HaiBunda

KEHAMILAN

Kisah Bunda Ingin Lakukan Steril usai Alami Hiperemesis Gravidarum saat Hamil

Indah Ramadhani   |   HaiBunda

Minggu, 08 Feb 2026 15:00 WIB
Ilustrasi Ibu Hamil Alami Hiperemesis Gravidarum/ Foto: Getty Images/iStockphoto/PonyWang
Jakarta -

Kondisi hiperemesis gravidarum tak jarang membuat Bunda merasa frustrasi karena mual dan muntah yang begitu ekstrem. Hal ini pula yang membuat seorang Bunda ingin lakukan steril usai mengalami kondisi tersebut saat hamil.

Beratnya perjuangan Bunda Chloe saat mengandung bayinya turut dibagikan melalui laman BBC. Chloe bercerita, sejak ia mengalami hiperemesis gravidarum di kehamilan pertamanya, rasanya ia ingin berhenti dan tidak mengandung kembali.

Hiperemesis gravidarum menyebabkan dirinya mengalami mual dan muntah parah yang berlangsung dari trimester awal hingga bayinya lahir. Ia berharap bisa mendapatkan pengobatan yang memadai, tetapi akses obat hiperemesis gravidarum di Wales saat itu sangat terbatas.


Perjuangan Bunda Chloe dalam menghadapi hiperemesis gravidarum

Seperti yang kita tahu, ibu hamil seharusnya mendapatkan asupan makanan dan minuman yang cukup untuk menunjang kebutuhan janin dan dirinya. Namun, hal tersebut sulit dilakukan Chloe karena ia sama sekali tidak bisa menelan makanan dan minuman sedikitpun.

Setiap makanan dan minuman yang masuk ke mulutnya, pasti langsung keluar begitu saja. Kondisi inilah yang membuat Chloe merasa frustrasi selama di rumah sakit. Bahkan, untuk membersihkan diri saja Chloe harus dibantu oleh suaminya, Bunda.

Beberapa waktu kemudian, putranya lahir ke dunia. Barulah pada saat itu, hiperemesis gravidarum berhenti menghantui dirinya. Keputusannya saat itu adalah berhenti untuk hamil. Namun, di luar rencana justru Chloe hamil untuk kedua kalinya.

Ia dan suami saling bertatapan dan seraya berkata, “Apa yang akan kita lakukan?” Untuk kedua kalinya, Chloe mengkhawatirkan jika kehamilannya akan menjadi begitu sulit. 

Mentalnya terus terpuruk, ketakutan terus menghantuinya, rasanya saat itu seperti tidak ada jalan keluar. Bahkan, kekhawatiran tersebut membawa dirinya pada sebuah keputusan tergila dalam hidupnya.

Chloe mengaku bahwa saat itu ia ingin menggugurkan kandungannya dengan sengaja karena hiperemesis gravidarum yang datang kembali dan menghantui dirinya. Sama seperti kehamilan sebelumnya, ia tak bisa makan, minum, dan beraktivitas seperti orang normal.

Namun, secercah harapan hadir pada kehamilannya kali ini. Chloe bertemu dengan seorang dokter kandungan yang meresepkannya Xonvea. Xonvea merupakan salah satu dari beberapa obat yang digunakan untuk mengatasi mual dan muntah parah pada kondisi hiperemesis gravidarum.

Setelah menantinya sejak lama, akhirnya ia bisa mendapatkan obat tersebut. Selain Xonvea, Chloe juga diresepkan alternatif berupa ascyclizine, prochlorperazine dan ondansetron dari dokter di Royal College of Obstetricians and Gynaecologists.

Chloe mengatakan pengobatan tersebut membantunya bangkit dari keterpurukan. Akhirnya, ia memutuskan untuk terus berjuang dan berhasil melahirkan anak keduanya dengan sehat. Sebagai catatan, ia sudah merasa cukup dengan semua ini dan akan segera melakukan sterilisasi. 

Apa Itu Hiperemesis Gravidarum, Muntah Berlebihan saat Hamil/ Foto: HaiBunda/Novita Rizki

Kisah Bunda alami hiperemesis gravidarum hingga membuatnya berhenti bekerja

Tak hanya Bunda Chloe, kondisi hiperemesis gravidarum juga dikeluhkan oleh Bunda yang membagikan ceritanya melalui laman Parents. Bunda yang tidak diketahui namanya ini juga mengalami hiperemesis gravidarum sebanyak dua kali, dengan gejala yang begitu parah.

Pada kehamilan pertamanya, hiperemesis gravidarum bahkan membuat dirinya harus berhenti dari pekerjaannya sebagai guru. 

"Ketika saya hamil sembilan minggu, rasanya sungguh tak tertahankan. Saya harus berhenti dari pekerjaan saya sebagai guru, serta posisi saya sebagai instruktur kebugaran. Saya tidak tahu apa yang salah dengan diri saya sampai saya mengunjungi dokter kandungan saya ketika saya hamil 10 minggu. Saat itulah saya didiagnosis hiperemesis gravidarum, suatu kondisi yang menyebabkan mual dan muntah parah selama kehamilan," katanya.

Bunda tersebut tidak bisa menikmati kehamilan selayaknya ibu hamil pada umumnya. Setiap hari, ia harus mengonsumsi obat, sebab gejala hiperemesis gravidarum padanya sering hilang dan timbul. 

Beberapa saat, gejala-gejala tersebut mereda. Namun, di akhir kehamilannya gejala itu muncul kembali hingga membuat dirinya dehidrasi parah dan dilarikan ke rumah sakit. Meski begitu, keputusannya dirawat di rumah sakit sudah tepat karena ia dapat melahirkan anak perempuan pertamanya tanpa mengalami komplikasi.

"Saya diresepkan Zofran 4 miligram (mg) dua kali sehari. Gejala hiperemesis gravidarum saya berlanjut hingga usia kehamilan 18 minggu dan mereda, tetapi muncul kembali pada usia kehamilan 36 minggu," ungkapnya.

Setelah Bunda tersebut mengalami pahit dan manis kehamilan pertamanya, ia merasa yakin untuk tetap berencana melahirkan anak kedua. Bahkan, ia pun sudah siap untuk menjalani kehamilan lagi.

Setelah hampir tiga tahun, Bunda tersebut kembali hamil. Namun, apa yang diharapkannya tidak berjalan dengan mulus. Hiperemesis gravidarum kembali menghantuinya, dan gejalanya kini lebih agresif dan muncul sangat cepat.

Setiap hari dirinya tidak pernah keluar kamar. Ia hanya bolak-balik antara tidur dan bangun untuk muntah di toilet. Siklus tersebut terus berulang selama tiga hari di akhir pekan. Atas kondisi tersebut, ia kembali berhenti dari pekerjaannya.

Tak hanya itu, ia pun harus tinggal bersama orang tuanya selama lima minggu agar mereka bisa membantu dirinya dalam merawat putri sulungnya yang saat itu berusia tiga tahun. Hiperemesis gravidarumnya kali ini berlanjut hingga 21 minggu.

Dokternya pun kembali meresepkan Zofran dan dirinya dirawat di rumah sakit sejak usia kehamilannya menginjak tujuh minggu karena dehidrasi yang parah. Namun, putra keduanya ini juga lahir tanpa komplikasi dan tepat empat hari sebelum hari perkiraan lahirnya.

Keputusan serupa juga diambil oleh Bunda tersebut. Sama seperti Bunda Chloe, Bunda ini tidak akan berencana untuk melakukan program hamil lagi dan sudah cukup menerima pahitnya gejala hiperemesis gravidarum.

Apa itu hiperemesis gravidarum?

Hiperemesis gravidarum adalah kondisi mual dan muntah yang begitu parah selama hamil. Mual dan muntah yang berlebihan ini bisa membuat segala aktivitas fisik dan harian ibu hamil terhambat.

Melansir American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), hiperemesis gravidarum terjadi pada tiga persen kehamilan. Kondisi ini dapat diketahui ketika ibu hamil kehilangan lebih dari lima persen berat badannya, serta timbul masalah lain yang berkaitan dengan dehidrasi dan kehilangan cairan tubuh.

Kondisi ini bisa membuat ibu hamil harus mendapatkan perawatan yang lebih intensif di rumah sakit. Bahkan, membuat ibu hamil kehilangan rasa bahagia dan percaya diri karena tidak bisa menikmati momen-momen indah selama kehamilan.

Penyebab hiperemesis sendiri belum diketahui secara pasti. Mungkin penelitian saat ini masih berusaha untuk mencari tahu dan mengembangkan solusi pencegahan terbaiknya. Sejauh ini, penanganannya hanya berupa pemberian obat, seperti Xonvea, Zofran, serta cairan infus agar kondisinya tetap terjaga.

Nah, demikian informasi yang membahas tentang hiperemesis gravidarum pada ibu hamil. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan para Bunda sekalian!

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

5 Buah Kaya Kalsium yang Baik Dikonsumsi Selama Kehamilan

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Berkaca dari Kisah Boiyen, Mengapa Awal Pernikahan Rawan Konflik?

Mom's Life Arina Yulistara

Jangan Sampai Salah, Ini 5 Pernikahan Terlarang dalam Islam

Mom's Life Angella Delvie Mayninentha & Muhammad Prima Fadhilah

Tak Selalu Berhasil, Jennifer Aniston Jadi Potret Nyata Perjuangan Promil IVF

Kehamilan Annisa Aulia Rahim

Pakai TWS Earbuds Bisa Picu Kanker, Mitos atau Fakta?

Mom's Life Natasha Ardiah

Rumah Berantakan: Cerminan Kepribadian atau Tanda Kesehatan Mental?

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Rumah Berantakan: Cerminan Kepribadian atau Tanda Kesehatan Mental?

Jangan Sampai Salah, Ini 5 Pernikahan Terlarang dalam Islam

Berkaca dari Kisah Boiyen, Mengapa Awal Pernikahan Rawan Konflik?

Tak Selalu Berhasil, Jennifer Aniston Jadi Potret Nyata Perjuangan Promil IVF

Pakai TWS Earbuds Bisa Picu Kanker, Mitos atau Fakta?

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK