kehamilan

Ibu Hamil dengan Diabetes Gestasional, Bolehkah Puasa Ramadan?

Prof. Dr. dr. Andon Hestiantoro, Sp.OG-KFer   |   HaiBunda

Senin, 10 Apr 2023 20:15 WIB

Dokter Sisipan
Prof. Dr. dr. Andon Hestiantoro, Sp.OG-KFer
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Sub Endokrinologi & Menopouse (Gangguan Hormon & Berhentinya Haid) Paruh Waktu di RS Hermina Jatinegara. Berpraktik di RS Hermina Jatinegara pada hari Senin (16.00 - 18.00 WIB dan hari Kamis (16.00 - 18.00 WIB).
Jakarta -

Ibu hamil dengan diabetes gestasional bolehkah menjalankan puasa Ramadan? Ada banyak pendapat terkait masalah kesehatan ibu hamil yang satu ini. Sebelumnya, kita pahami dahulu apa itu diabetes gestasional ya.

Diabetes gestasional adalah kondisi terjadinya peningkatan gula darah saat ibu sedang hamil. Artinya, sebelum hamil kadar gula dalam darah kemungkinan normal.

Ibu hamil dikatakan mengidap diabetes gestasional bila kadar gula darah lebih tinggi dari 140 mg/dl setelah diberikan 75 gram glukosa oral/pembebanan (air gula) dan setelah puasa 2 jam. Diabetes gestasional dengan skrining gula darah dapat terdeteksi di usia kehamilan 22 sampai 28 minggu.


Selain diabetes gestasional, kadar gula tinggi kemungkinan juga bisa disebabkan karena gangguan toleransi. Pemeriksaan untuk memastikan kembali kondisi adalah tes toleransi glukosa oral (TTGO).

Kehamilan sendiri bisa memicu terjadinya diabetes. Dimulai di trimester kedua, mulai di screening di usia 22-sampai 28 minggu.

Pregestasional diabetes

Pregestasional diabetes adalah suatu kondisi di mana ibu mengidap diabetes (DM tipe 1 atau tipe 2) sebelum kehamilan. Ibu hamil yang masuk kategori pregestasional diabetes sangat rentan mengalami diabetes gestasional saat hamil.

Diabtes Melitus (DM) tipe 1

Tubuh tidak mampu memproduksi hormon insulin karena faktor genetik, masalah enzim, atau hormon. DM tipe 1 ini merupakan kelainan bawaan sejak lahir.

Ketika tubuh tidak memproduksi insulin, gula akan sulit masuk ke otot. Akibatnya, kadar gula darah tinggi. Pengobatan untuk DM tipe 1 adalah disuntik insulin karena produksinya yang tidak cukup.

Diabtes Melitus (DM) tipe 2

Pada DM tipe 2, kemungkinan produksi insulin normal bahkan bisa menjadi banyak. Tapi, tubuh atau otot tidak sensitif terhadap hormon insulin ini, Bunda. Akibatnya, gula berakhir di darah dalam kadar yang tinggi.

DM tipe 2 dapat disebabkan karena obesitas, infeksi virus, dan kelainan enzim. Pengobatan DM tipe 2 tidak selalu diawali dengan insulin, tapi diupayakan agar otot menjadi sensitif sehingga gula bisa masuk dengan mudah.

Caranya dengan rutin olahraga, menurunkan berat badan, dan menurunkan asupan kalori, dan obat-obat insulin sensitizer agents.

Diagnosis diabetes gestasional

Diagnosis diabetes gestasional dapat ditegakkan melalui pemeriksaan gula darah puasa dan setelah diberikan air gula. Pemeriksaan di awal kehamilan (sebelum trimester kedua) sangat penting untuk memastikan kadar gula darah dalam tubuh ibu hamil.

Bila hasilnya kadar gula darah sudah di atas 200 mg/dl, maka seorang wanita kemungkinan sudah mengalami diabetes sebelum hamil. Kalau hasilnya normal, maka akan dilakukan skrining ulang di trimester kedua dengan pembebanan air gula.

Faktor risiko diabetes gestasional

Berikut faktor risiko yang dapat menyebabkan diabetes gestasional selama kehamilan:

  • Obesitas
  • Riwayat keluarga mengalami diabetes
  • Riwayat kehamilan sebelumnya diabetes gestasional
  • Sindrom metabolik, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, penyakit jantung
  • Mengidap Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)
  • Pola hidup tidak sehat
  • Keguguran berulang

Risko ibu hamil dengan diabtes gestasional

Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini:

1. Bayi menjadi terlalu besar

Bayi dalam kandungan dapat tumbuh menjadi terlalu besar bila ibu mengidap diabetes gestasional. Hal ini disebabkan karena bayi mendapatkan banyak makanan (gula) dari darah ibu yang tidak bisa masuk ke otot.

2. Bayi tidak tumbuh atau kecil

Penyebab lainnya bisa karena ibu memiliki gangguan akibat resistensi insulin, sehingga embrio tidak bisa berimplantasi dengan baik dan plasenta tidak bisa menempel dengan baik. Kondisi ini bisa memperburuk aliran darah ke janin, menyebabkan nutrisi tidak diterima, dan janin menjadi kecil atau tidak bertumbuh dengan baik.

3. Bayi mendadak meninggal dalam rahim

Diabetes gestasional bisa membuat pengaturan darah oleh pankreas menjadi tidak bagus, sehingga menyebabkan penghancuran lemak yang menjadi ketoasidosis. Kondisi ini bisa membuat bayi meninggal mendadak dalam kandungan.

Ibu hamil dengan diabetes gestasional yang diperbolehkan puasa

Ibu hamil dengan diabetes gestasional atau pregestasional diabetes (riwayat DM tipe 1 dan tipe 2) boleh berpuasa. Syaratnya adalah kadar gula darah terkontrol dengan baik.

Sebelum berpuasa, ibu hamil perlu konsultasi dulu ke dokter. Ada yang dapat mengontrol kadar gula darah dengan olahraga saja, olahraga dengan mengatur makan, atau ditambah dengan minum obat.

Bila sudah mengetahui cara mengontrol gula darah, Bunda bisa menjalaninya dengan membagi waktu di sahur dan berbuka.

Misalnya:

Ibu hamil harus minum obat diabetes 3 kali per hari. Maka jadwal minum obat dapat dibagi menjadi waktu sahur, setelah berbuka puasa, dan sebelum tidur. Ketentuan ini juga berlaku bagi ibu hamil yang harus suntik insulin 3 kali per hari.

Konsumsi obat dan suntik insulin selama berpuasa perlu didampingi dokter ya, Bunda. Terutama agar dosis obat yang diminum tepat.

Prinsip puasa pada ibu hamil dengan diabetes gestasional ada 3, yakni:

  1. Bagaimana ibu hamil dapat mempertahankan kadar gula dalam darah agar tidak terlampau tinggi, sehingga bayi tidak makan terlampau banyak.
  2. Bagaimana ibu hamil bisa mempertahankan agar plasenta dapat bekerja dengan baik, tidak terjadi reaksi inflamasi atau kerusakan, sehingga makanan dapat ditransfer dengan lancar dari ibu ke janin.
  3. Bagaimana agar tidak terjadi ketoasidosis saat puasa karena pada kondisi ini, tubuh menghancurkan lemak untuk energi.

Syarat puasa ibu hamil dengan diabetes gestasional

  1. Hasil cek kadar gula darah tidak lebih tinggi dari 140 mg/dl setelah diberikan 75 gram glukosa oral/pembebanan (air gula) dan setelah puasa 2 jam.
  2. Hasil cek TTGO puasa tidak boleh lebih dari 95 mg/dl, kemudian 1 jam setelah makan tidak boleh lebih 140 mg/dl, dan 2 jam setelah makan tidak boleh lebih dari 120 mg/dl.
  3. Hasil cek HBA1C untuk menilai kadar gula tiga bulan terakhir. Anjuran yang boleh berpuasa adalah terkontrol atau tidak lebih dari 7 persen.
  4. Ibu hamil dalam kondisi sehat atau tidak timbul gejala diabetes gestasional, seperti pingsan, lemas, mudah haus, dan sering buang air kecil.
  5. Berat badan ibu tetap naik selama puasa untuk memastikan asupan kalori tercukupi.

Tips berpuasa yang aman untuk ibu hamil dengan diabetes gestasional

Berikut beberapa tips aman berpuasa bagi bumil dengan diabetes gestasional

1. Cek gula darah

Bunda perlu cek gula darah 1-3 hari pertama puasa. Pengecekan dapat dilakukan lagi setiap 3 hari sekali dan dicatat, lalu sesuaikan dengan grafik kadar gula darah.

2. Cek berat badan

Cek berat badan penting untuk memastikan puasa tidak membahayakan selama kehamilan. Berat badan yang turun selama puasa, dapat menandakan ibu dan janin tidak mendapatkan nutrisi yang cukup.

3. Mengatur porsi makan

Selama berpuasa, Bunda perlu mengatur porsi makan dan jenis zat gizi di waktu berbuka dan sahur. Makanan yang Bunda konsumsi perlu menyesuaikan kalori yang dibutuhkan setelah berkonsultasi dengan dokter.

Buatlah grafik dan daftar porsi makan selama berpuasa untuk ibu hamil dengan diabetes gestasional. Isi daftar makanan dapat dibuat dengan detail, mulai dari jumlah karbohidrat, protein, lemak, dan serat yang dibutuhkan selama berpuasa.

4. Melakukan aktivitas ringan

Selama berpuasa, ibu hamil tetap harus melakukan aktivitas fisik atau berolahraga. Beberapa contoh aktivitas yang aman adalah aerobik low impact dan berjalan 30 menit per hari. Aktivitas dapat dilakukan setelah berbuka puasa setelah makan berat.

5. Hindari makanan tertentu

Selama berpuasa, ibu hamil dengan diabetes gestasional perlu menghindari makanan manis, berlemak jenuh, serta tinggi kalori. Contoh makanan yang perlu dihindari saat berbuka dan sahur adalah makanan siap saji, takjil manis, dan gorengan.

Simak yuk penjelasan mengenai kurangnya asupanĀ gizi dengan potensi penyakit diabetes pada anak dalam video di bawah ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT