psikologi

Anak Terlibat Kasus Bullying, Ini yang Perlu Dilakukan Orang Tua

Amelia Sewaka Rabu, 08 Nov 2017 - 09.00 WIB
Yang Perlu Dilakukan Orang Tua saat Terkena Bullying/ Foto: Thinkstock Yang Perlu Dilakukan Orang Tua saat Terkena Bullying/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Perilaku mengintimidasi atau bullying bisa juga dilakukan anak-anak. Nah, kalau ternyata si kecil kena kasus bullying, gimana kita semestinya bersikap?

"Baik saat anak menjadi korban atau pelaku bullying, kita harus dekati anak dan jadi temannya. Beri kenyamanan dulu ke anak baru kita bisa masuki hati anak. Jadi anak pun bisa menerima nasihat dari kita," papar psikolog anak dan remaja, Yasinta Indrianti, MPsi, dari EduPsycho Research Institute.

Menurut psikolog yang akrab disapa Sinta ini akan lebih susah membuka hati anak jika dari mereka sendiri belum merasa nyaman ke orang tuanya. Sebaliknya, ketika orang tua sudah bisa memberi kenyamanan dan rasa aman, anak akan langsung mencari orang tuanya karena dia tahu bersama orang tuanya anak akan merasa aman. Termasuk ketika mereka 'tersangkut' kasus bullying, Bun.

Terkait konsekuensi saat anak melakukan bullying, psikolog anak dan keluarga dari Tiga Generasi Anna Surti Ariani bilang saat anak sering melakukan bullying tapi nggak dapat konsekuensi yang jelas, dia berisiko tinggi menjadi anak yang agresif. Selain itu, anak juga nggak bisa menghargai orang lain, sering memaksakan kehendak, bahkan ke depannya bisa jadi pembangkang kepada negara misalkan, demikian kata Nina.



Sedangkan, dampak terhadap korban bullying diakui lebih besar daripada yang dirasakan pelaku, terutama terkait risiko depresinya.

"Sisi lainnya kalau dia menolak sekolah misalnya, itu kan perkembangan emosi dan sosialnya jadi terbatas. Dan karena menolak sekolah, kepintarannya juga nggak terasah, itu yang kemudian memupuk masalah lain," lanjut Nina dikutip dari detikHealth.

Jangan salah, Bun, bullying juga nggak terpaku pada perilaku nyata aja lho. Zaman secanggih sekarang, bullying juga bisa dilakukan di dunia maya dan nggak sedikit yang meng-uploadnya ke media sosial. Namun, menurut Sinta, kita bisa banget kok membedakan mana unggahan yang disengaja untuk mengintimidasi orang lain dan mana unggahan untuk mengedukasi orang lain soal bullying ini.

"Ada perilaku bullying lalu diupload, nah perilaku bully tersebut tanpa disertai edukasi dan bisa jadi contoh anak lain untuk melakukan bullying. Ini berbahaya karena anak atau seseorang cenderung mudah meniru perilaku orang lain apalagi kalau ada di media sosial kayak sekarang," papar Sinta.

Lain halnya kalau unggahan video bullying disertai adanya edukasi seperti baik-tidaknya perilaku ini, boleh-tidaknya perilaku ini ditiru, dan alasan-alasan kenapa perilaku bullying ini sangat tidak baik, itu bisa jadi hal yang bermanfaat.



"Kasih tahu alasannya kenapa (video bullying) ini nggak baik, karena ada lho beberapa orang termasuk anak-anak yang butuh penjelasan logis kenapa sesuatu tidak boleh dilakukan. Jangan cuma bilang nggak boleh tanpa alasan karena ada anak yang nggak terima dan bertanya kenapa begitu," papar Sinta.

Ingat ya, Bun, ketika mengedukasi anak soal bullying kita juga mesti cari tahu secara komprehensif apa itu bullying, gimana dampaknya, dan gimana mengatasinya sehingga penjelasan yang diberi ke anak lengkap. (aml/rdn)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi