sign up SIGN UP search

cerita-bunda

Sedihnya Dinyinyiri, Suamiku Arsitek Sepi Job Akhirnya Jadi Pengantar Kue Daganganku

Sahabat HaiBunda   |   Haibunda Jumat, 13 Jan 2023 16:50 WIB
Depressed young woman  crying while her boylfriend come and embrace her Ilustrasi Cerita Bunda: Suamiku Arsitek Sepi Job Dinyinyiri/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Tomwang112
Jakarta -

#HaiBunda aku berusia 36 tahun, ibu dua anak perempuan cantik usia 9 dan 4 tahun. Suamiku adalah seorang arsitek, design interior, yang seusia denganku. Kami dulu berteman lepas saat SMA, lalu bertemu kembali 7 tahun kemudian.

Kami berpacaran hanya setahun, lalu menikah. Alhamdulillah, one of my best moments in life. Tapi menikah bukan lah akhir perjalanan, tapi awal bagi kami untuk melewati segala rintangan sebagai tim.

Kami tinggal di Bandung, jauh dari saudara dan keluargaku karena mereka semua berada di Jawa Tengah. Tapi, keluarga suami semua ada di Bandung.


Profesi utamaku adalah seorang ibu rumah tangga. Tapi, aku punya hobi baking yang jadi sampingan profesi untuk membantu suami mencari nafkah. Sebetulnya, awal aku berjualan kue itu hanya hobi dan permintaan dari orang-orang terdekat.

Jualan kue bukan sebagai mata pencaharian utama karena alhamdulillah, suami bekerja dengan baik dan menafkahi kami dengan sangat cukup. Namun saat pandemi datang, saat itu pula bisnis suami benar-benar mendapat ujian.

Saat pandemi, tidak ada sama sekali orang yang ingin membangun rumah atau merenovasi rumah dengan jasa suamiku. Alhasil, bisnisnya pun sempat terhenti. Karena keadaan, aku dan suami juga terkena COVID-19.

Sungguh itu adalah masa-masa yang sangat sulit. Kami berusaha bertahan dan berdamai dengan keadaan. Lalu akhirnya, aku berusaha untuk maju dengan dukungan suami. Aku berjualan kue lebih giat lagi.

Aku yang membuat kue, suami yang mengantarkan ke pelanggan. Sambil mengerjakan pekerjaan rumah, merawat anak-anak, dan berjualan tanpa pegawai, itu sungguh sangat berat walaupun kami mengerjakan berdua.

Kami harus kuat

Segala kebutuhan rumah seperti bayar listrik, dapur, sekolah anak, dan lainnya, semua bergantung pada bisnis kue. Siang dan malam tiada henti bekerja demi keluarga tidaklah mudah. Sering menangis karena lelah, tapi aku tidak menyerah.

Belum lagi sindiran dari orang lain, atau tetangga yang semakin membuat kami merasa terpuruk dan lelah. Rasanya memang sangat berat hingga aku sering mengikuti kelas-kelas psikologi untuk perempuan, untuk ibu, yang aku harapkan bisa membantu aku selalu kuat mental walaupun sangat lelah.

Selama dua tahun, masyaa Allah rasanya sangat luar biasa berat. Namun Allah selalu memberi kami kekuatan. Sering kali saat malam tiba, dan anak-anak tertidur, sedangkan pekerjaan belum selesai, aku mengerjakan sambil menangis.

Suami sering datang untuk membantu atau sekedar menguatkan aku. Alhamdulillah, semua masa-masa itu berhasil kami lewati. Alhamdulillah perlahan-lahan bisnis suamiku kembali berjalan. Kami pun bisa kembali bernapas lega.

Sungguh sangat banyak pelajaran yang kami dapat saat itu. Kebersamaan, rasa sabar, dan tahan banting, juga membuat kami semakin banyak bersyukur saat ini. Hal-hal yang sebelumnya kami anggap biasa, jadi sangat berharga dan bersyukur telah kami miliki.

Kami jadi semakin yakin bahwa Allah benar-benar memberikan sesuatu yang memiliki hikmah di balik semua perkara. Alhamdulillah kini aku punya toko sendiri di rumah, sebuah mimpi yang aku selalu inginkan sejak dulu.

Aku yakin, bukan aku sendiri yang mengalami hal ini. Di luar sana pasti ada perempuan, bunda, dan ibu yang sedang berjuang tak kenal lelah untuk keluarga. Aku hanya berpesan, jangan menyerah, terus kuat, istirahat lah saat benar-benar lelah, dan cintai diri sendiri yang sudah hebat dalam melewati segala ujian hidup.

Terima kasih untuk suamiku, yang selalu mendukung aku dalam bentuk apa pun. Aku tahu, kamu juga lelah dan bingung tapi selalu ada membantu aku dan menyemangati kita untuk bisa terus bertahan dan melewati ini semua.

Terima kasih juga untuk teman-teman yang selalu memberi dukungan dan doa. Kita juga saling menguatkan untuk melanjutkan hidup jadi lebih baik. Tapi, perjuangan ini belum selesai. Selama kita hidup, kita akan terus berjuang untuk diri sendiri dan keluarga. Aku akan terus semangat dan takkan menyerah.

Demikian sedikit cerita dari kehidupan yang aku lalui. Terima kasih sekali lagi untuk HaiBunda. Sukses selalu!

-Bunda P, Bandung-

Mau berbagi cerita juga, Bun? Yuk cerita ke Bubun, kirimkan lewat email [email protected] Cerita terbaik akan mendapat hadiah menarik dari HaiBunda.

Simak kisah beratnya kehidupan Natalie Margareth membesarkan empat anak tanpa suami, dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(muf/muf)
Share yuk, Bun!
BERSAMA DOKTER & AHLI
Bundapedia
Ensiklopedia A-Z istilah kesehatan terkait Bunda dan Si Kecil
Rekomendasi
Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
ARTIKEL TERBARU
  • Video
detiknetwork

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Bunda sedang hamil, program hamil, atau memiliki anak? Cerita ke Bubun di Aplikasi HaiBunda, yuk!