sign up SIGN UP search


trending

Ini Alasan Feby Febiola Terbuka soal Penyakit dan Tak Malu Berkepala Botak

Annisa Karnesyia Jumat, 31 Jul 2020 12:54 WIB
Feby Febiola Feby Febiola/ Foto: Instagram @febyfebiola
Jakarta -

Feby Febiola belakangan mulai terbuka dengan kondisi kesehatannya yang menurun. Feby mengaku sedang menjalani kemoterapi karena sakit kanker ovarium yang diidapnya.

Istri Franky Sihombing ini bahkan mencukur rambutnya sampai botak. Menurut Feby, tidaklah mudah membuka diri ke publik soal kondisinya saat ini, Bunda.

"Membuka diri ke publik mengenai apa yang aku alami bukan perkara mudah..Pertimbangannya banyak..ketakutan akan dihakimi, ketakutan akan dijauhi, ketakutan akan pandangan sedih dan dikasihani orang orang," tulis Feby, di Instagram miliknya, dikutip Jumat (31/7/2020).


Sejak membuka diri, Feby justru mendapatkan banyak dukungan dari teman dan masyarakat. Ia bersyukur, karena dukungan tersebut membuat dirinya menjadi kuat.

"Makanya setiap baca komen kalian yang menguatkan..airmata mau jatuh aja rasanya..bersyukur banget dapat kata-kata kekuatan yang menjadi energi buat aku..aku doakan semua yang baik yang akan terjadi kepada kalian," ujarnya.

Feby mengungkap alasan berani terbuka soal kondisi kesehatannya. Menurut wanita 42 tahun ini, tak enak rasanya harus menyembunyikan sakit.

"Kenapa aku buka? Karena menyembunyikan penyakit itu gak enak..tahu gak setiap kali aku sharing ke kalian hati aku merasa lega," tulis Feby.

"Aku perlahan lahan melepaskan egoku yang selalu mau kelihatan sempurna," sambungnya.

Dalam unggahan ini, Feby Febiola membagikan potret dirinya di antara pepohonan hijau. Dengan penampilan barunya, Feby terlihat bahagia.

Unggahan Feby FebiolaUnggahan Feby Febiola/ Foto: Instagram @febyfebiola_

Dukungan dari keluarga, teman, dan orang sekitar, memang penting untuk membantu proses perawatan pasien kanker. Menurut psikoterapis Allison Abrams, LCSW-R, kesejahteraan emosional pasien sangat penting bahkan setelah perawatan berakhir.

"Penting untuk mendapatkan dukungan selama masa perawatan, dan lebih penting lagi jika dukungan ini sifatnya berkelanjutan," kata Abrams, dilansir Psychology Today.

Perlu Bunda tahu, pasien kanker rentan mengalami efek negatif psikologi. Menurut National Cancer Institute, hingga 25 persen pengidap kanker mengalami gejala depresi dan hampir 45 persen mengalami kecemasan.

Data ini menunjukkan, support system yang kuat perlu dibangun untuk mengurangi depresi atau trauma. Pasien dan keluarga sebaiknya saling mendukung dan mencari bantuan konseling jika diperlukan.

Simak juga rahasia harmonis rumah tangga Donna Agnesia yang lebih tua 6 tahun dari suaminya, di video Intimate Interview berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/muf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi