sign up SIGN UP search


cerita-bunda

3 Bulan Suami Tak Berkabar, Aku Baby Blues Sampai Ingin Melempar Bayiku

Sahabat HaiBunda   |   Haibunda Senin, 10 Oct 2022 17:53 WIB
Upset and tired baby crying while his mother trying to calm him, holding baby boy in arms Ilustrasi Cerita Bunda: Suami Tak Berkabar, Aku Baby Blues/ Foto: Getty Images/miodrag ignjatovic
Jakarta -

#HaiBunda Perkenalkan, aku ibu satu anak yang tinggal di Jawa Timur. Aku menjalani LDM (Long Distance Marriage) dengan suami semenjak kelahiran anak pertama.

Dia memutuskan tinggal di Yogyakarta, aku ditinggal bersama orang tuaku. Harapannya sederhana, dia ingin bekerja dan aku ada yang menemani. Suami memintaku melepaskan pekerjaan yang memang sudah aku geluti sebelum menikah dengannya.

Dia berharap, aku fokus sama anak. Terkait finansial, dia lah yang akan bertanggung jawab sepenuhnya. Jujur, sebenarnya berat banget melepaskan pekerjaan yang aku tekuni sejak lama. Tapi, sebagai bukti kepatuhan padanya, aku jalani apa yang dia minta.


Sebulan berlalu, tanpa komunikasi terjalin. Aku pun mencoba chat dan menelepon. Lagi-lagi, tak ada tanggapan yang aku terima. Bagiku, suami adalah pondasi tertinggi dalam menjaga kewarasan seorang istri.

Aku percaya penuh dan selalu berpikir positif dengan keadaan yang ada. "Barangkali dia sibuk, ada tugas yang harus diselesaikan hingga belum sempat membalas chat atau pun menelepon," batinku, sambil terus memupuk kepercayaan padanya.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan berlalu, baru dia berkabar kalau dia mau pulang. Dia ingin melihat anaknya. Aku pun sangat antusias menyambutnya. Terlebih tepat 3 bulan akan ada tasyakuran anak kami, sesuai adat yang masih berlaku di daerahku.

Tentu, harapan yang tersemat adalah dia membawa uang yang cukup untuk membiayai acara tersebut. Apalagi sejak kepergiannya sampai 3 bulan, dia belum pernah mengirimkan uang sepeser pun. Acara semakin dekat, tapi dia tidak ada kabar akan kirim uang.

Ku tanyakan padanya dan hanya dijawab butuh berapa. Ternyata, ia hanya sekedar tanya. Acara digelar tanpa sepeser pun uang dari seorang ayah. Aku pun menjual apapun yang mampu aku jual. Dari situ lah aku tersadar, bangkit dari rasa sakit, dan coba memikirkan cara terbaik untuk menghidupi anak.

Aku percaya penuh pada suami, tapi kenyataan tidak seperti yang ku harapkan. Diriku hanya mampu merenung dan ada penyesalan dengan pernikahan yang aku jalani. Terasa berat, aku sampai baby blues. Rasanya, ingin ku lempar saja anak yang ku lahirkan ini ke dalam sumur.

Karena aku merasa, hidupku benar-benar berubah sejak ada Si Kecil. Rutinitas dan segala aktivitas yang biasa aku jalani harus terampas. Kini, aku menjalani hari-hari hanya dengan mengandalkan tabungan pribadiku.

Barang-barang berharga satu persatu harus rela dijual. Di tengah kepanikan yang melanda, aku mencari lowongan pekerjaan sebagai penulis artikel. Gaji jadi nomor sekian, prioritasku adalah punya kesibukan supaya pikiran-pikiran aneh dalam diri ini sirna.

Sebulan jadi freelancer dengan honor seratus ribu rupiah rupanya sangat kurang untuk kebutuhan sehari-hari. Saat masih mengharap transferan suami, hati ini akan semakin sakit. Pada akhirnya, aku yang berusaha menetralkan perasaan dengan semakin mendekat dengan Sang Pencipta.

-Bunda H, Trenggalek-

Mau berbagi cerita juga, Bun? Yuk cerita ke kami kirimkan lewat email [email protected] Cerita terbaik akan mendapat hadiah menarik dari HaiBunda

[Gambas:Video Haibunda]

(muf/muf)
Share yuk, Bun!
BERSAMA DOKTER & AHLI
Bundapedia
Ensiklopedia A-Z istilah kesehatan terkait Bunda dan Si Kecil
Rekomendasi
Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
ARTIKEL TERBARU
  • Video
detiknetwork

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Bunda sedang hamil, program hamil, atau memiliki anak? Cerita ke Bubun di Aplikasi HaiBunda, yuk!