Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Diare yang Tidak Diobati Selama Hamil Bisa Memicu Keguguran, Ini Kata Pakar

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Kamis, 09 Jul 2026 11:05 WIB

Ilustrasi Ibu Hamil Sakit
Diare yang Tidak Diobati Selama Hamil Bisa Memicu Keguguran, Ini Kata Pakar/ Foto: Getty Images/iStockphoto/geargodz
Jakarta -

Diare selama hamil sering dianggap sebagai keluhan yang normal. Keluhan ini kerap dikaitkan dengan perubahan hormon, Bunda.

Banyak ibu hamil percaya kalau diare akan sembuh dengan sendirinya. Mereka juga meyakini bahwa kondisi ini tidak akan membahayakan kehamilan dan janin.

Lantas, benarkah diare adalah kondisi normal yang dialami ibu selama hamil?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Melansir dari laman Healthwise Punch, diare selama kehamilan ternyata tidak boleh dianggap remeh sebagai penyakit ringan atau gejala kehamilan normal. Pasalnya, diare yang terjadi terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi, memicu kontraksi, mengakibatkan persalinan prematur, dan keguguran.

Banyak dokter menjelaskan bahwa diare dapat disebabkan oleh perubahan hormonal selama kehamilan, infeksi, makanan dan air yang terkontaminasi, intoleransi makanan, kebiasaan makan yang buruk, dan reaksi terhadap multivitamin dan obat-obatan. Ibu hamil yang terkena diare bisa kekurangan nutrisi dan cairan yang dapat memengaruhi kondisi tubuh dan janin di dalam kandungannya.

Meskipun diare sering kali ringan dan bersifat sementara, kondisi ini dapat berlangsung lebih dari satu hari dan disertai muntah, demam, sakit perut, keluar darah di feses, penurunan frekuensi buang air kecil, hingga kelemahan mungkin disebabkan oleh infeksi. Keluhan diare dengan penyerta tersebut memerlukan perhatian medis segera, Bunda.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), selama episode diare, air dan elektrolit (natrium, klorida, kalium, dan bikarbonat) hilang melalui feses, muntah, keringat, urine, dan pernapasan. Ketika cairan tersebut tidak digantikan, seseorang yang mengalami diare bisa dehidrasi.

"Diare selama kehamilan biasanya ringan dan sementara, dan tidak boleh diabaikan ketika terjadi, untuk mencegah dehidrasi," kata profesor obstetri dan ginekologi di University of Ibadan, Oyo State, Christopher Aimakhu.

Menurut Aimakhu, diare dapat terjadi karena keracunan makanan, gagal menjaga kebersihan makanan dan tangan, perubahan hormonal selama kehamilan, reaksi terhadap suplemen atau multivitamin, khususnya zat besi, serta infeksi seperti gastroenteritis atau infeksi bakteri.

Aimakhu mengatakan bahwa diare berkepanjangan dapat menyebabkan dehidrasi dan merangsang kontraksi rahim, yang bisa memicu persalinan prematur dan keguguran.

"Usus dan rahim adalah organ berotot. Jika usus bergerak cepat dan terjadi relaksasi, efek yang sama dapat terjadi pada rahim. Jika tidak hati-hati, diare dapat menyebabkan ancaman keguguran atau persalinan prematur," ungkapnya.

Dehidrasi karena diare dapat dicegah dengan menggantikan cairan yang hilang. Salah satunya adalah meningkatkan asupan air dan menghindari makanan yang dapat memicu buang air besar lebih lanjut.

"Pastikan minum banyak air. Pastikan juga makanan baik-baik saja dan bergizi. Pilih makanan yang hambar atau padat, seperti nasi, roti, dan makanan rendah serat. Pisang bisa membantu. Kemudian, hindari makanan yang dapat memicu atau menyebabkan diare, seperti susu dan yogurt," ujar Aimakhu.

Penting untuk mengetahui tanda dehidrasi

Saat hamil, Bunda tak hanya perlu memahami dampak diare, tapi juga tanda dehidrasi. Tanda-tanda ini dapat meliputi pusing, rasa haus yang berlebihan, penurunan frekuensi buang air kecil, kram perut, demam, dan lidah kering, serta keluarnya darah atau lendir dalam feses. Bila mengalami tanda-tanda itu, Bunda harus segera mendapatkan penanganan medis ya.

"Jika pusing, sangat haus, buang air kecil sedikit, itu adalah tanda-tanda dehidrasi. Kemudian jika ibu hamil mengalami sakit perut atau kram, karena usus sudah kering, dia mungkin mengalami masalah. Ketika buang air besar sangat banyak dan terdapat darah atau lendir dalam fesesnya, dia juga harus memeriksakannya," kata Aimakhu.

Cara mengatasi diare saat kehamilan

Para ginekolog terkemuka menekankan bahwa para ibu hamil yang mengalami diare harus tetap terhidrasi, mengonsumsi makanan hambar dan rendah serat. Mereka juga dilarang untuk mengobati diri sendiri atau mengandalkan pengobatan rumahan bila gejalanya berlanjut.

Diare saat hamil memang dapat diatasi dengan obat. Tapi, meskipun ada beberapa pengobatan untuk diare, pilihan yang tepat pada akhirnya bergantung pada gejala, apakah dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Sebelum mengonsumsi obat, ibu hamil juga perlu berkonsultasi dengan dokter ya. Dokter mungkin menyarankan Bunda untuk bersabar dan melihat apakah kondisinya akan membaik. Ya, dalam beberapa kasus, diare selama kehamilan dapat sembuh dengan sendirinya, tanpa perlu pengobatan.

Namun, jika diare benar-benar mengganggu, dokter mungkin akan menyarankan untuk mengonsumsi loperamide atau bahan aktif yang umumnya dianggap aman digunakan selama kehamilan. Penelitian lain menunjukkan bahwa probiotik juga dapat membantu. Demikian seperti dikutip dari The Bump.

Demikian serba-serbi diare dan kaitannya dengan keguguran menurut pakar. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda