sign up SIGN UP search
Cardiotocography atau CTG

Bundapedia

Cardiotocography (CTG)

  |   Haibunda

Cardiotocography atau CTG adalah salah satu tes yang biasanya dilakukan pada trimester ketiga kehamilan dan bertujuan untuk memantau detak jantung janin. Prosedurnya yang terbilang sederhana, tanpa rasa sakit dan non-invasif ini dilakukan selama kehamilan untuk memeriksa kondisi bayi dalam rahim.

Tes ini juga dikenal sebagai Nonstress Test (NST). Ini karena bayi tidak berada di bawah 'stres' akibat proses persalinan, dan tidak ada yang dilakukan untuk membuatnya stres.

Selama tes, dokter akan memantau detak jantung janin saat bayi beristirahat lalu saat dia bergerak. Sama seperti jantung dewasa yang berdetak lebih cepat saat aktif, detak jantung bayi juga akan meningkat saat dia bergerak atau menendang.


Biasanya, detak jantung bayi antara 120 dan 160 detak per menit dan meningkat saat bayi bergerak. Seperti dilansir dari Baby Center, memeriksa apakah detak jantung bayi merespons gerakannya adalah cara tidak langsung untuk mengetahui apakah ia mendapat cukup oksigen dari plasenta. Tes ini juga akan melihat bagaimana kontraksi Bunda memengaruhi detak jantung bayi.

Dokter akan meminta Bunda untuk CTG sebagai bagian dari pemeriksaan rutin pada trimester ketiga. Dokter terutama ingin memeriksa kondisi seperti:

  • Bunda merasa gerakan bayi melambat atau menjadi tidak teratur
  • Bayi tampak kecil atau tidak tumbuh dengan baik
  • Dokter menduga ada masalah dengan plasenta 
  • Ada yang membatasi aliran darah ke bayi Bunda 
  • Bunda memiliki terlalu banyak (polihidramnion) atau terlalu sedikit (oligohidramnion) cairan ketuban
  • Bunda mengandung anak kembar dua atau lebih
  • Bunda menderita diabetes, tekanan darah tinggi, atau hipertensi gestasional atau kondisi medis lain yang dapat memengaruhi kehamilan.
  • Bunda pernah menjalani prosedur seperti versi cephalic eksternal (untuk mengubah bayi sungsang) atau amniosentesis trimester ketiga (untuk menentukan apakah paru-paru bayi cukup matang untuk lahir atau untuk menyingkirkan infeksi rahim). Dokter akan memesan tes nonstres untuk memastikan bayi baik-baik saja.
  • Bunda telah melewati tanggal estimasi kelahiran, dan dokter ingin melihat bagaimana bayi bertahan selama masa tinggalnya yang lama di dalam rahim.
  • Bunda pernah kehilangan bayi di paruh kedua kehamilan, karena alasan yang tidak diketahui atau karena masalah yang mungkin terjadi lagi di kehamilan ini. Dalam hal ini, pengujian nonstres dapat dimulai paling cepat saat usia kandungan 28 minggu
  • Bayi telah didiagnosis dengan kelainan atau cacat lahir tertentu dan perlu dipantau lebih dekat 

Jika Bunda berada di trimester ketiga dan belum melahirkan, tes ini akan mengukur kontraksi Braxton Hicks Bunda. Bunda mungkin tidak menyadarinya, tetapi kontraksi Braxton Hicks adalah kontraksi ringan yang dialami rahim untuk persiapan persalinan.

Ini tidak berbahaya dan umum terjadi selama trimester ketiga. Tetapi jika hamil kurang dari 37 minggu dan mengalami kontraksi yang terus menerus, berulang, dan teratur, baru bisa menjadi tanda persalinan prematur. Dokter akan memeriksa untuk melihat apakah leher rahim sudah melebar.

Alasan lain untuk memantau kontraksi adalah untuk melihat apakah detak jantung bayi berubah saat Bunda kontraksi. Jika detak jantung turun selama kontraksi, itu mungkin pertanda ada masalah dengan plasenta dan suplai oksigen bayi terpengaruh.

Menjalankan prosedur tes CTG

Bunda mungkin disarankan untuk makan sebelum tes dengan harapan makan akan merangsang bayi untuk bergerak. Meskipun tidak ada bukti kuat bahwa ini akan berhasil, tapi tidak ada salahnya untuk dilakukan. Selain itu, sebaiknya Bunda buang air kecil dulu sebelum melakukan tes, karena Bunda mungkin akan berbaring terikat ke monitor selama sekitar 20 hingga 60 menit.

Selama prosedur tes, Bunda mungkin diminta duduk di kursi yang nyaman. Atau mungkin diminta untuk berbaring miring ke kiri, mungkin dengan bantal atau ganjalan di bawah punggung yang memungkinkan untuk bersandar. Perawat akan mengikatkan dua perangkat ke perut Bunda: Satu memonitor detak jantung dan gerakan bayi; yang lain merekam setiap kontraksi di rahim.

Dokter mendengarkan dan melihat detak jantung bayi di layar elektronik sementara kontraksi direkam di atas kertas. Dalam beberapa kasus, Bunda akan diminta untuk menekan tombol setiap kali merasakan bayi bergerak.

Cara memahami hasil tes cardiotocography 

Cardiotocography atau CTGCardiotocography atau CTG/ Foto: Getty Images/iStockphoto/naumoid

Dokter akan memeriksa apakah hasil tes tersebut 'reaktif' atau 'non-reaktif'. Hasil tes reaktif menunjukkan bahwa detak jantung bayi meningkat dengan jumlah yang diharapkan setelah setiap gerakannya.

Hasil tes non-reaktif berarti detak jantung bayi tidak meningkat setelah gerakannya. Hasil non-reaktif tidak selalu berarti ada sesuatu yang salah. Itu hanya berarti bahwa tes tersebut tidak memberikan informasi yang cukup, dan Bunda mungkin perlu tes lagi setelah beberapa saat, atau pada malam yang sama.

Jika bayi tidak bergerak, dia mungkin sedang tidur. Bunda mungkin diminta untuk bergerak, minum air atau jus untuk membuatnya bersemangat. Atau dokter mungkin menyenggolnya dengan lembut melalui perut Bunda atau mencoba membangunkannya dengan bel.

Dokter mungkin mencoba tes lagi. Jika hasil masih 'non-reaktif', ia mungkin akan meminta Bunda kembali untuk tes lagi setelah satu jam.

Jika CTG kedua menunjukkan bahwa bayi tidak merespons dengan baik dan detak jantungnya tidak seperti seharusnya, dokter akan menyarankan pemeriksaan lebih lanjut. Ini karena hasil non-reaktif juga dapat menunjukkan bahwa bayi tidak mendapatkan cukup oksigen atau plasenta tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Dokter akan merujuk Bunda untuk USG untuk menilai profil biofisik bayi Bunda (BPP). Tes profil biofisik menggabungkan tes nonstres dengan USG. Pemindaian dilakukan untuk mengamati bayi:

  • Gerakan tubuh (selama 30 menit, atau lebih jika dia sedang tidur)
  • Tonus otot (melenturkan lengan dan kaki)
  • Gerakan pernapasan (kemampuan bayi menggerakkan otot dada dan diafragma)
  • Jumlah cairan ketuban yang mengelilinginya
  • Detak jantung (detak per menit)

Hasil tes akan menunjukkan apakah bayi mendapatkan oksigen yang cukup. Masing-masing dari lima komponen gerakan tubuh, tonus otot, gerakan pernapasan, cairan ketuban, dan detak jantung, diberi skor 0 (tidak normal) atau 2 (normal). Ini ditambahkan untuk skor total mulai dari 0 hingga 10. Secara umum, skor total:

  • 8 atau 10 adalah normal
  • 6 dianggap garis batas
  • Di bawah 6 mengkhawatirkan

Jika dokter mengkhawatirkan kesehatan bayi, dia kemungkinan akan menyarankan observasi lebih dekat dan pengujian lebih lanjut. Jika menurutnya bayi tidak sehat dan perlu dilahirkan, Bunda akan diinduksi atau menjalani operasi caesar.

CTG juga terkadang dilakukan selama persalinan saat bayi membutuhkan pemantauan terus menerus. Jika dokter memberi infus Syntocinon untuk menginduksi atau mempercepat persalinan, biasanya Bunda akan mendapatkan CTG. Syntocinon adalah bentuk buatan dari hormon oksitosin dan dapat membuat kontraksi lebih kuat.

CTG akan mendeteksi apakah bayi merespons dengan baik kontraksi yang lebih kuat atau tidak. Dalam hal ini, dokter akan tetap mengenakan ikat pinggang pada Bunda sampai mencapai tahap persalinan.

Jika tes menunjukkan bahwa detak jantung bayi menurun terlalu banyak dengan kontraksi, dokter akan mengurangi dosis Syntocinon untuk mengurangi kekuatannya. Jika ini tidak membantu, Bunda mungkin memerlukan operasi caesar darurat.

 

[Gambas:Video Haibunda]



Share yuk, Bun!
Tahukah Bunda
BERSAMA DOKTER & AHLI
Bunda sedang hamil, program hamil, atau memiliki anak? Cerita ke Bubun di Aplikasi HaiBunda, yuk!