sign up SIGN UP search


menyusui

Manajemen ASI Perah: Tata Cara Menyimpan & Menghangatkan untuk Diberikan ke Bayi

Annisa Karnesyia   |   Haibunda Rabu, 24 Aug 2022 12:50 WIB
ASI Perah caption
Jakarta -

Bunda baru saja melahirkan Si Kecil? Selama mengASIhi buah hati, jangan lupa untuk menjalani manajemen ASI perah yang tepat ya.

Air Susu Ibu (ASI) perah atau ASIP diperoleh dengan cara memerah dari payudara. ASI perah yang didapatkan lalu ditempatkan ke dalam wadah untuk disimpan dan nantinya diberikan ke bayi.

Menurut konselor laktasi, F.B. Monika dalam Buku Pintar ASI dan Menyusui, mempelajari seluk-beluk ASI perah dan teknik memerah merupakan salah satu langkah menuju keberhasilan menyusui, Bunda.


"Ibu menyusui yang baru melahirkan sebaiknya memahami cara memerah ASI sehingga ibu dapat terus mempertahankan pemberian ASI saat harus terpisah dari bayinya," kata Monika.

Memahami manajemen ASI perah memang tak mudah. Bila bingung dan merasa khawatir, Bunda dapat berkonsultasi ke konselor menyusui atau dokter laktasi ya.

Alasan memberikan ASI perah

Banyak alasan Bunda memerah atau memberikan ASI perah pada anaknya. Alasan ini bisa karena faktor ibu atau bayinya.

Penyebab bayi diberikan ASI perah

Melansir dari beberapa sumber, berikut 3 alasan paling umum ibu menyusui atau busui memberikan ASI perah pada anaknya:

  1. Bayi belum dapat menyusu dengan baik.
  2. Bayi tidak dapat menyusu langsung karena sakit.
  3. Bayi lahir prematur dan harus dirawat di NICU (Neonatal Intensive Care Unit).

Penyebab ibu menyusui memerah ASI

Berikut 6 alasan busui memerah ASI:

  1. Bunda memutuskan kembali bekerja sehingga harus berjauhan dengan bayinya.
  2. Bunda sedang menjalani pengobatan yang dapat membahayakan bayi. Bunda tetap harus memerah, meski tidak memberikan ASI tersebut pada anaknya.
  3. Mencegah payudara bengkak dan mastitis.
  4. Busui mengalami nyeri puting yang berat sehingga tidak sanggup untuk menyusui langsung bayinya.
  5. Busui sedang menjalani program relaktasi dan induksi laktasi.
  6. Busui memiliki masalah kesehatan yang dapat menghambat produksi ASI secara normal, seperti diabetes, PCOS (polycystic ovarian syndrome), atau riwayat operasi payudara dan trauma pada payudara.

Bentuk dan rasa ASI perah

ASI PerahIlustrasi ASI Perah/ Foto: Getty Images/iStockphoto

Bunda perlu memahami bahwa tampilan dan rasa ASI bisa berubah ketika didiamkan selama beberapa waktu. Tampilan dapat dilihat dari perubahan warna hingga kekentalan ASI perah.

Perubahan warna ASI perah

Warna ASI perah dapat berubah menjadi merah muda, kekuningan, hingga kehijauan. Tak hanya itu, ASI perah yang keluar dari payudara juga bisa disertai darah, Bunda. Dilansir berbagai sumber, berikut penjelasan lengkapnya:

1. Kuning

Warna normal ASI yang berubah kuning dapat terjadi setelah mengalami pembekuan. Awalnya mungkin tampak putih, namun lama-kelamaan menjadi kuning dan itu masih dikatakan normal.

Warna ASI kuning juga bisa disebabkan pola diet Bunda, yakni mengonsumsi makanan berwarna kuning seperti wortel atau kentang.

2. Putih

Tubuh Bunda biasanya baru menghasilkan ASI putih setelah beberapa hari usai melahirkan. Tapi, setiap orang mungkin berbeda, ada yang berubah dari kuning menjadi putih atau kuning muda.

3. Warna ASI perah biru

Warna ini sering terlihat pada awal pemompaan atau menyusui. ASI berwarna biru masuk dalam jenis foremilk, mengandung banyak lemak dan sedikit elektrolit.

4. Hijau

Sebagian besar ASI berwarna hijau karena disebabkan makanan yang dikonsumsi Bunda, misalnya sayuran hijau dalam jumlah banyak. Tidak perlu khawatir ya, warna hijau ASI akan berubah menjadi normal dengan sendirinya kok.

5. Merah muda

ASI perah berubah warna menjadi merah muda bisa disebabkan dari makanan yang disantap. Selain itu bisa karena terkandung darah dalam ASI yang disebabkan puting pecah-pecah atau luka pada payudara. Tapi, bila warna tidak kembali normal setelah beberapa hari, Bunda sebaiknya konsultasi ke dokter. Sebab, darah dalam ASI bisa juga bisa menjadi pertanda infeksi payudara.

Infografis 11 Cara Memeras ASI Tanpa AlatCara Memeras ASI Tanpa Alat/ Foto: HaiBunda/Annisa Shofia

Kekentalan ASI perah

Konselor laktasi Monika menjelaskan, ASI berbeda dengan susu homogen. ASI akan terpisah menjadi beberapa lapisan ketika didiamkan selama beberapa waktu di dalam pendingin.

Saat didinginkan, lemak ASI perah akan naik ke atas wadah. Akibatnya, bagian ASI yang tampak lebih kental dan kuning seperti krim akan berada di bagian atas.

"Itu bukan berarti ASI perah telah rusak atau basi. Ibu cukup menggoyang pelan (bukan mengocok) wadah ASI perah agar ASI bercampur kembali," ujar Monika.

Pada umumnya, lemak ASI juga sering menempel di dinding wadah dan lebih menempel lagi bila menggunakan wadah berbahan plastik, Bunda. Bila ingin menghindari hal tersebut, Bunda disarankan untuk menggunakan wadah berbahan kaca ya.

Kekentalan ASIP tidak akan sama setiap waktu

Perlu diketahui, kekentalan ASI perah tidak akan persis sama setiap waktu. Hal ini karena banyak faktor yang memengaruhi kandungan lemak dalam ASI, termasuk warna ASI.

Jadi, ketika Bunda melihat ASI perah seperti encer, itu bukan berarti kandungan nutrisinya hilang atau berkurang ya. ASI perah encer bisa saja karena itu adalah foremilk yang keluar di awal menyusui. Foremilk memang tampak encer, tapi kaya kandungan laktosa yang penting untuk perkembangan otak bayi.

Bau ASI perah

ASI perah yang segar umumnya memiliki bau yang lembut dan manis. Tapi, pada banyak kasus, ASI perah yang sudah dibekukan bisa berbau tengik seperti sabun.

Menurut konsultan laktasi Meredith Walls CNM, NP, lipase adalah enzim penting yang membantu bayi memecah ASI sehingga dapat dicerna dan menyerap nutrisi penting yang terkandung di dalamnya. Enzim ini biasanya diproduksi di pankreas, namun juga ditemukan di saluran pencernaan bayi baru lahir.

"Lipase secara alami ditemukan dalam ASI. Diyakini bahwa kelebihan enzim ini dapat menyebabkan rasa ASI berubah," kata Walls, dikutip dari Healthline.

Walls menjelaskan, saat ASI perah disimpan dalam suhu dingin, kadar enzim yang tinggi membuat lemak dalam susu lebih cepat terurai sehingga memengaruhi rasa ASI dan baunya. Tapi Bunda tak perlu khawatir, hingga kini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa enzim lipase tinggi di ASI dapat menimbulkan dampak buruk pada bayi.

Tips mencegah ASI perah bau tengik

Mengutip Parenting Firstcry, berikut 5 tips mencegah ASI perah bau tengik:

  1. Jangan simpan ASI perah dalam waktu yang lama.
  2. Perhatikan waktu penyimpanan ASI perah dengan mencatat jam dan hari di kantong ASI.
  3. Sesuaikan tekanan dan kecepatan saat memerah ASI.
  4. Mencampur ASI perah dengan makanan lain bila bayi sudah mulai MPASI.
  5. Menghangatkan ASI perah dengan teknik scalding, yakni menghangatkan ASI dengan dipanaskan sampai terbentuk gelembung-gelembung tetapi tidak mendidih.

Tata cara menyimpan ASI perah

ASI PerahIlustrasi ASI Perah/ Foto: iStock

Manajemen ASI perah dimulai sejak persiapan hingga waktu menghangatkan untuk diberikan ke bayi. Berikut tata cara menyimpan dan menghangatkan ASI perah dikutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan buku Mommyclopedia: 456 Fakta tentang ASI dan Menyusui karya dr. Meta Hanindita, Sp.A(K):

  1. Pastikan Bunda selalu mencuci tangan dengan bersih sebelum memerah ASI maupun menyimpannya.
  2. Bunda dapat memerah ASI dan meletakkannya di wadah bersih yang dapat menutup rapat. Bila menggunakan plastik, maka pastikan tidak mengandung bisphenol A (BPA). Hindari pemakaian kantong plastik biasa atau botol susu disposable karena mudah bocor dan terkontaminasi.
  3. Pastikan tidak terlalu penuh mengisi wadah ASI perah karena volumenya akan meningkat saat membeku.
  4. Simpan ASI perah sesuai kebutuhan bayi.
  5. Pastikan Bunda memahami petunjuk penyimpanan ASI perah di pendingin yang akan digunakan.
  6. Pastikan bahwa wadah ASI perah sudah diberi label untuk nama anak dan tanggal pemerahan.
  7. Jangan mencampurkan ASI perah yang telah dibekukan dengan ASI yang masih baru pada wadah penyimpanan.
  8. Jangan menyimpan sisa ASI perah yang sudah dikonsumsi untuk pemberian berikutnya.
  9. Pastikan untuk mencairkan ASI perah yang paling lama disimpan terlebih dulu.
  10. Hindari merebus ASI perah atau memanaskannya menggunakan microwave karena dapat menghilangkan nutrisinya.
  11. Untuk menghangatkan ASI perah, Bunda dapat menghangatkan wadah pada air hangat suam kuku.
  12. Bunda dapat menggoyang pelan wadah ASI agar teksturnya menyatu.
  13. Sebelum diberikan ke bayi, pastikan untuk mengecek suhu ASI perah apakah suhu sudah hangat.
  14. Berikan ASI yang dihangatkan dalam waktu 24 jam.

Lama penyimpanan ASI perah

Berikut ketentuan tentang lama penyimpanan ASI perah pada tempatnya, menurut Kementerian Kesehatan:

  1. Pada lemari pendingin bawah dengan suhu 4 sampai 5 derajat Celsius, ASI akan bertahan selama 3 sampai 4 hari
  2. ASI perah yang disimpan dengan ice pack yang bersuhu 15 derajat Celsius, ASI bertahan selama 3 sampai 4 jam
  3. Dalam suhu kamar atau ruang, ASI dapat bertahan hingga 3 sampai 4 jam
  4. Dalam freezer dengan suhu -18 sampai dengan -20 derajat Celsius, ASI bertahan selama 4 bulan.

Bunda, yuk download aplikasi digital Allo Bank di sini. Dapatkan diskon 10 persen dan cashback 5 persen.

Simak 4 cara menghangatkan ASI perah tanpa ribet, dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/pri)
Share yuk, Bun!
BERSAMA DOKTER & AHLI
Bundapedia
Ensiklopedia A-Z istilah kesehatan terkait Bunda dan Si Kecil
Rekomendasi
Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
ARTIKEL TERBARU
  • Video
detiknetwork

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Pantau terus tumbuh kembang Si Kecil setiap bulannya hanya di Aplikasi HaiBunda!