sign up SIGN UP search


menyusui

Dosis Aman Ibu Menyusui Minum Ibuprofen, Simak Juga Efek Sampingnya

Annisa Karnesyia Rabu, 02 Jun 2021 15:06 WIB
Ibu menyusui caption
Jakarta -

Ibuprofen dikenal sebagai obat yang efektif untuk mengatasi sakit ringan. Obat ini juga dianggap aman dikonsumsi anak-anak hingga Bunda yang lagi menyusui. Benar enggak ya, Bunda?

Ibuprofen adalah obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID). Obat ini bekerja dengan mengurangi hormon yang menyebabkan peradangan dan rasa sakit di tubuh.

"Ibuprofen digunakan untuk mengurangi demam dan mengobati rasa sakit atau peradangan yang disebabkan oleh berbagai kondisi, seperti sakit kepala, sakit gigi, sakit punggung, radang sendi, kram menstruasi, dan cedera ringan," kata Kaci Durbin, MD, dilansir Drugs.


Ibuprofen boleh dikonsumsi anak-anak yang berusia minimal 6 bulan. Jenis obat ini juga aman dikonsumsi Bunda yang lagi menyusui ya.

Ibuprofen pada ibu menyusui

Banyak para Bunda khawatir bila obat yang dikonsumsi selama menyusui bisa masuk ke ASI dan memengaruhi buah hati. Faktanya, memang hampir semua obat yang ada di dalam aliran darah akan berpindah ke ASI.

Ibuprofen dengan dosis sedang aman dikonsumsi selama menyusui. Sebab, hanya sejumlah kecil dari obat ini yang akan masuk ke dalam ASI.

Sebuah studi yang diterbitkan di Therapeutic Drug Monitoring tahun 2014 mengamati konsentrasi ibuprofen dalam ASI. Hasilnya diperoleh bahwa bayi menerima kurang dari 0,38 persen dosis obat ini dengan menyesuaikan berat badan ibunya.

Bahkan ketika wanita menyusui mengonsumsi ibuprofen dosis tinggi melalui mekanisme persalinan cepat, seperti supositoria, bayi terpapar kurang dari 1 persen dari dosis.

Dikutip dari BMA Concise Guide To Medicines & Drugs, Dr Michael Peters menjelaskan bahwa kandungan ibuprofen tetap bisa masuk ke dalam ASI. Tapi pada dosis normal, efek sampingnya pada bayi tidak ada.

"Ibuprofen memiliki sedikit efek samping-terutama pada dosis rendah, dibandingkan banyak NSAIDS lain, dan risiko perdarahan gastrointestinal dan ulserasi yang lebih rendah," kata Peters.

Obat ibuprofen memang memiliki banyak karakteristik yang membuatnya menjadi pilihan aman untuk Bunda yang sedang menyusui. Obat ini diketahui dapat diurai dengan cepat dan mudah di dalam tubuh.

Selain itu, obat ibuprofen juga tidak memiliki kecenderungan untuk merusak sistem tubuh seperti beberapa obat lain. Karena kemampuan tubuh untuk metabolisme dengan cepat, sangat sedikit obat yang masuk ke bayi melalui ASI.

Meski demikian, obat ibuprofen bukanlah obat yang selalu dapat menjadi andalan bagi semua Bunda menyusui. National Health Service (NHS) Inggris telah memperingatkan Bunda yang menderita asma atau riwayat sakit maag tidak boleh mengonsumsi ibuprofen karena dapat memperburuk kondisi ini.

Selain itu, Bunda menyusui yang pernah memiliki bayi prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan bahwa ibuprofen saat menyusui sesuai untuk mereka.

Ibu menyusuiIbu menyusui/ Foto: iStock

Dosis ibuprofen untuk ibu menyusui

Dalam sebuah studi, dilakukan penelitian pada sekelompok wanita yang diberi ibuprofen 400 miligram (mg) dua kali sehari. Sementara kelompok lainnya diberikan dosis yang sama setiap 6 jam.

Hasil penelitian ini menemukan bahwa kandungan ibuprofen tidak ditemukan di ASI. Meski tidak menunjukkan efek buruk, Bunda sebaiknya tetap konsultasi ke dokter untuk penggunaan obat ini ya.

Ibuprofen bentuk tablet yang dijual bebas biasanya memiliki dosis 200 hingga 400 mg. Mengutip berbagai sumber, Bunda yang menyusui bisa mengonsumsi maksimal 400 mg atau 2 kali 200 mg setiap 4 sampai 6 jam (perlu ada waktu jeda).

Pada orang dewasa, konsumsi maksimal ibuprofen adalah 1200 mg per hari. Penggunaan dosis tinggi pada Bunda menyusui perlu dikonsultasikan ke dokter.

Tips menggunakan ibuprofen saat menyusui

Melansir dari WebMD, berikut tips yang perlu Bunda tahu tentang penggunaan ibuprofen saat menyusui.

1. Konsumsi sesuai kebutuhan, artinya Bunda hanya perlu minum ibuprofen saat membutuhkannya saja ya. Jangan melebihi dosis maksimum harian. Sebaiknya pertimbangkan pilihan lain untuk menghilangkan rasa sakit, seperti kompres di dahi.

2. Minum obat hanya untuk gejala yang tepat. Hindari obat dengan bahan yang tidak Bunda perlukan atau obat untuk mengobati banyak gejala.

3. Hindari obat yang memberikan efek kuat atau jenis obat time release karena kandungan obat ini berisiko dapat muncul di dalam ASI.

4. Minum air yang banyak setelah konsumsi obat agar tubuh tetap terhidrasi.

5. Jangan lupa selalu membaca label obat agar konsumsi tidak melebihi dosis maksimum harian yang dianjurkan.

Efek samping ibuprofen

Ibuprofen bisa menyebabkan reaksi alergi seperti kulit gatal-gatal, sulit bernapas, atau bengkak di wajah. Pada kondisi parah, efeknya bisa menyebabkan nyeri kulit, ruam kulit merah, demam, dan sakit tenggorokan parah.

Penggunaan obat ini tidak dianjurkan sebelum atau sesudah operasi bypass jantung atau pada orang lanjut usia. Selain itu, obat ini bisa menyebabkan pendarahan di lambung dan usus.

"Jangan mengambul lebih dari dosis yang dianjurkan karena overdosis obat ini bisa merusak perut dan usus. Gunakan sedikit obat yang dibutuhkan untuk menghilangkan rasa sakit, bengkak, atau demam," ujra Durbin.

Bunda perlu menghubungi dokter bile mengalami tanda-tanda tersebut ya. Bantuan medis mungkin dibutuhkan saat seseorang memiliki tanda-tanda serangan stroke, seperti nyeri dada yang menyebar ke rahang atau bahu, mati rasa atau kelemahan di satu sisi tubuh, bicara cadel, kaki bengkak, atau sesak apas.

Berhenti menggunakan ibuprofen bila Bunda mengalami gejala:

1. Kesulitan melihat atau perubahan dalam penglihatan.

2. Sesak napas bahkan saat melakukan aktivitas ringan.

3. Pembengkakan atau penambahan berat badan dengan cepat.

4. Ruam kulit.

5. Tanda-tanda pendarahan perut, seperti tinja berdarah atau lembek, batuk darah atau muntah.

5. Gangguan di hati seperti mual, sakit perut bagian atas, gatal, perasaan mudah lelah, gejala seperti flu, kehilangan nafsu makan, urine berwarna gelap, penyakit kuning.

6. Mengalami anemia dengan gejala kulit pucat, perasa pusing atau sesak napas, detak jantung cepat, sulit konsentrasi.

7. Masalah di ginjal seperti sulit buang air kecil, bengkak di kaki atau pergelangan kaki, merasa lelah atau sesak napas.

(ank)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi