mom-life

Bisakah Pernikahan Bertahan Ketika Cinta Tak Lagi Ada?

Radian Nyi Sukmasari Kamis, 26 Oct 2017 12:03 WIB
Bisakah Pernikahan Bertahan Ketika Cinta Tak Lagi Ada?
Jakarta - Cinta memang salah satu pondasi penting pernikahan. Hanya saja, ketika terjadi masalah di antara pasangan dan cinta dirasa sudah tak ada lagi, bisakah pernikahan itu bertahan?

Aini, bunda tiga anak, sudah lebih dari lima tahun menjalani rumah tangga tanpa cinta. Kata Aini selama ini memang dia tinggal seatap dengan sang suami, tapi, nggak ada lagi keintiman, kehangatan, dan kedekatan dengan sang suami. Berkomunikasi pun ala kadarnya.

"Kami bertahan. Anak-anak juga udah tahu masalah ini dan mereka bisa menerima. Ya walaupun gitu ya, di rumah saya tidur terpisah sama suami karena kami punya kamar masing-masing. Kalau ngobrol kita ala kadarnya aja. Tapi, kami sendiri nggak ada niatan untuk bercerai," kata Aini.


Hmm, kalau ditelisik lebih jauh, bisakah pernikahan bertahan ketika nggak ada lagi cinta di antara suami dan istri? Menurut psikolog klinis dewasa Pingkan Rumondor, bertahan dalam arti tetap ada surat nikah dan belum ada surat cerai, bisa saja terjadi. Tapi, kualitas hubungan dalam rumah tangga antara si suami dan istri sudah jelas nggak baik.

Ketika orang sudah nggak ingin berada dalam kehidupan seperti itu, kata Pingkan, bukan nggak mungkin yang bersangkutan merasa tertekan dan stres. Ini pun terbawa ke masalah pekerjaan dan pasangan. Dengan kata lain, semacam nggak ada lagi ikatan emosional dan keadaan itu menekan.

Baca juga: Saat 'Dikejar Umur' Jadi Alasan Berumah Tangga

"Mau ketemu orang baru susah karena kita masih dalam keadaan itu. Jadi, apakah bisa bertahan sebuah rumah tangga tanpa adanya cinta? Bisa, tapi dalam kualitas yang nggak baik. Ini sama kayak orang tidak bercerai karena memikirkan anak-anak," kata Pingkan yang juga mengajar di Universitas Bina Nusantara.

Saat pernikahan bertahan meski sudah nggak ada lagi cinta antara suami dan istri, apa dampaknya buat anak? Kata Pingkan, meski masih kecil, anak bisa merasakan kalau orang tuanya dalam kondisi bersitegang. Untuk anak di bawah usia 5 tahun, bukan nggak mungkin juga mereka akan menyangka bunda dan ayahnya berseteru gara-gara dia, Bun.

"Efek untuk si anak kelak bisa dua. Antara dia sangat nggak mau atau trauma dengan pernikahan karena nggak mau mengulang kesalahan orang tuanya, atau saat dia bertemu seseorang, dia akan berusaha keras supaya lebih siap untuk menikah dan nggak mengulang apa yang terjadi pada orang tuanya," tambah Pingkan ditemui usia media gathering 'Problematika Perencanaan Keluarga dan Solusinya' yang digelar Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) di Crematology, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Berangkat dari hasil survei yang dilakukan mahasiswanya di tahun 2015 terhadap 100-an orang, Pingkan mengatakan justru makin tinggi konflik orang tua semakin tinggi persiapan si anak terkait pernikahan. Misalnya, si anak berkomunikasi dengan calon pasangannya soal pengasuhan anak atau waktu luang mereka. Dengan kata lain, apa yang terjadi pada orang tuanya dijadikan pelajaran oleh si anak.

Baca juga: Bagaimana 'Menghangatkan' Rumah Tangga yang Terasa Hambar? (rdn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi