sign up SIGN UP search


trending

Setelah Diboikot, Film Mulan Terancam Merugi di China

Annisa Karnesyia Rabu, 16 Sep 2020 17:15 WIB
Liu Yifei caption
Jakarta -

Film Mulan resmi tayang di China pekan kemarin. Penjualan tiket film yang diproduksi Disney ini justru mengecewakan di tempat asal ceritanya, Bunda.

Dilansir Variety, film Mulan hanya mendapatkan US$23 juta atau setara Rp344 miliar di China. Meski itu adalah pendapatan kotor tertinggi di akhir pekan, namun menurut data Maoyan, keuntungannya hanya terpaut sedikit dari film lokal berjudul The Eight Hundred, yaitu US$21,4 juta atau setara Rp324 miliar.

Orang-orang di industri ini mengatakan bahwa Disney telah bersikap sembrono karena mengesampingkan musik dari film animasi Mulan untuk diadaptasi ke live-action. Padahal itu dilakukan sebagai upaya menarik penonton di China.


Ironisnya, pada hari Minggu (13/9/2020), penjualan tiket film The Eight Hundred justru melampaui film Mulan. Promosi film ini terhambat karena pemerintah China melarang media untuk meliput film ini.

Upaya tersebut dilakukan pemerintah untuk meredam kemarahan yang berkembang di luar China dan hubungan dengan wilayah barat laut China, Xinjiang. Film Mulan dibuat di daerah tersebut tahun 2018, di mana China dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim Uighur di sana.

Tak cuma itu, tagar #BoycottMulan di Twitter juga menjadi pukulan berat bagi Disney. Dikutip dari The New York Times, Disney seperti contoh perusahaan global yang terseret perseteruan Amerika Serikat dan China atas hak asasi manusia, perdagangan dan keamanan, bahkan ketika hubungan ekonomi tetap terjalin.

Liu YifeiLiu Yifei di Film Mulan/ Foto: Instagram @yifei_cc

Disney cukup cerdas saat masuk ke pasar China dan membuka Shanghai Disneyland tahun 2016. Namun, semuanya jadi kacau sejak film Mulan dibuat di daerah Xinjiang.

Tak ada seorang pun tim produksi memperingatkan hal ini. Disney bahkan tak bersedia memberikan komentar.

Disney bekerja begitu keras untuk memastikan film Mulan menarik penonton China. Mereka bahkan melibatkan artis terkenal, Liu Yifei, Donnie Yen, dan Jet Li. Disney juga membagikan naskah dengan pejabat China, namun menghiraukan nasihat konsultan China yang memberi tahu agar mereka tidak usah fokus pada dinasti tertentu.

"Jika Mulan tidak berhasil di China, kami akan memiliki masalah," ujar Alan F. Horn, wakil ketua Walt Disney Studios, kepada The Hollywood Reporter tahun lalu.

Menurut Michael Berry, direktur Pusat Studi Cina di Universitas California, Los Angeles, Disney harus hati-hati dengan topik hak asasi manusia di China. Terutama, karena Disney mendukung gerakan Black Lives Matter dan #MeeToo.

"Di satu sisi, Disney mendukung Black Lives Matter dan gerakan #MeToo dan telah responsif terhadap seruan untuk membuat film seperti 'Mulan' dengan pemeran yang semuanya Asia dan sutradara wanita," ujar Berry.

"Di sisi lain, mereka harus sangat hati-hati dengan topik hak asasi manusia di China. Itu bisnis, tentu saja, tapi juga munafik, dan membuat beberapa orang marah," sambungnya.

Untuk membuat film Mulan yang sempurna, Disney memilih Liu Yifei karena ideal memerankan tokoh utama. Ia secara fisik baik, namanya dikenal di China, dan fasih berbahasa Inggris.

Namun, tahun lalu Liu Yifei diprotes karena memberikan dukungan pada polisi Hong Kong yang melakukan kekerasan pada pengunjuk rasa. Akibatnya, aktivis pro-demokrasi Hong Kong menyerukan boikot film Mulan.

Simak juga bioskop unik era new normal di Korea, di video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi