kehamilan
Ibu Hamil Trimester 3 Mau Wall Climbing? Ternyata Aman Lho
HaiBunda
Sabtu, 22 Aug 2026 15:50 WIB
Daftar Isi
Ibu hamil biasanya lebih berhati-hati dalam memilih aktivitas olahraga. Wall climbing atau panjat tebing selama ini dianggap sebagai olahraga yang berisiko jatuh sehingga sering disarankan untuk dihindari selama kehamilan. Namun, penelitian terbaru menemukan hal yang menarik mengenai aktivitas ini.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Sports Medicine pada 2026 menemukan bahwa ibu hamil yang tetap melakukan panjat tebing hingga trimester ketiga tidak menunjukkan peningkatan komplikasi kehamilan berdasarkan laporan peserta penelitian.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa sebagian besar peserta merasa senang karena tetap dapat melakukan aktivitas yang mereka sukai selama kehamilan. Lantas, apakah wall climbing aman dan bermanfaat untuk ibu hamil?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi tentang wall climbing saat hamil
Penelitian berjudul To Climb or Not to Climb: A Cross-Sectional Investigation of Risks and Benefits During Pregnancy and Postpartum melibatkan 692 orang yang pernah melakukan panjat tebing saat hamil.
Para peserta mengisi kuesioner mengenai aktivitas panjat tebing, kejadian jatuh, kondisi kesehatan selama kehamilan, kondisi bayi, serta kapan mereka kembali melakukan aktivitas tersebut setelah melahirkan.
Secara keseluruhan, peserta melaporkan hampir 64.000 jam aktivitas panjat tebing selama kehamilan. Selama periode tersebut, peneliti mencatat 155 kejadian yang disebut sebagai hard falls, yaitu jatuh atau hentakan ketika tertahan tali yang cukup kuat hingga diingat atau menimbulkan kekhawatiran.
Tingkat kejadian medis yang merugikan (adverse events) tercatat sebesar 0,03 per 1.000 jam aktivitas panjat tebing.
Peneliti juga membandingkan peserta yang berhenti melakukan panjat tebing pada atau sebelum usia kehamilan 27 minggu dengan mereka yang tetap melakukannya setelah usia tersebut.
Hasilnya, tidak ditemukan perbedaan signifikan dalam hasil kesehatan kehamilan antara kedua kelompok. Dengan demikian, melanjutkan aktivitas panjat tebing hingga trimester ketiga tidak dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan komplikasi kehamilan yang dilaporkan sendiri oleh peserta.
Margie Davenport, profesor di Fakultas Kinesiologi, Olahraga, dan Rekreasi sekaligus penulis utama studi tersebut, mengatakan bahwa temuan awal ini menantang anggapan mengenai olahraga untuk ibu hamil yang selama ini lebih didasarkan pada opini ketimbang penelitian.
"Selama beberapa dekade, kita membatasi ibu hamil melakukan aktivitas seperti panjat tebing karena kekhawatiran akan kesehatan ibu dan bayi, namun bukti kami menunjukkan bahwa aktivitas ini bermanfaat bagi kesehatan mental maupun fisik," kata Davenport melansir laman Femtechworld.
Wall climbing saat hamil juga dikaitkan dengan manfaat mental
Menariknya, penelitian tersebut tidak hanya melihat kemungkinan risiko dari aktivitas panjat tebing selama kehamilan, tetapi juga pengalaman para peserta.
Sebanyak 96 persen peserta mengatakan merasa bahagia atau sangat bahagia karena tetap melanjutkan aktivitas panjat tebing selama hamil. Para peserta yang tetap melakukan aktivitas tersebut juga melaporkan kondisi kesehatan mental dan emosional yang membaik atau tidak mengalami perubahan selama kehamilan.
Peneliti juga menemukan bahwa para peserta rata-rata kembali melakukan aktivitas panjat tebing sekitar 2,7 bulan setelah melahirkan.
Temuan ini sejalan dengan bukti yang lebih luas mengenai manfaat aktivitas fisik selama kehamilan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan ibu hamil tanpa kontraindikasi medis melakukan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang setiap minggu.Â
Aktivitas fisik selama kehamilan dapat memberikan berbagai manfaat kesehatan, termasuk membantu menurunkan risiko diabetes gestasional, hipertensi dalam kehamilan, kenaikan berat badan berlebihan, serta depresi postpartum.
Mengapa wall climbing selama hamil selama ini dianggap berisiko?
Kekhawatiran utama terhadap panjat tebing bukan semata-mata karena aktivitas fisiknya, tetapi risiko jatuh dan benturan. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) secara umum menganjurkan ibu hamil menghindari aktivitas yang meningkatkan risiko cedera atau jatuh. Contohnya termasuk ski menuruni bukit, ski air, selancar, bersepeda off-road, senam, dan berkuda.
Karena wall climbing juga memiliki kemungkinan jatuh, aktivitas ini selama ini masuk dalam kategori yang perlu dipertimbangkan dengan hati-hati selama kehamilan.
Namun, penulis studi terbaru menilai bahwa rekomendasi untuk menghindari panjat tebing selama kehamilan selama ini lebih banyak didasarkan pada kekhawatiran teoretis mengenai risiko jatuh, sementara data empiris mengenai aktivitas tersebut masih terbatas.
Apakah ibu hamil boleh wall climbing?
Temuan penelitian terbaru memang memberikan gambaran bahwa wall climbing mungkin tidak selalu harus dihentikan selama kehamilan, terutama pada perempuan yang sudah terbiasa melakukan aktivitas tersebut sebelum hamil. Namun, hasil penelitian ini belum berarti semua ibu hamil dapat melakukan panjat tebing dengan aman.
Penelitian tersebut merupakan studi cross-sectional berbasis survei dan menggunakan laporan peserta mengenai kejadian jatuh serta kondisi kesehatan mereka. Artinya, penelitian ini belum dapat membuktikan bahwa wall climbing aman untuk setiap ibu hamil atau bahwa aktivitas tersebut tidak memiliki risiko komplikasi.
Karena itu, Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter kandungan sebelum melanjutkan atau memulai aktivitas ini selama kehamilan. Kondisi kesehatan ibu, usia kehamilan, pengalaman sebelum hamil, serta jenis dan tingkat kesulitan panjat tebing perlu dipertimbangkan.
ACOG sendiri menyebutkan bahwa ibu dengan kehamilan sehat umumnya dapat tetap aktif secara fisik, tetapi aktivitas perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Ibu hamil juga dianjurkan berkonsultasi dengan dokter mengenai jenis olahraga yang aman.
Jadi, kabar dari penelitian ini bukan berarti ibu hamil bebas melakukan wall climbing, melainkan memberikan bukti awal bahwa aktivitas tersebut mungkin tidak seberbahaya yang selama ini diasumsikan pada ibu yang memang sudah terbiasa melakukannya.
Kapan ibu hamil harus menghentikan olahraga?
Apa pun jenis olahraganya, Bunda perlu memperhatikan tanda-tanda tubuh selama beraktivitas.
ACOG menyarankan untuk menghentikan olahraga dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika muncul perdarahan vagina, nyeri perut, kontraksi yang teratur dan terasa sakit, keluar cairan ketuban, sesak napas sebelum berolahraga, pusing, sakit kepala, nyeri dada, kelemahan otot yang mengganggu keseimbangan, atau nyeri maupun pembengkakan pada betis.
Dengan demikian, olahraga selama kehamilan tetap perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing ibu. Wall climbing mungkin bisa menjadi pilihan untuk sebagian ibu yang sudah terbiasa melakukannya, tetapi keputusan untuk melanjutkannya sebaiknya dibuat bersama dokter kandungan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Kehamilan
15 Tanda Mau Melahirkan, Ibu Hamil Wajib Tahu
Kehamilan
Bunda Bertubuh Pendek Lebih Berisiko Melahirkan Prematur, Mitos atau Fakta?
Kehamilan
7 Persiapan Penting agar Persalinan Normal Berjalan Lancar
Kehamilan
5 Infeksi Bakteri & Virus Yang Wajib Diwaspadai Ibu Hamil
Kehamilan
Manfaat Kurma untuk Ibu Hamil, Benarkah Juga Bisa Lancarkan Persalinan?
7 Foto
Kehamilan
7 Potret Sabrina Anggraini Istri Belva Devara Jalani Trimester 3, Tak Sabar Sambut Baby Girl
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
7 Latihan untuk Merangsang Persalinan Lebih Lancar, Salah Satunya Main Gym Ball
Do and Don'ts Prenatal Yoga, Kunci Olahraga Aman Selama Kehamilan
Intip Berbagai Aktivitas Janin di Kandungan saat Bunda Hamil di Trimester 3