya.
Dalam hati Eyang Tupai berkata, "Tupai betina ini sungguh pantang menyerah".
Tidak terasa, sudah dua bulan Tuah berlatih meloncat. Dan usahanya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Kini Tuah sudah dapat meloncat layaknya tupai jantan. Dari satu pohon ke pohon lainnya ia meloncat dengan indahnya.
"MasyaAllah.. Eyang kagum melihat perjuanganmu selama ini, Maafkan Eyang ketika dulu pernah merendahkanmu sebagai seekor tupai betina yang lemah. Selamat atas keberhasilanmu!" ucap Eyang Tupai, si pelatih.
Berkat perjuangan Tuah, Eyang Tupai terketuk hatinya bahwa semua makhluk memiliki potensi yang sama, yang membedakan hanyalah usaha dan kerja
kerasnya.
Setelah kejadian itu, Eyang Tupai mulai membuka kelas latihan lompat secara terbuka, tanpa memandang ia tupai jantan ataukah betina, karena yang menentukan adalah sikap pantang menyerah dalam dirinya.
Jadi, kegigihan dan kerja keras akan membuahkan hasil sesuai dengan apa yang kita inginkan.
2. Leu, Lebah yang Bersatu
Leu adalah lebah madu yang tinggal diperbukitan Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Sebagai anak sulung dari sepuluh bersaudara, Leu berusaha untuk selalu menjaga kerukunan di antara adik-adiknya.
Adik-adik Leu hampir setiap hari bertengkar. Berawal dari senda-gurau hingga berlanjut pada perkelahian.
Melihat kejadian itu, beberapa hewan lain merasa terganggu akan kegaduhan yang hampir setiap hari mereka lakukan.
Leu mencoba mencari cara untuk menyadarkan kesembilan adiknya agar tetap rukun.
Muncullah sebuah ide. Leu mengambil satu ranting kayu dan sepuluh ranting kayu yang diikat menjadi satu.
Kesembilan adiknya diminta berkumpul. Alhamdulillah tidak ada yang absen untuk memenuhi panggilan Leu sang kakak.
"Terimakasih atas kedatangan kalian adik-adikku," ungkap Leu memulai obrolan.
"Di depan kalian ada satu ranting kayu dan satu ikat ranting kayu yang sengaja kakak ikat, siapa di antara kalian yang bisa mematahkan ranting-ranting ini?" tanya Leu pada adik-adiknya.
"Aku mau mencobanya," jawab adik Leu yang paling kecil.
Untuk mematahkan satu ranting kayu, adik Leu tidak mengalami kesulitan. "Ini sangat mudah untuk aku lakukan," ungkapnya.
Setelah itu, kakak Leu menyodorkan satu ikat ranting. Berbagai cara ia lakukan untuk mematahkan ikatan ranting kayu. Namun, ranting itu tetap tidak patah.
Adik Leu yang paling kecil pun menyerah dan meminta kakak-kakaknya yang lain untuk mencoba. Adik yang kedua pun ikut mencoba.
Satu ranting kayu dengan mudah dipatahkan, namun untuk satu ikat ranting kayu dia juga mengalami kesulitan.
Tenaga adik Leu dikeluarkan sekuat-kuatnya, tetapi usahanya pun masih tetap sia-sia. Adik Leu yang ketiga, keempat, kelima, hingga yang kesembilan pun mencoba untuk mematahkan ikatan ranting kayu itu, namun semua mendapat hasil yang sama yakni kegagalan untuk mematahkan ranting kayu yang sudah terikat menjadi satu.
"Inilah yang kakak ingin bilang, hiduplah seperti ranting kayu yang terikat menjadi satu. Semakin kita rukun, maka semakin kuat kemampuan kita. Begitupun sebaliknya, ketika kita sering bertengkar maka kerapuhan yang akan kita dapati."
Semua adik Leu merunduk tak dapat berkata apa-apa lagi selain merenungkan ucapan Kak Leu tentang sikap yang selama ini mereka lakukan.
Akhirnya, kesembilan adik Leu mulai sadar atas kekeliruan yang selama ini mereka lakukan. Adik-adik Leu lantas saling meminta maaf dan berjanji untuk tidak akan bertengkar dan marah-marahan lagi, dengan menjaga hubungan baik kepada saudara maupun teman-temannya.
Hikmah dari cerita ini adalah bahwa kerukunan merupakan kekuatan hubungan dalam hidup. Maka pupuklah kerukunan itu dengan mengedepankan prinsip bersatu di setiap waktu.
3. Kebati, Kelelawar yang Baik Hati
Di sebuah hutan Nusa Tenggara Barat, hiduplah sekelompok komodo, burung kakak tua, musang, kelelawar dan beberapa jenis hewan lainnya.
Mereka hidup rukun dan saling berdampingan. Di antara penduduk hutan, ada seekor kelelawar yang terkenal baik hati. Kelelawar tersebut biasa dipanggil Kebati.
Ia suka membantu penduduk hutan yang sedang mendapat kesulitan.
Suatu malam, terdengar bibi burung kakak tua meminta tolong. "Toloooong!! Toloooooong!! Tolooooong!!".
Mendengar hal itu kelelawar segera mendatangi bibi burung kakak tua. "Ada apa Bibi, malam-malam begini berteriak meminta tolong?" tanya Kebati.
"Anakku sakit dan aku tidak bisa pergi mencari obat karena cuaca di luar gelap," ungkap bibi kakak tua sambil meneteskan air mata.
Bibi kakak tua sangat sayang pada anak-anaknya. Namun ia tidak dapat melakukan apa-apa malam itu. Cuaca di luar gelap dan udara dinginnya tidak seperti hari-hari biasa. Mungkin hal itu yang menjadikan anaknya demam tinggi.
Sebagai orang tua tentu bibi kakak tua sangat panik. Ia tidak dapat melakukan apa-apa kecuali berdoa dan meminta bantuan kepada penduduk hutan.
Melihat hal itu Kebati kemudian menanyakan obat yang dibutuhkan kepada bibi kakak tua. "Obat yang dibutuhkan bisa diambil di mana? Biar aku yang mengambilnya," tanya Kebati sambil menatap bibi kakak tua.
"Obat itu ada di perbatasan hutan. Cukup jauh tempatnya dari sini. Obat itu bernama daun katuk. Mustahil untuk mengambilnya di cuaca gelap seperti ini," ungkap bibi kakak tua padanya.
"Tunggu sebentar! Aku akan mengambilkannya untuk anakmu, Bi," kata Kebati seraya bergegas terbang untuk mencari tanaman yang dimaksud.
Di malam yang dingin, Kebati terbang menuju perbatasan hutan. Dalam kegelapan, ia mengandalkan kemampuan ekolokasi yang dimilikinya.
Ia mampu mengeluarkan suara berfrekuensi tinggi untuk dipantulkan ke benda yang ada di sekitarnya dan dipantulkan kembali ke telingga.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, sampailah Kebati di perbatasan hutan. Ia mulai mencari daun katuk dengan kemampuan ekolokasinya.
Setelah menemukan daun katuk yang dia cari, Kebati segera pulang, untuk memberikan daun itu kepada bibi kakak tua.
Betapa senang bibi kakak tua melihat Kebati datang membawa daun katuk. Tanpa buang waktu, bibi kakak tua segera meramu daun katuk sebagai obat demam untuk anaknya.
Setelah meminum ramuan obat daun katuk, anaknya pun sembuh. Pagi harinya, Bibi kakak tua berkunjung ke rumah Kebati.
Bibi mengucapkan terimakasih dan memberikan bermacam-bermacam buah segar yang baru dipetiknya. Bibi kakak tua dan penduduk hutan semakin sayang pada Kebati, buah kepribadiannya yang baik hati.
Oleh sebab itu, ingatlah bahwa ketika kita berbuat kebaikan maka orang akan memberikan balasan kebaikan tanpa kita sadari di awal.
4. Tresalong, Trenggiling sang Penolong
Di sebuah padang sabana, Kalimantan Selatan. Tinggalah seekor trenggiling. Trenggiling itu bernama Tresalong. Ia dikenal sebagai trenggiling yang suka menolong.
Pada suatu hari, seekor harimau datang ke padang sabana. Dan dia membuat takut semua hewan. Kelinci, Tupai, dan Tresalong yang sedang bermain turut ketakutan melihat kedatangan harimau. Ketiganya bersembunyi di balik semak-semak.
"Ssttt....jangan berisik!" kata Tupai sambil memperhatikan harimau yang perlahan mulai mendekat.
Melihat langkah harimau yang semakin dekat, tubuh Kelinci gemetar ketakutan. Semak-semak tempat mereka bersembunyi bergoyang-goyang lantaran gerakan tubuh Kelinci yang tak bisa ditahan.
Harimau pun melihat hal itu. Perlahan harimau mendekat ke semak-semak.
"Hei! Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya harimau.
"Tidak, kami tidak sedang melakukan apa-apa," kata Tupai menjawab pertanyaan si Harimau.
"Baiklah, Aku lapar! Aku butuh daging segar. Apakah kalian bisa memberiku makanan yang aku butuhkan?" seru sang harimau kepada kelinci, tupai, dan Tresalong.
Mendengar hal itu, kelinci dan tupai semakin ketakutan. Mereka pasrah dengan nasib hidupnya. Tidak ada langkah lain kecuali menanti harimau mencabik-cabik tubuh mereka dan menyantapnya.
Tresalong menyadari kedua temannya ketakutan, Oleh karenanya, Tresalong mencoba berbicara pada harimau.
"Harimau, dagingku sangat lezat. Aku mau memberikan dagingku kepadamu asalkan kamu mau melepaskan dua temanku untuk pergi dari sini," ungkap Tresalong kepada harimau.
"Apa kamu rela dagingmu aku makan?" timpal harimau kepadanya.
"Aku rela asalkan dua temanku diizinkan pulang menyampaikan kematianku kepada orang tuaku," ungkap Tresalong meyakinkan harimau.
"Baiklah, kalau hanya itu maumu," pungkas Harimau.
Kelinci dan Tupai akhirnya diperkenankan untuk pergi menyampaikan keinginan Tresalong. Dengan berat hati keduanya beranjak pergi meninggalkan Tresalong dengan Harimau.
Saat dirasa cukup jauh, dan tak terlihat dari jangkauan mata, Tresalong segera meminta Harimau untuk mencicipi dagingnya.
Harimau yang sudah sangat lapar, tak mau menunggu lama, ia segera mendekat dan menyergap Tresalong.
Namun seketika itu Tresalong menggulingkan tubuhnya. Harimau tidak sadar bahwa Tresalong dapat menggulingkan tubuhnya dengan balutan sisik yang keras, dan membuat harimau kesusahan untuk memakannya.
Berulang kali harimau mencoba menggigit tubuh Tresalong namun usahanya sia-sia. Yang Harimau dapatkan justru rasa sakit pada taringnya karena berulang kali mengigit kerasnya sisik yang menyelimuti tubuh Tresalong.
Setelah beberapa waktu lamanya, harimau pun menyerah dan memutuskan untuk meninggalkan Tresalong.
Harimau pun pergi dengan perut keroncongan, karena ia tidak mendapat santapan daging untuk menu makan siang.
Sementara Tresalong justru gembira karena berhasil menyelamatkan kedua temannya dari buruan si Harimau.
Ketika Tresalong pulang, semua teman dan keluarga menyambut dengan penuh haru. Beragam ucapan terima kasih pun bersahut-sahutan datang dari Kelinci, Tupai dan orang tua kepada Tresalong.
Tresalong pun hidup bahagia atas sikap penolongnya. Berjiwalah sebagai penolong yang tulus dan milikilah kecerdikan dalam hidup untuk tujuan kebaikan. Karena dengan itu semua, kita akan mudah untuk membahagiakan diri sendiri maupun orang lain di sekeliling kita.
5. Batu Menangis
Alkisah, di sebuah desa terpencil hiduplah seorang janda tua dengan seorang putrinya yang cantik jelita bernama Darmi. Mereka tinggal di sebuah gubuk yang terletak di ujung desa.
Darmi memang cantik, parasnya indah menawan. Namun, tingkah lakunya sangatlah tidak cantik dan sifatnya sangatlah tidak menarik.
Setiap hari Darmi selalu bersolek di kamarnya. Ia tidak pernah mau membantu ibunya sedikit pun membereskan isi rumah. Kamarnya selalu berantakan. Darmi tidak peduli akan hal itu, ia hanya peduli pada wajahnya yang cantik jelita tiada terkira haruslah selalu tampil sempurna.
Ibunya Darmi yang sudah tua, setiap hari selalu bekerja keras demi mendapatkan uang. Apapun jenis pekerjaannya, selama itu halal, akan ia kerjakan. Semua itu ia lakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan Darmi, anak semata wayangnya.
Ibunya Darmi juga kerap diperlakukan seperti pembantu. Setiap ditanya siapa yang berjalan di belakangmu, ia selalu menjawab bahwa ibunya adalah budaknya.
Mendengar hal itu terus menerus, Ibu Darmi merasa sakit hati hingga berdo'a. Secara perlahan Darmi berubah menjadi batu. Ia terus menangis dan memohon kepada ibunya. Namun, semua sudah terlambat. Kini tubuhnya berubah menjadi batu yang terus mengeluarkan air mata.
Dari dongeng ini dapat dipahami pentingnya selalu hormat dan sayang kepada orang tua. Dongeng tersebut dikutip dari buku yang berjudul Batu Menangis oleh Noor H. Dee.
6. Gadis Kecil Penjual Korek Api
Gadis kecil ini bernama Meri. Meri sangat sedih ketika neneknya meninggal. Akhirnya ia hanya hidup dengan ayahnya.
Tapi ayah Meri sangat malas tidak mau bekerja, sehingga membuat mereka tidak punya cukup uang untuk membeli bahan makanan. Akhirnya, saat musim dingin tiba Meri keluar rumah dan menjual korek api.
Meri tidak pantang menyerah, walaupun kedinginan dan bajunya tidak tebal. Sudah beberapa hari korek apinya belum ada yang terjual. Hari semakin malam dan ia duduk di depan toko sambil menahan dingin dan lapar.
Akhirnya, ia menyalakan korek api untuk menghangatkan tangan sampai korek api itu habis dan Meri pingsan karena kedinginan. Esoknya warga menemukan Meri pingsan dan menyesal tidak membeli korek api Meri.
Pesan moral yang dapat diambil dari dongeng ini yakni pentingnya saling menolong. Jika mampu, sudah sepatutnya kita menolong tetangga, teman, dan orang-orang di sekitar.
7. Dongeng Cerita Putri Kerajaan: Putri Buruk Rupa dan Pangeran Tampan
Kisah ini dikutip dari buku 101 Dongeng Seru Sebelum Bobok, oleh Fitri Haryani Nasution:
Di suatu gubuk kecil di tengah hutan, hiduplah seorang putri yang Wajahnya dipenuhi bintik-bintik merah besar dan hidungnya lebar. Matanya besar dan rambutnya gimbal.
Ia tinggal seorang diri karena kedua orang tuanya sudah meninggal. Untuk menghabiskan waktu, ia sering bermain dengan para tikus, kelinci, rubah, dan hewan kecil lainnya.
Sang Putri sebenarnya ingin pergi ke desa. Namun, saat warga desa melihatnya, mereka selalu mengusirnya. Mereka bilang ia adalah putri yang terkena kutukan dan harus menjauh dari desa. Jika tidak, penduduk desa akan terkena kutukan juga.
Suatu hari, seorang pangeran berburu ke hutan. la mendapat perintah dari ayahnya untuk berburu seekor rusa karena akan ada pesta kerajaan. Pangeran pun masuk ke hutan bersama dua pengawalnya.
Sebentar saja, mereka mendapatkan rusa yang mereka inginkan. Seekor rusa bertubuh gemuk dibidik oleh panah sang Pangeran. Panah itu melesat dan mengenai kaki rusa. Rusa itu kesakitan dan segera berlari jauh ke dalam hutan. Pangeran dan dua pengawalnya mengejar.
Rusa itu lari ke tempat si Putri. la langsung mengadu kepada si Putri perihal yang terjadi. Si Putri segera mengobati lukanya. Setelahnya rusa itu berlindung di balik tubuh sang Putri. Tak lama, rombongan sang Pangeran sampai. Mereka sangat terkejut ketika melihat wajah sang Putri.
Kedua pengawal sang Pangeran langsung mengeluarkan pedangnya. Namun, si Pangeran malah menatap sang Putri. Sang Pangeran menemukan sebuah hati yang penuh kasih sayang dan kelembutan pada diri sang Putri. "Siapakah kau? Kenapa tinggal di sini?".
"Orang-orang memanggilku Putri Buruk Rupa. Aku tinggal di sini karena tidak ada yang menerima kehadiranku di desa. Rusa yang kalian lukai ini adalah temanku. Aku mohon kepada kalian agar melepaskannya," pinta sang Putri.
"Baiklah. Aku akan melepaskannya. Namun, aku punya permintaan sebagai gantinya. Kau harus ikut bersama kami ke istana," ucap sang Pangeran. Sang Putri terkejut dengan permintaan tersebut.
"Tapi ...."
"Jika tidak mau, rusa ini yang akan kami bawa.”
Sang Putri pun mau tidak mau setuju. Pangeran segera membawa sang Putri ke istana serta memperkenalkannya kepada ibu dan ayahnya. Raja dan Ratu sangat terkejut melihat penampilan sang Putri.
Namun, mereka adalah raja dan ratu yang sangat rendah hati. Karena dibawa oleh sang Pangeran, mereka mau menerima kehadiran si Putri.
"Kenapa kau tidak merasa jijik padaku?" tanya sang Putri.
"Aku tidak melihat rupamu. Aku melihat kebaikan hatimu," jawab sang Pangeran.
"Terima kasih, Pangeran".
Tanpa sang Putri sadari, wajahnya tiba-tiba berubah. Bintik-bintik merah di wajahnya hilang. la berubah menjadi seorang putri yang sangat cantik. Lalu, seorang peri datang di tengah mereka.
"Kau sudah menjalani cobaan dan berhasil kau lalui dengan baik. Kini, kau akan berubah selamanya menjadi putri yang cantik seperti ini." Setelahnya, peri itu menghilang.
8. Bawang Merah dan Bawang Putih
Dahulu kala hiduplah Bawang Putih dan saudara tirinya, Bawang Merah. Ibu Bawang Putih meninggal ketika ia masih bayi. Kemudian ayahnya menikah lagi dengan wanita lain dan memiliki anak bernama Bawang Merah.
Tak berselang lama, ayahnya pun meninggal. Setelah itu, kehidupan Bawang Putih amat menyedihkan. Kesehariannya, Bawang Putih selalu diminta untuk mengerjakan seluruh pekerjaan rumah termasuk mencuci baju.
Suatu hari ketika sedang mencuci, baju ibu tiri Bawang Putih hanyut. Bawang Putih pun bingung sampai akhirnya bertemu dengan seorang nenek yang mengatakan kalau ia menyimpan baju yang hanyut itu dan akan mengembalikannya dengan satu syarat. Bawang Putih harus membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Bawang Putih pun menuruti.
Setelah selesai, nenek itu mengembalikan baju ibu tirinya. Nenek itu juga memberinya hadiah. Bawang Putih harus memilih salah satu labu untuk dibawa pulang, ada labu besar dan labu kecil. Bawang Putih memilih yang kecil. Sesampainya di rumah alangkah terkejutnya ia beserta ibu dan saudara tirinya, ternyata labu itu berisi banyak perhiasan.
Keesokan harinya, Bawang Merah melakukan hal yang sama seperti Bawang Putih. Ia pura-pura menghanyutkan pakaiannya. Kemudian, memilih labu yang besar. Ketika dibuka labu itu malah berisi ular.
Bawang Merah dan ibunya pun merasa itu adalah bentuk teguran dari Tuhan untuk mereka karena sudah memperlakukan Bawang Putih layaknya seorang pembantu. Mereka menyadari semua kesalahannya selama ini pada Bawang Putih dan meminta maaf.
Makna dari dongeng ini adalah tidak boleh berperilaku buruk terhadap orang lain dan memiliki sifat serakah. Kita senantiasa harus selalu peduli dan memahami perasaan orang lain.
9. Si Beruang dan Lebah
Suatu hari, seekor beruang tengah menjelajahi hutan untuk mencari buah-buahan. Di tengah pencarian, ia menemukan pohon tumbang di mana terdapat sarang tempat lebah menyimpan madu.
Beruang itu mulai mengendus-endus dengan hati-hati di sekitar pohon tumbang tersebut untuk mencari tahu apakah lebah-lebah sedang berada dalam sarang tersebut.
Tepat pada saat itu, sekumpulan kecil lebah terbang pulang dengan membawa banyak madu. Lebah-lebah yang pulang tersebut, tahu akan maksud sang Beruang dan mulai terbang mendekati sang Beruang, menyengatnya dengan tajam lalu lari bersembunyi ke dalam lubang batang pohon.
Seketika Beruang tersebut menjadi sangat marah, loncat ke atas batang yang tumbang tersebut dan dengan cakarnya menghancurkan sarang lebah. Tetapi hal ini malah membuat seluruh kawanan lebah yg berada dalam sarang, keluar dan menyerang sang Beruang.
Beruang yang malang itu akhirnya lari terbirit-birit dan hanya dapat menyelamatkan dirinya dengan cara menyelam ke dalam air sungai.
Hal yang dapat dipelajari dari kisah beruang dan lebah ini adalah lebih bijaksana untuk menahan diri daripada menambah masalah akibat melampiaskan emosi.
Itulah penjelasan tentang berbagai pilihan cerita dongeng untuk anak TK dan PAUD sebelum tidur. Mana yang menjadi cerita favorit si Kecil nih, Bunda?
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
Tanpa Disadari, Anak yang Kurang Menarik Bisa Kurang Diperhatikan
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
6 Dongeng Anak Sebelum Tidur yang Mendidik
10 Dongeng Anak Sebelum Tidur Paling Populer
3 Cerita Dongeng Indonesia dengan Pesan Moral Terbaik untuk Si Kecil
Dongeng Cinderella dan Sepatu Kaca yang Bisa Bunda Ceritakan pada Si Kecil
TERPOPULER
7 Kebiasaan Baik untuk Mengurangi Stres dan Cemas
Berapa Kali Seminggu Hubungan Suami Istri yang Normal agar Hamil?
Na Daehoon Tulis Pesan Manis di Hari Ultah Anak, Intip 5 Potret Perayaannya
9 Cerita Dongeng untuk Anak TK dan Paud yang Mendidik Sebelum Tidur
150 Ucapan Happy Wedding yang Menyentuh dalam Bahasa Inggris hingga Arab
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Muted Eyeshadow untuk Look Lembut dan Tidak Mencolok
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Lotion Anti Nyamuk untuk Bayi yang Aman dan Melindungi Kulit Si Kecil
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
9 Sepatu Karet Perempuan Waterproof yang Nyaman saat Hujan, Cocok untuk Kerja
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Underpad Bayi untuk Perlindungan Maksimal, Pilih yang Aman dan Bagus Bun!
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Bidet Portable yang Bisa Dibawa Ibu Hamil saat Bepergian & Liburan
Dwi Indah NurcahyaniTERBARU DARI HAIBUNDA
7 Kebiasaan Baik untuk Mengurangi Stres dan Cemas
Na Daehoon Tulis Pesan Manis di Hari Ultah Anak, Intip 5 Potret Perayaannya
Berapa Kali Seminggu Hubungan Suami Istri yang Normal agar Hamil?
9 Cerita Dongeng untuk Anak TK dan Paud yang Mendidik Sebelum Tidur
150 Ucapan Happy Wedding yang Menyentuh dalam Bahasa Inggris hingga Arab
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Minta Isu Cerai Disetop, Nia Ramadhani Sebut Anak-anaknya Terganggu
-
Beautynesia
Get The Look: Ide Gaya Kasual untuk Ngantor ala Cut Rizki, Mudah Disontek!
-
Female Daily
Levi’s® Rilis Koleksi Raya 2026, Andalkan Gaya Layering yang Modis dan Sopan!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Kisah Cinta Kontroversial Woody Allen dan Istri, Kini Terseret Skandal Epstein
-
Mommies Daily
20 Acara di Februari 2026: Ada Konser, Teater, hingga Pameran!