sign up SIGN UP search


Ilustrasi USG

Bundapedia

USG

Annisa Karnesyia   |   Haibunda

USG (ultrasonografi) menjadi salah satu pemeriksaan penting yang harus dilakukan selama kehamilan. Melalui USG, Bunda dapat melihat kondisi janin dalam kandungan.

Bunda dapat melakukan pemeriksaan USG sejak awal kehamilan, yakni sebelum usia 14 minggu. Pemeriksaan di trimester pertama ini bisa mendeteksi detak jantung janin yang sedang berkembang.

USG merupakan pemeriksaan medis yang tak hanya digunakan untuk melihat kondisi janin. USG juga bisa digunakan untuk mendiagnosis penyakit.


Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), USG merupakan metode pemeriksaan menggunakan energi dalam bentuk gelombang suara. Selama pemeriksaan, transduser (probe) akan mengirimkan gelombang suara ke seluruh tubuh.

Gelombang suara ini lalu bersentuhan dengan jaringan, cairan tubuh, dan tulang. Kemudian, gelombang akan memantul kembali seperti gema dan menghasilkan gambar.

"Transduser menerima gema ini, lalu diubah menjadi gambar. Gambar dapat dilihat pada layar," tulis ACOG di laman resminya.

Manfaat pemeriksaan USG

Pemeriksaan USG memiliki banyak manfaat untuk ibu hamil. Berikut 10 manfaat pemeriksaan USG selama kehamilan:

  1. Melihat posisi, gerakan, pernapasan dan detak jantung janin
  2. Mengetahui lokasi plasenta
  3. Mengetahui kehamilan kembar atau lebih
  4. Memperkirakan ukuran dan berat janin
  5. Menentukan hari perkiraan lahir (HPL)
  6. Mengetahui jenis kelamin bayi bila janin berada dalam kondisi yang tepat
  7. Mendeteksi kehamilan ektopik (hamil di luar rahim)
  8. Mendiagnosis kelainan kongenital
  9. Memeriksa kondisi rahim, ovarium, dan leher rahim
  10. Mengetahui jumlah cairan ketuban di dalam rahim

Jadwal pemeriksaan USG tiap trimester

Ilustrasi ibu hamil ke dokter kandungan cek USGIlustrasi ibu hamil ke dokter kandungan cek USG/ Foto: Getty Images/iStockphoto/SerhiiBobyk

Bunda setidaknya perlu menjalani satu kali pemeriksaan USG selama kehamilan. Tapi, paling baik pemeriksaan dilakukan di tiap trimester dan menjelang persalinan ya, Bunda.

Pemeriksaan USG di trimester 1

USG dapat dilakukan pertama kali pada usia kehamilan 12 minggu untuk memastikan kehamilan. Pemeriksaan mungkin bisa dilakukan lebih awal di minggu ke-7, Bunda.

USG di trimester pertama berfungsi untuk mengetahui kondisi janin, seperti detak jantungnya. Selain itu, USG juga dapat mendeteksi kehamilan ektopik atau untuk mengetahui hari perkiraan lahir (HPL)

Pemeriksaan USG di trimester 2 dan 3

Di trimester kedua dan ketiga, pemeriksaan USG dapat dilakukan untuk lebih detail mengetahui kondisi janin, seperti perkembangan tiap organnya. Pemindaian USG ini sudah dapat dilakukan pada usia kehamilan minggu ke-10 sampai ke-14.

Pemeriksaan USG di waktu ini dapat dilakukan untuk:

  • Memonitor posisi janin
  • Mengetahui jenis kelamin bayi
  • Mengetahui kehamilan kembar
  • Melihat kondisi plasenta, ada atau tidaknya masalah plasenta seperti plasenta previa
  • Memeriksa sindrom down di usia kehamilan 13-14 minggu
  • Memeriksa kelainan kongenital
  • Memantau kadar cairan ketuban
  • Melihat apakah janin mendapatkan cukup oksigen atau tidak
  • Mengukur panjang serviks
  • Mendeteksi masalah di ovarium atau rahim

Prosedur pemeriksaan

Berikut prosedur pemeriksaan USG untuk ibu hamil:

  1. Ibu hamil berbaring di tempat tidur sesuai arahan dokter atau petugas medis.
  2. Dokter lalu akan mengoleskan gel khusus ke area perut dan panggul ibu hamil. Gel yang digunakan ini berbahan dasar air, sehingga aman dan tidak meninggalkan bekas di kulit.
  3. Selanjutnya, dokter akan menggunakan transduser ke perut Bunda.
  4. Kondisi janin akan terlihat di layar USG dalam bentuk gambar hitam putih.

Hal yang sebaiknya dilakukan sebelum USG

Medicine, Hospital, Medical Clinic, Ultrasound, DoctorIlustrasi Pemeriksaan USG/ Foto: Getty Images/iStockphoto

Sebenarnya, tidak ada persiapan khusus untuk menjalani USG, Bunda. Tapi, ibu hamil sebaiknya mempersiapkan diri bila ingin memeriksakan kondisi janinnya dengan USG ya.

Dokter biasanya menganjurkan untuk minum air minimal 4-6 gelas sekitar satu jam sebelum USG. Selain itu, Bunda juga tidak boleh buang air kecil sebelum pemeriksaan. Tujuannya agar kandung kemih terisi penuh, sehingga dokter bisa dengan jelas melihat gambarnya.

Jenis USG untuk ibu hamil

Ada beberapa jenis pemeriksaan USG yang dapat dilakukan selama kehamilan, Bunda. Jenis pemeriksaan ini memiliki detail yang berbeda dalam melihat kondisi janin.

"Teknik USG yang lebih maju dapat digunakan bila gambar yang dihasilkan lebih detail lagi. Ini mungkin dapat memberikan informasi yang diperlukan dokter untuk mendiagnosis atau mendeteksi masalah," ujar perawat senior, Debra Sullivan, Ph.D, dikutip dari Healthline.

Nah, berikut 6 jenis pemeriksaan USG untuk ibu hamil:

1. USG 2D

USG 2D (dimensi) adalah jenis pemeriksaan ultrasound paling klasik yang akan ditawarkan oleh dokter untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan janin. Hasil USG 2D adalah gambar hitam putih yang memperlihatkan kondisi janin, Bunda.

Di awal kehamilan, gambar 2 dimensi dapat dikumpulkan menggunakan stik transduser transvaginal untuk membantu menentukan tanggal kehamilan atau melihat di mana implantasi rahim telah terjadi. Saat bayi semakin besar, USG ini dapat kembali dilakukan untuk melihat kondisi janin.

2. USG 3D

USG 3D lebih detail dalam melihat janin dibandingkan USG 2D. USG ini bahkan dapat melihat fitur wajah janin, seperti bibir, hidung, pipi, dan mata.

Pemindaian USG 3D menggunakan transduser yang sedikit berbeda dengan 2D. Fungsinya untuk mengambil banyak gambar pada bidang yang berbeda. USG ini juga menggunakan perangkat lunak khusus untuk menghasilkan gambar dalam melihat janin.

3. USG 4D

USG 4D pada dasarnya adalah ultrasound 3D, namun dalam bentuk video bergerak. Melalui pemindaian USG ini, ibu hamil dapat melihat perubahan wajah janin seperti saat tersenyum, cemberut, mengisap jempol, dan beberapa gerakan kecil lainnya.

Menurut First View Ultrasound di Westminster, Colorado, waktu terbaik untuk melakukan USG 4D yakni antara minggu ke-24 dan minggu ke-32. Waktu ini mungkin akan berbeda pada kehamilan kembar.

4. USG 5D

Menurut Dr. Welsey Lee, co-director dari Texas Children's Fetal Center di Texas Children's Pavilion for Women, USG 5D pada dasarnya sama dengan USG 3D dan 4D. Salah satu produsen USG 5D bahkan mengomersialkannya untuk berbagai spesialisasi, seperti pemeriksaan jantung, organ tubuh, dan sistem saraf pusat.

"Ini adalah merek USG 3D dan 4D yang telah dikembangkan dengan perangkat lunak," kata Lee, mengutip Parents.

Perangkat lunak USG 5D dapat menangkap gambar dengan resolusi lebih tinggi. Tak hanya itu, hasil USG juga dapat memberikan gambar berwarna yang membuat bentuk janin terlihat seperti bayi yang sudah lahir.

Ibu hamil dapat memeriksa kondisi janin dengan USG 5D di usia kehamilan antara 24 sampai 32 minggu. Menurut FDA dan ACOG, USG 5D tidak terbukti membahayakan janin yang sedang berkembang karena tidak menggunakan sinar-X, radiasi, atau yang terkait dengan masalah kesehatan atau perkembangan apa pun.

Namun, USG 5D hanya dapat dilakukan oleh profesional terlatih dan berdasarkan kebutuhan medis ya, Bunda. Beberapa ilmuwan masih khawatir energi dari gelombang USG ini dapat memengaruhi janin.

5. USG fetomaternal

USG fetomaternal berfungsi untuk mendeteksi kelainan pada janin dan kehamilan dengan risiko tinggi. USG fetomaternal dapat dilakukan pada usia kehamilan di atas 20 minggu sampai 30 minggu.

Pemeriksaan ini berfungsi untuk mendeteksi kelainan organ janin, seperti penyakit jantung. USG Fetomaternal juga dianjurkan bagi Bunda yang hamil di atas usia 35 tahun.

6. Ekokardiografi

Ekokardiografi dapat dilakukan bila dokter mencurigai bayi mengidap penyakit jantung bawaan. Pemeriksaan ekokardiografi mirip dengan USG kehamilan tradisional, tetapi mungkin perlu waktu lebih lama untuk mengetahui hasilnya.

Ekokardiografi menangkap gambar lebih detail dari jantung janin, yang menunjukkan ukuran, bentuk, dan struktur jantung. Jenis USG ini juga akan memberi tahu dokter tentang gambaran fungsi jantung bayi dan membantu dalam mendiagnosis masalah jantung.

Kondisi lain yang membutuhkan USG

Ilustrasi Pemeriksaan USGIlustrasi Pemeriksaan USG/ Foto: Getty Images/iStockphoto

Selain ibu hamil, berikut beberapa kondisi dapat didiagnosis melalui USG:

1. USG diagnostik

Penggunaan USG diagnositik adalah untuk melihat bagian dalam tubuh, apakah berfungsi dengan baik atau tidak. Sebagian besar pemeriksaan ini, menggunakan transduser yang diletakkan pada kulit, vagina, atau rektum.

Berikut kondisi yang bisa diperiksa dengan USG diagnostik:

  • USG perut: mencari penyebab sakit perut
  • USG ginjal: mendeteksi masalah di kandung kemih, kista, tumor, atau infeksi di sekitar ginjal
  • USG payudara: mendeteksi benjolan dan kista payudara
  • USG Doppler: mengevaluasi aliran darah melalui arteri dan vena di tubuh
  • USG panggul: untuk melihat masalah organ-organ di daerah panggul, termasuk kandung kemih, prostat, rektum, ovarium, dan vagina
  • USG transvaginal: mendeteksi kehamilan ektopik, pendarahan abnormal, risiko keguguran, komplikasi kehamilan, serta melihat kondisi organ reproduksi, seperti rahim atau ovarium
  • USG tiroid: mengukur ukuran tiroid dan melihat ada atau tidaknya nodul atau lesi di dalam kelenjar
  • USG transrektal: mendeteksi kelainan atau penyakit di dalam anus atau rektum, seperti tumor atau kanker.

2. USG untuk prosedur medis

USG dapat digunakan selama prosedur atau tindakan medis. Berikut beberapa prosedur yang membutuhkan USG:

  • Transfer embrio dalam program bayi tabung
  • Blok saraf (nerve block)
  • Mengonfirmasi penempatan alat kontrasepsi IUD setelah dipasang.
  • Prosedur lokalisasi lesi.
  • Terkadang digunakan untuk mendeteksi dan mengobati cedera jaringan lunak

Efek samping dan bahaya USG

Pemeriksaan USG tergolong aman untuk ibu hamil dan janinnya. Tapi, penggunaan USG tidak dianjurkan bila tanpa alasan yang jelas ya.

Menurut NHK Inggris, tidak efek samping berbahaya dari gelombang suara yang digunakan dalam USG. Penggunaan USG juga tak melibatkan paparan radiasi, sehingga tidak memiliki risiko.

Pemindaian USG secara eksternal dan internal umumnya tidak memiliki efek samping dan tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, beberapa orang mungkin merasa tidak nyaman saat transduser menekan kulit atau masuk ke dalam tubuh.

Namun, penggunaan USG internal juga bisa menyebabkan alergi, terutama bagi Bunda yang memiliki alergi lateks. Risiko yang mungkin serius adalah mengalami pendarahan internal.

Simak juga cara deteksi kanker payudara dengan USG, dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

Share yuk, Bun!
Tahukah Bunda
BERSAMA DOKTER & AHLI
Bunda sedang hamil, program hamil, atau memiliki anak? Cerita ke Bubun di Aplikasi HaiBunda, yuk!