sign up SIGN UP search


trending

PM Selandia Baru Jacinda Ardern, Contoh Pemimpin Sukses Tangani Corona

Yuni Ayu Amida Minggu, 26 Apr 2020 17:03 WIB
jacinda ardern caption
Jakarta - Pandemi Corona mungkin menjadi ujian terbesar bagi seluruh pemimpin dunia. Setiap pemimpin menghadapi potensi ancaman yang sama, namun memiliki reaksi berbeda dan punya cara masing-masing dalam menangani wabah ini.

Mengutip The Atlantic, setiap pemimpin akan dinilai berdasarkan hasil dalammenghadapiCOVID-19 ini. Seperti diketahui, dalam mengatasi Corona, Kanselir Jerman,AngelaMerkel menganut sains. Sementara Presiden AS Donald Trump selalu melakukan instruksi harian.

Begitu pula Jacinda Ardern, Perdana Menteri Selandia Baru yang barusia 39 tahun, yang memiliki jalannya sendiri dalam menangani COVID-19. Gaya kepemimpinannya berhasil membangkitkan empati dalam krisis dan mengajak orang untuk berjuang.

Pesan-pesannya jelas, konsisten, dan menenangkan. Ia bekerja dengan sangat baik. Dan pendekatannya tidak hanya beresonansi dengan orang-orangnya pada tingkat emosional. Masyarakatnya merasa bahwa Ardern tidak hanya sekedar bicara tapi juga berdiri bersama mereka.


"Ada tingkat kepercayaan (masyarakat) dan kepercayaan diri yang tinggi padanya karena empati itu," ungkap Helen Clark, mantan Perdana Menteri Selandia Baru (1999-2008).

Clark menambahkan, Ardern adalah seorang komunikator. Ia memperoleh gelar dalam bidang komunikasi.

"Ini adalah jenis krisis yang akan membangkitkan atau menghancurkan para pemimpin. Dan ini akan membangkitkan Jacinda." tambahnya.

PM Selandia Baru Jacinda Ardern, Contoh Pemimpin Sukses Tangani CoronaPM Selandia Baru Jacinda Ardern, Contoh Pemimpin Sukses Tangani Corona/ Foto: Reuters/Instagram


Lebih lanjut, salah satu inovasi Ardern dalam menangani COVID-19 adalah melakukan obrolan Facebook Live. Obrolan tersebut bersifat informal dan informatif.

Selama sesi yang dilakukan pada akhir Maret 2020, tepat ketika Selandia Baru bersiap untuk melakukan lockdown, Ardern muncul dengan kaus usang di rumahnya saat Live. Ardern menunjukkan simpatinya dengan merasa ikut khawatir mendengar suara 'klakson keras', yang menjadi pesan peringatan darurat bahwa lockdown telah dimulai di Selandia Baru.

Dalam Live tersebut, Ardern menawarkan konsep-konsep yang bermanfaat. Seperti memikirkan secara konsisten orang-orang yang akan berada dalam hidup kita selama periode ini sebagai 'lingkaran' kita.

"Bertindak seolah-olah Anda sudah memiliki COVID-19, terhadap mereka yang berada di luar 'lingkaran' Anda," kata Ardern.

Dia menjelaskan kebijakan keras dengan contoh-contoh praktis, misalnya orang-orang haruslah tetap di rumah, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi selama perjalanan, misal mobil mogok dan sebagainya. Dia juga paham, sebagai orang tua sulit untuk menghindari taman bermain, tetapi dia menegaskan bahwa virus Corona dapat hidup di permukaan selama 72 jam.

Ardern berharap lockdown berlangsung hanya selama beberapa minggu. Ia juga meminta warganya untuk tidak berkecil hati, meskipun kasus terus meningkat walau sudah mengisolasi diri.

"Kami tidak akan melihat manfaat positif dari semua upaya Anda untuk isolasi diri, setidaknya selama 10 hari. Jadi jangan berkecil hati," pintanya.

Gaya Ardern menarik, dengan pakaian nyaman, pemimpin dunia mengobrol santai dengan jutaan orang. Dan fakta bahwa pendekatan dan kebijakannya telah memperlihatkan hasil nyata ke muka dunia.

Diketahui Pemerintahan Ardern segera mengambil tindakan tegas terkait COVID-19. Selandia Baru memberlakukan lockdown nasional jauh lebih awal untuk mengatasi wabah, daripada yang dilakukan negara lain. Pada awal Februari, Selandia Baru melarang pelancong dari Tiongkok masuk ke negaranya, sebelum mendaftarkan satu kasus virus Corona. Mereka menutup perbatasannya untuk semua non residen pada pertengahan Maret, saat ada segelintir kasus.

Sejak Maret, Selandia Baru memiliki keunikan dalam menetapkan tujuan nasional. Tidak hanya meratakan kurva kasus Corona, tetapi juga menghilangkannya.

Dan kini mereka sudah berada di jalur tersebut. Pengujian COVID-19 sudah tersebar luas. Sistem kesehatan belum kelebihan beban. Kasus-kasus baru memuncak pada awal April. Dan pada pertengahan April, dua belas orang telah meninggal, dari populasi hampir 5 juta penduduk.


Simak juga 6 hal terkait Corona yang perlu Bunda tahu dalam video ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(yun/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi