HaiBunda

KEHAMILAN

Divonis Rahim Lemah dan Janin Terhambat, Bunda Ini Berhasil Lahirkan Bayi dengan Selamat

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Rabu, 28 Jan 2026 16:30 WIB
Ilustrasi Ibu Melahirkan/ Foto: Getty Images/iStockphoto/dimarik
Jakarta -

Persalinan bukan cuma proses alamiah untuk melahirkan bayi. Persalinan merupakan sebuah perjuangan antara hidup dan mati yang harus dilalui oleh seorang perempuan dan bayinya.

Kisah haru perjuangan Bunda melahirkan bayi sudah banyak dibagikan ke publik. Baru-baru ini, kisah haru tersebut dialami oleh Bunda berusia 33 tahun dari kota Bengaluru di India.

Bunda yang tidak disebutkan identitasnya ini telah melahirkan bayi perempuan sehat, dengan bantuan intervensi medis tepat waktu usai mengalami komplikasi besar di awal kehamilan. Dilansir laman Times of India, perempuan tersebut didiagnosis mengalami rahim lemah (inkompetensi serviks) dan pertumbuhan janin terhambat (fetal growth restriction).


Menurut dokter spesialis kebidanan dan ginekologi di Vasavi Hospital Dr. Nisha Buchade, perempuan tersebut menunjukkan dua komplikasi, yang pertama adalah serviks pendek dan terbuka yang terdeteksi pada usia kehamilan 16 minggu. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa jalan lahir telah terbuka pada trimester kedua.

Komplikasi kedua adalah pembatasan pertumbuhan janin yang parah (severe fetal growth restriction), yang dimulai sejak dini dalam kehamilan dan terlihat jelas pada usia kehamilan 25 minggu.

"Pembatasan pertumbuhan janin dini yang parah terjadi pada sebagian kecil (persentase kecil) dari semua kehamilan. Pasien juga memiliki arteri umbilikalis tunggal, yang mungkin berkontribusi pada kondisi ini," ungkap Buchade.

Menjalani kehamilan berisiko tinggi

Selama pemeriksaan rutin kehamilan, dokter menemukan bahwa serviks sudah mulai terbuka dan selaput ketuban menonjol. Dokter pun mengambil tindakan, yakni melakukan penjahitan serviks darurat (cervical cerclage)untuk menopang serviks dan menghindari risiko karena jalan lahir sudah terbuka.

Tindakan tersebut berhasil dilakukan. Setelah dua minggu istirahat, pasien sudah bisa kembali ke rutinitas sehari-harinya.

Komplikasi selanjutnya dimulai pada usia kehamilan 25 hingga 26 minggu ketika berat badan janin mulai menurun dan kadar cairan ketuban juga mulai berkurang. Dokter pun melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan janin.

"Kami memantau ibu menggunakan USG dan USG Doppler, bersama dengan obat-obatan dan dukungan nutrisi, sehingga kami dapat mendorong kehamilan sedekat mungkin dengan waktu persalinan normal," kata Buchade.

"Untungnya bagi sang ibu, bayi tersebut mencapai berat 1,9 kilogram (kg) pada usia kehamilan 37 minggu dan menunjukkan pola detak jantung yang stabil," sambungnya.

Tindakan lain yang dilakukan adalah pemberian suntikan steroid. Hal ini dilakukan sebelum operasi untuk pematangan organ paru-paru bayi di dalam kandungan, Bunda.

"Akhirnya, tibalah hari ketika USG menunjukkan bahwa kadar cairan ketuban telah turun sangat rendah, sehingga perlu direncanakan persalinan dalam satu atau dua hari," ujar Buchade.

"Suntikan steroid diberikan untuk pematangan paru-paru janin, dan setelah 48 jam, dilakukan operasi caesar segmen bawah elektif karena bayi berada dalam posisi sungsang yang menetap dan anhidramnios (cairan ketuban sangat sedikit)."

Operasi caesar berjalan lancar

Operasi caesar dilakukan tanpa kendala. Bayi yang lahir juga tak memerlukan perawatan ekstra di Neonatal Intensive Care Unit (NICU).

"Operasi caesar berjalan lancar. Bayi baru lahir menangis segera setelah lahir, menyusu dengan baik, tidak memerlukan perawatan di NICU, dan ibu serta bayi dipulangkan bersama pada hari ketiga," ungkap Buchade.

Dokter mengatakan, kasus ini menjadi perhatian karena kombinasi risiko yang dialami pasien, termasuk pertumbuhan janin terhambat yang parah, cairan ketuban rendah, inkompetensi serviks dengan serviks pendek atau terbuka, serta arteri umbilikalis tunggal, yang biasanya menyebabkan keguguran atau kelahiran prematur ekstrem.

Mendeteksi perubahan serviks sebelum gejala muncul sangat jarang terjadi. Begitu pula tindakan cerclage darurat pada usia kehamilan 16 minggu dan pemberian obat-obatan tepat waktu untuk membantu mempertahankan berat janin, sehingga kehamilan dapat dijalani dengan aman hingga usia kehamilan 37 minggu.

Demikian kisah haru Bunda melahirkan usai didiagnosis mengalami rahim lemah dan pertumbuhan janin terhambat.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Pasca Melahirkan Anak Kembar, Ini 7 Perubahan Tubuh yang Dialami Bunda

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

5 Potret Apartemen Gisela Cindy di Kanada, Ada Balkon View Pemandangan Kota

Mom's Life Amira Salsabila

Ucapan Ulang Tahun untuk Maia Estianty dari Anak dan Menantu, Intip Potretnya

Mom's Life Annisa Karnesyia

9 Resep Snack MPASI Bayi Usia 9 Bulan, Tinggi Kalori & Mudah Dibuat

Parenting Nadhifa Fitrina

7 Roti Kukus Seenak Cafe Terkenal & Mahal, Coba Bikin di Rumah Yuk

Mom's Life Amira Salsabila

KB Bisa Bikin PMS Lebih Ringan atau Lebih Parah, Ini Faktanya

Kehamilan Annisa Aulia Rahim

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Ikuti Tren 2016, Eva Mendes Akui Pernah Sembunyikan Kehamilan Keduanya

5 Potret Apartemen Gisela Cindy di Kanada, Ada Balkon View Pemandangan Kota

9 Resep Snack MPASI Bayi Usia 9 Bulan, Tinggi Kalori & Mudah Dibuat

KB Bisa Bikin PMS Lebih Ringan atau Lebih Parah, Ini Faktanya

Ucapan Ulang Tahun untuk Maia Estianty dari Anak dan Menantu, Intip Potretnya

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK