HaiBunda

MOM'S LIFE

Tips agar Bunda Tidak Mudah Terprovokasi atau Jadi Provokator

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Jumat, 30 Aug 2019 11:30 WIB
Tips agar Bunda Tidak Mudah Terprovokasi atau Jadi Provokator/ Foto: Istock
Jakarta - Banyaknya berita hoax yang bermuatan negatif mudah membuat orang lain terprovokasi, Bun. Tidak jarang tindakan agresif mengarah ke aksi anarkis dilakukan.

Sebaiknya sebelum terprovokasi, cari tahu dulu kebenaran berita. Agar tidak menjadi korban dan pelaku provokasi. Ada berbagai cara yang bisa Bunda lakukan agar tidak terprovokasi. Salah satunya dengan teknik kognitif seperti melatih pikiran.

Artinya, kita berpikir dulu sebelum bertindak. Namun, cara seperti ini hanya berhasil jika kita memiliki wawasan, ketenangan emosi, dan keterampilan interpersonal. Demikian seperti melansir dari Psychology Today.


Jika belajar dari kesalahan masa lalu, secara langsung membantu kita menghadapi kemungkinan konflik. Secara mental juga membantu menghadapi situasi saat ini.

Penulis Paradoxical Strategies in Psychotherapy, Leon F Seltzer Ph.D menyarankan jika ada yang mencoba memprovokasi, cara terbaik menghindarinya dengan tidak melakukan apapun. Menurutnya, kita harus sadar dampak buruk yang mungkin terjadi.

"Jika tidak menahan 'api', sama saja dengan kita menambah bahan bakar yang berpotensi menambah panas suasana," ujar Seltzer.

Ibu-ibu bergosip/ Foto: Istock

Ada dua cara bisa Bunda lakukan untuk menjauhi konflik dan tidak terprovokasi. Pertama dengan mengatur pengingat dan mencari cara untuk tetap tenang.

"Agar tidak terprovokasi coba tenangkan, 'Meski ini membuatku kesal, aku tahu cara mengatasinya' atau 'Aku tidak akan terprovokasi, aku bisa menghadapinya sebelum ini memburuk'," tutur Seltzer.

Studi yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Social Psychology dan dilakukan di Ohio State University menjelaskan kalau salah satu cara agar tidak terprovokasi adalah menjauhi masalah. Peneliti menemukan orang-orang ini lebih mudah mengontrol emosinya.

"Pendekatan dengan menjauhkan diri dari orang-orang yang memprovokasi bisa mengatur perasaan marah dan mengurangi pikiran untuk bertindak agresif," kata Dominik Mischkowski, salah satu tim peneliti, dikutip dari Medical Daily.

Tim peneliti juga menyarankan untuk tidak memikirkan amarah, Bun. Semakin memikirkannya, semakin kita ingin melakukan perbuatan agresif.

Sebaliknya, dengan berpikir netral dan bahagia, membuat amarah mereda meski tidak bertahan lama. Paling tidak membantu kita berpikir objektif untuk tidak terprovokasi atau ikut memprovokasi.

Simak juga video tentang penyebaran hoax yang berujung kerusuhan berikut, Bun.

[Gambas:Video 20detik]

(ank/rdn)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

4 Kalimat Langka yang Diucapkan Laki-laki saat Tulus Jatuh Cinta Menurut Psikolog

Mom's Life Amira Salsabila

5 Kebiasaan yang Tidak Disadari Bisa Merusak Ingatan, Bisa Memicu Demensia

Mom's Life Amira Salsabila

6 Kebiasaan yang Diam-diam Meningkatkan Risiko Kanker Payudara

Menyusui Indah Ramadhani

Cantiknya Elif Anak Siti KDI Blasteran Turki, Tampil Slay saat Main Padel

Parenting Nadhifa Fitrina

11 Penyebab Perut Sakit saat Hamil, Tanda Bahaya & Cara Mengatasinya

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

10 Cara Menyikapi Masa Pubertas pada Remaja yang Benar

6 Kebiasaan yang Diam-diam Meningkatkan Risiko Kanker Payudara

11 Penyebab Perut Sakit saat Hamil, Tanda Bahaya & Cara Mengatasinya

5 Kebiasaan yang Tidak Disadari Bisa Merusak Ingatan, Bisa Memicu Demensia

4 Kalimat Langka yang Diucapkan Laki-laki saat Tulus Jatuh Cinta Menurut Psikolog

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK