sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Benci Melihat Ibu Berkali-kali Diselingkuhi & Dikasari, Bertahan Demi Anak

Sahabat HaiBunda Rabu, 16 Sep 2020 20:15 WIB
Sadness Little Kid Girl crying and screaming over Couple or her Parent conflicting. Unhappy Family Divorce concept. Cerita Bunda, ayah kasar dan tukang selingkuh/ Foto: Getty Images/iStockphoto/eggeeggjiew
Jakarta -

Perkenalkan saya Dian dari sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Saya ingin berbagi cerita mengenai keluarga saya. Semoga dengan saya bercerita bisa meringankan beban hati dan mungkin ada solusi yg bisa diberikan kepada saya.

Ayah dan Ibu saya menikah karena perjodohan. Sebenarnya bukan murni perjodohan, karena Ayah saya yang meminta kepada keluarganya untuk melamar ibu. Padahal, mereka baru kenal dengan kondisi ayah yang sebenarnya baru ditinggal nikah mantan pacarnya dulu.

Ibu menerima perjodohan ini karena faktor ekonomi, dan atas desakan dari nenek. Dari pernikahan itu lahir kakak (abang), saya, dan adik perempuan. Saya dengan abang saya selisih 4 tahun dan dengan adik berjarak 2 tahun.


Saat saya berusia 9 atau 10 tahun, tiba-tiba Ibu menangis dan meminta saya dan adik untuk meninggalkan rumah kami. Ternyata, saat itu ayah ketahuan selingkuh dengan mantan pacarnya. Ibu menceritakan semuanya waktu itu.

Bahkan selama Bahkan selama pernikahan mereka, Ayah dan mantan pacarnya itu sering bertukar surat dan sesekali pernah bertemu. Waktu itu saya dan adik ikut menangis bersama ibu. Karena tidak punya tempat tujuan, akhirnya Ibu terpaksa tetap tinggal di rumah.

Selang beberapa tahun setelah itu, ayah berhubungan lagi dengan mantan pacarnya. Ternyata, mantan pacar ayah baru bercerai dengan suaminya. Bermodal uang warisan dari nenek saya (dari pihak Ayah), ayah saya mendekati mantannya ini dan sampai pergi menginap bersama.

Ibu saya baru mengetahui kejadian ini agak lama, karena adanya rumor dari tetangga. Dan Ibu saya menanyakan langsung ke Ayah saya sampai cerita detailnya. Sialnya, mantan pacar ayah memilih kembali rujuk dengan suaminya. Ayah mengaku hubungannya sudah berakhir, dan Ibu memilih untuk mempertahankan pernikahan dengan alasan anak-anak yang masih kecil.

Selang beberapa tahun kemudian setelah itu, sekitar saya kelas 1 SMA, Ibu pun hamil lagi. Ayah pun sempat meragukan kehamilannya, karena waktu itu Ibu dekat dengan teman laki-laki di tempat kerjanya. Laki-laki itu memang sering membantu pekerjaan Ibu.

Ayah menuduh itu adalah anak hasil dari hubungan ibu dan temannya. Ibu pun membantah dan mengatakan hubungannya cuma sebatas teman. Tapi berdasarkan rumor yang kami dengar, ibu punya hubungan khusus dengan laki-laki itu. Saya sendiri sampai sekarang pun tidak berani menanyakan langsung kepada ibu mengenai kebenaran rumor tersebut.

Menjelang persalinan, ternyata bayi itu tidak selamat dan meninggal sebelum dilahirkan. Ayah bersikap seolah tidak peduli waktu itu. Setelah beberapa tahun kemudian, saat kami bertiga sudah bekerja, ibu mengatakan kepada kami bahwa ingin bercerai dari Ayah.

Ibu bercerita bahwa selama ini mengalami beberapa kali pelecehan seksual dari ayah. Rupanya ayah beberapa kali memukul ibu, karena tidak mau melayani kebutuhan batinnya. Ibu saya selama ini sering menolak berhubungan suami istri karena kelelahan dan merasa tidak dicintai oleh Ayah saya. Dan Ayah sering memaksa untuk tetap melayaninya.

Dari kejadian tersebut, ibu mantap untuk bercerai dan sempat meminta pertimbangan. Waktu itu saya mengijinkan dengan alasan ibu yang sudah berusaha semaksimal mungkin mempertahankan pernikahan, dan saya merasa ibu butuh kebebasan. Mungkin juga, ia bisa menikah lagi dengan orang yg benar-benar bisa mencintainya.

Ibu kemudian menyampaikan niat perceraian ini ke keluarga besarnya, dan mereka mengikuti apapun keputusan Ibu. Namun, saat Ibu membicarakan perceraian ini ke Ayah, ditolak mentah-mentah. Ayah malah bilang kalau ibu adalah istri durhaka karena sudah meminta cerai.

Dari situ, Ayah saya minta pembelaan dari saya, sambil marah ayah bilang kalau perceraian itu tidak benar dan ibu saya istri durhaka.

Saat itu saya merasa drop sekali karena berada di tengah posisi, saya tidak membela keduanya. Toh setelah bercerai pun, mereka tetap kedua orang tua saya. Saya sempat dikata-katai oleh Ayah, kalau mendukung perceraian itu, saya juga termasuk anak durhaka.

Mengenai Abang dan Adik saya, mereka tidak terlibat dalam diskusi perceraian itu. Adik saya posisi saat itu merantau. Sedangkan Abang di didik sangat manja oleh kedua orang tua, tanpa pernah diberi tanggungjawab apapun. Jadi seolah Abang saya ini anak emas.

Saat saya beritahu tentang perceraian orang tua kami, adik pun hanya mengikuti keputusan apa saja yg terbaik. Sedangkan abang saat itu hanya diam saja tanpa komentar apapun. Makanya saat itu saya drop sekali, karena ibu yang terus mendesak untuk bercerai. Sedangkan ayah terus menolak dan saya selalu jadi penengahnya.

Selama drama perceraian itu, akhirnya ibu saya memilih bertahan dengan alasan sampai anak-anak nanti menikah. Setelah kejadian itu, ibu selalu mengungkit semua perselingkuhan Ayah ke saya dengan bilang masih merasa sakit hati. Saya terkadang tidak tahan dengan keluhan ibu dan meminta beliau bercerai saja kalau sudah tidak kuat.

Tapi, Ibu saya tidak mau dan katanya menunggu sampai abang saya menikah (saya dan Adik saya sudah menikah). Kadang, saat ibu saya bercerita lagi mengenai kesalahan-kesalahan ayah, saya merasa muak dan kemudian ada rasa benci kepada kedua orang tua.

Saya merasa Ayah dan Ibu saya sama saja, mereka tidak puas dengan pernikahannya, mereka kemudian tidak berkomitmen dengan pernikahan mereka, padahal di dalam pernikahan tersebut ada kami anak-anaknya yg merasa dikhianati juga. Ibu bahkan tidak mau satu ruangan dengan ayah, dan ini terjadi di rumah selama beberapa tahun sampai saya menikah.

Setelah menikah, saya masih tinggal di rumah orang tua. Dan sikap dingin keduanya sering terjadi sampai sekarang. Orang tua sudah pisah ranjang cukup lama, sejak saya mulai bekerja.

Selama ini perlakuan Ayah saya ke saya juga tidak lebih baik. Sejak kecil Ayah saya jarang di rumah, lebih sering keluyuran dan main sama teman-temannya. Bahkan ketika masih kecil saat kami sakit, ayah saya sering tidak di rumah dan seolah tidak peduli.

Ekonomi keluarga kami pun cukup sulit, ayah bekerja serabutan dengan penghasilan tidak menentu. Akhirnya ibu ikut banting tulang, kerja sampai malam demi memenuhi kebutuhan keluarga. Sehingga saya sering menggantikan ibu untuk memasak dan membantu pekerjaan rumah lainnya dengan Adik.

Saya dan Adik juga sering membantu ibu bekerja. Abang tidak terlibat dalam apapun, karena memang orang tua kurang mendidiknya dengan benar. Sering juga ibu belum memasak, dan saya saat itu masih sekolah.

Ayah yang mau makan jadi mengamuk karena tidak ada lauk yang tersedia. Alhasil, ayah pun jadi sering mengamuk ke saya dengan melempar piring, ember, atau apapun itu. Sikap Ayah ke Adik pun berbeda. Adik termasuk cukup dimanja oleh Ayah saya. Perlakuan Ayah saya dengan dua saudara saya memang berbeda, dan saya merasa saya seperti dianaktirikan. Saya sering dibentak atau dipukul dibanding adik dan abang.

Namun, ketika adik saya mau masuk SMA, kebetulan saat itu ibu saya bilang tidak ada biaya. Kemudian Ibu minta biaya sekolah ke ayah baru dapat uang warisan dari kakek (kakek dari pihak Ayah). Ayah menolak memberi uang kepada ibu dengan alasan itu uang Ayah saya bukan untuk keluarga.

Ibu saya waktu itu bilang kalau boleh pinjam dulu, uang itu untuk biaya sekolah. Tapi, ayah saya malah menjawab kalau dipinjam, ibu mau bayar pakai apa, dia saja tidak punya apa-apa dan miskin. Padahal itu untuk anaknya sendiri. Saya dan Adik saya sangat kecewa dan sakit hati saat itu.

Setelah semua kejadian itu dan ditambah drama perceraian itu, rasa benci saya ke ayah saya semakin bertambah. Rasa empati saya ke ayah bahkan tidak ada. Saya sering berselisih dengan Ayah saya karena hal sepele. Suami saya bahkan sering memperingatkan untuk memperbaiki sikap itu. Tapi saya jujur sudah telanjur sakit hati dengan kedua orang tua saya, terutama ayah saya.

Sampai sekarang saya masih pelan-pelan memperbaiki sikap saya kepada orang tua, cuma ada semacam trauma yg terus ada sampai sekarang. Bahkan saat saya mengingat semuanya atau saat ibu bercerita mengenai kesalahan ayah, saya merasa sensitif dan emosional. Hal itu kadang berimbas ke pernikahan saya dengan suami, hingga memicu pertengkaran cukup serius. Saya kadang melampiaskan emosi saya kepada suami, karena memang saat itu kita sedang diskusi dan emosi saya tidak cukup stabil.

Saya terus berbenah diri sampai sekarang dan doakan semoga saya bisa ya. Maaf sebelumnya cerita saya cukup panjang. Saya harap kita semua bisa bahagia dari hal-hal kecil yg kita syukuri setiap hari. Terimakasih kepada Tim Redaksi HaiBunda yg telah mewadahi curhatan kami.

(Curhat Bunda Dian - Jawa Tengah)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke email redaksi@haibunda.com. Bunda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

Bunda, simak juga yuk cerita Kirana Larasati yang bercerai setelah dua tahun nikah. Klik video di bawah ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi