sign up SIGN UP search


kehamilan

Berbahayakah Penebalan Dinding Rahim dan Bagaimana Mengatasinya?

Annisa Afani Senin, 31 Aug 2020 07:01 WIB
Ilustrasi ke dokter kandungan caption
Jakarta -

Supaya tubuh wanita bisa hamil dan mempertahankan kehamilannya, ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Ada banyak proses yang terjadi di rahim untuk memastikan sel telur tetap aman. Salah satu aspek penting adalah lapisan dinding rahim (endometrium) dan ketebalannya.

Endometrium sendiri adalah lapisan yang terbuat dari selaput lendir di sisi dalam dinding rahim. Endometrium memiliki dua lapisan, satu lapisan fungsional yang melepaskan diri setiap siklus menstruasi dan lapisan lainnya adalah dasar yang tetap berada di dinding rahim secara permanen.

Dikutip dari Parenting FirstCry, pada wanita yang telah menstruasi, lapisan dinding rahim menebal ukurannya setiap bulan sepanjang tahun-tahun subur wanita, Bunda. Saat menebal, lapisan tersebut menjadi media yang kaya nutrisi bagi embrio untuk menanam sendiri.


Ketebalan dinding rahim 

Ketebalan dinding rahim yang normal berubah sepanjang hidup seseorang, dari kanak-kanak hingga kematangan seksual, tahun-tahun subur, dan setelah menopause. Dalam satu tes, remaja yang belum mentsruasi, lapisan dinding rahimnya lebih tipis dibanding yang sudah.

Menurut Radiologi Society of North America (RSNA), dikutip dari Medical News Today, lapisan dinding rahim paling tipis terjadi selama menstruasi, yakni antara 2-4 mm. Sementara pada paruh pertama fase proliferasi yang dimulai sekitar hari ke-6 hingga 14 siklus wanita atau waktu antara akhir satu siklus menstruasi, saat pendarahan berhenti dan sebelum ovulasi, endometrium mulai menebal dengan ukuran antara 5-7 mm.

Saat menstruasi berlangsung dan bergerak menuju ovulasi, lapisan dinding rahim tumbuh lebih tebal hingga 11 mm. Kemudian sekitar 14 hari dalam siklus wanita, hormon memicu pelepasan sel telur. Selama fase sekresi ini, ketebalan lapisan dinding rahim paling besar bisa mencapai 15 mm.

Penebalan lapisan dinding rahim biasanya bervariasi bagi setiap wanita, namun kisaran normal ketebalan endometrium saat pembuahan sekitar 8 mm. "Delapan mili itu normal, namun di atas itu tidak normal," kata Prof Dr dr Ali Baziad, SpOG(K) dari Brawijaya Women & Children Hospital, dikutip dari detikcom.

Sementara bagi wanita yang sudah menopause dan sehat, lapisan dinding rahimnya berukuran sekitar 5 mm atau kurang dari itu. Namun untuk mengukur ketebalan dinding rahim, cara paling umum digunakan adalah ultrasonografi (USG), tapi jika ada masalah kesehatan lain atau karena ada masalah pada rahim, dokter akan menggunakan MRI.

Dinding rahim menebal dan menipis 

Dinding rahim bisa menebal dan menipis lho, Bunda. Hal itu disebabkan beberapa faktor.

Penebalan dinding rahim

Ketebalan dinding rahim berubah selama siklus menstruasi tetapi faktor lain bisa memicunya. Misalnya kehamilan. Wanita yang mengalami kehamilan ektopik atau kehamilan kurang dari 5 minggu menunjukkan tanda-tanda penebalan dinding rahim.

Penebalan dinding rahim yang tidak normal disebut dengan hiperplasia endometrium. Meskipun penebalan dinding rahim ini bukan menjadi salah satu bagian dari kanker, namun pada akhirnya dapat menyebabkan kanker rahim pada beberapa wanita.

Penebalan dinding rahim ini sendiri biasanya disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon, Bunda. Akibat ketidaknormalan tersebut dapat memicu terjadinya hal yang tak diinginkan seperti kanker rahim.

Ada beberapa gejala hiperplasia endometrium. Mengutip Family Doctor, gejala-gejala tersebut, yakni:

1. Perdarahan menstruasi yang lebih berat atau lebih lama dari biasanya.
2. Siklus menstruasi atau jumlah waktu antar periode yang lebih pendek dari 21 hari.
3. Terjadi perdarahan menstruasi di antara periode menstruasi.
4. Tidak mengalami menstruasi (pra menopause).
5. Perdarahan uterus pasca menopause.

Penyebab hiperplasia endometrium 

Penebalan dinding rahim abnormal disebabkan oleh terlalu banyak estrogen atau kurangnya progesteron. Kedua hormon ini memiliki peran penting dalam siklus menstruasi. Estrogen membuat sel tumbuh, sementara progesteron memberi sinyal pelepasan sel.

Karena ketidakseimbangan hormon, maka dapat menghasilkan terlalu banyak sel atau sel abnormal yang berakibat tidak sehat, Bunda.

Sementara pendarahan pada uterus yang tidak normal memang bisa menjadi gejala dari banyak hal. Dokter yang menangani tentunya akan melakukan pemeriksaan dan tes untuk mendapatkan diagnosis.

Jika lapisan dinding rahim terlalu tebal, maka dapat diindikasikan sebagai hiperplasia endometrium, Bunda. Biasanya, dokter akan melakukan tindakan selanjutnya, yakni biopsi sel endometrium untuk memastikan apakah ada risiko dan cikal bakal kanker.

Ilsutrasi pasien dan dokterIlustrasi pasien dan dokter/ Foto: Thinkstock

Dapatkah hiperplasia endometrium dicegah?

Biasanya wanita akan lebih mungkin dan berisiko tinggi mengalami penebalan dinding rahim abnormal jika telah mengalami menopause. Ini karena hormon tubuh dan siklus menstruasinya telah berubah. Meski begitu, ada beberapa faktor lain yang dapat memicu penebalan dinding rahim abnormal, di antaranya:

1. Penggunaan obat jangka panjang yang mengandung estrogen tingkat tinggi atau bahan kimia yang bertindak seperti estrogen.
2. Siklus haid tidak teratur, yang dapat disebabkan oleh infertilitas atau sindrom ovarium polikistik (PCOS).
3. Kelebihan berat badan atau obesitas.
4. Penggunaan tembakau.
5. Siklus menstruasi pertama pada usia dini.
6. Menopause pada usia yang lebih tua.
7. Tidak pernah hamil.
8. Riwayat keluarga yang memiliki kanker rahim, ovarium, atau usus besar.

Sayangnya, penebalan dinding rahim abnormal tidak dapat dicegah, Bunda. Tetapi Bunda dapat membantu menurunkan risiko dengan beberapa cara berikut ini:

1. Menurunkan berat badan, jika mengalami obesitas.
2. Minum obat progestin jika sudah mengonsumsi estrogen karena menopause atau kondisi lain.
3. Mengonsumsi obat KB atau obat lain untuk mengatur hormon dan siklus menstruasi.
4. Pengobatan penebalan dinding rahim.

Pilihan pengobatan penebalan dinding rahim abnormal ini pun bergantung pada jenis dan kondisi yang dialami oleh tiap individu. Pengobatan yang paling umum biasanya progestin, dan dapat dilakukan dalam beberapa bentuk, termasuk pil, suntikan, krim vagina, atau alat kontrasepsi dalam rahim.

Jika mengidap hiperplasia endometrium atipikal, terutama yang kompleks dan meningkatkan risiko terkena kanker, maka Bunda mungkin bisa mempertimbangkan histerektomi. Ini adalah operasi untuk mengangkat rahim dan dokter akan merekomendasikannya jika Bunda memang berniat tidak akan hamil kembali di masa depan.

Penipisan dinding rahim

Dinding rahim bisa menjadi terlalu tipis. Peneliti mendefinisikan dinding rahim terlalu tipis jika ukurannya 7 mm atau kurang. Para ahli mengasosiasikan ukuran dinding rahim yang tipis dengan usia. Namun mereka melaporkan bahwa 5 persen wanita di bawah usia 40 tahun, dan 25 persen wanita di atas 40 tahun memiliki dinding rahim yang tipis.

Kemungkinan penyebab dinding rahim tipis, yakni:

1. Alirah darah yang buruk

Jika rahim tidak menerima suplai darah yang cukup, rahim mungkin mengalami kesulitan untuk membuat endometrium yang cukup tebal untuk pembuahan. Kurangnya aliran darah mungkin disebabkan rahim yang miring, fibroid rahim atau Bunda malas bergerak.

2. Masalah terkait estrogen

Penurunan kadar estrogen kadang bisa mencegah pertumbuhan sel, yang pada akhirnya bisa menghambat penebalan dinding rahim.

3. Fungsi progesteron tidak tepat

Ketika hormon progesteron tidak berfungsi sebagaimana mestinya, dinding rahim tidak menebal.

4. Efek samping obat kesuburan

Obat-obat tertentu yang digunakan untuk meningkatkan kesuburan dan memicu ovulasi mungkin secara tidak sengaja justru bisa menyebabkan efek samping yang mengakibatkan penipisan dinding rahim.

5. Stres

Kurang tidur dan istirahat bisa menyebabkan stres dan hal ini bisa menghambat pertumbuhan dinding rahim secara optimal.

Sementara itu, cara yang bisa Bunda lakukan untuk meningkatkan ketebalan dinding rahim, yakni dengan diet yang baik, istirahat yang cukup, olahraga teratur, dan akupuntur.

Bunda, simak juga 14 ciri hamil yang jarang diketahui dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(AFN/jue)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi