sign up SIGN UP search


haibunda-squad

Cerita Sara Djojohadikusumo Saat Tahu Hamil Anak Down Syndrome, Nangis 2 Jam

Annisa Afani Jumat, 02 Apr 2021 19:12 WIB
Siapa Saya yang Butuh Terapi Okupasi?
Cute small boy with Down syndrome playing with toy in home living room caption

Terapi okupasi umumnya dibutuhkan oleh ABK, termasuk anak yang memiliki tantangan fisik akibat gangguan seperti cerebral palsy atau cedera otak traumatis.

Selain itu, anak dengan autisme mungkin tidak memiliki disabilitas fisik, tetapi banyak yang berjuang dengan tantangan khusus. Beberapa tantangan tersebut di antaranya:

  • Kelemahan oto
  • Disfungsi sensorik (terlalu banyak atau terlalu sedikit respons terhadap sentuhan, suara, cahaya, bau, atau rasa
  • Kesulitan dengan kemampuan (kurangnya koordinasi
  • Kurangnya keterampilan meniru yang biasanya membantu anak mengembangkan keterampilan bermain dan keterampilan hidup sehari-hari

Semua tantangan ini dapat dibantu dan diatasi melalui berbagai bentuk terapi okupasi. Khusus untuk anak dengan autisme, terapis memiliki keahlian khusus untuk terapi bermain, terapi menulis, terapi integrasi sensorik, terapi keterampilan sosial, atau bahkan terapi perilaku.


Menurut American Occupational Therapy Association (AOTA), beberapa masalah kesehatan pada anak yang juga membutuhkan terapi okupasi di antaranya:

  • Cedera lahir atau cacat lahir
  • Cedera traumatis (otak atau sumsum tulang belakang
  • Gangguan pada proses belajar
  • Masalah kesehatan mental atau perilaku
  • Patah tulang atau cedera ortopedi lain
  • Terlambat tumbuh kembang
  • Memiliki riwayat spina bifida dan amputasi traumatis
  • Multiple sclerosis, cerebral palsy, dan penyakit kronis lain


Proses penetapan program terapi okupasi

Agar lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan, dokter dan/atau terapis biasanya akan memulai program terapi dengan mengevaluasi tingkat kemampuan anak.

Evaluasi melihat pada beberapa bidang, termasuk bagaimana kemampuan anak saat belajar, bermain, merawat diri, berinteraksi dengan lingkungan.

Berdasarkan evaluasi ini, dibuat target dan strategi yang memungkinkan anak untuk mengerjakan keterampilan utama. Beberapa contoh tujuan umum meliputi kemandirian, melakukan aktivitas harian, dan keterampilan motorik.

Khusus untuk keterampilan motorik halus di antaranya seperti menulis, mewarnai, dan memotong dengan gunting.

Hal-hal lain yang juga diamati yakni kemampuan anak menggunakan benda-benda di sekitarnya, menulis di buku atau papan tulis, serta memberi respons terhadap lingkungan sekitarnya.

Terapi okupasi biasanya dilakukan selama 30 - 60 menit per sesi, bergantung pada kebutuhan masing-masing anak.

Agar pemberian terapi bisa sesuai dengan kebutuhan anak, jangan lupa juga untuk konsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis rehabilitasi medis, ya. Dokter akan mendampingi anak selama terapi, serta memberikan rekomendasi alat bantu sesuai kebutuhan.

(AFN/ziz)
HALAMAN :
ARTIKEL SELANJUTNYA
Share yuk, Bun!

Bunda sedang hamil, program hamil, atau memiliki anak? Cerita ke Bubun di Aplikasi HaiBunda, yuk!
Rekomendasi
Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!