HaiBunda

MOM'S LIFE

Diet GAPS, Pola Makan yang Diklaim Baik untuk Usus dan Otak

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Kamis, 26 Mar 2026 17:30 WIB
Diet GAPS, Pola Makan yang Diklaim Baik untuk Usus dan Otak/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Tomwang112
Jakarta -

Bunda pernah dengar diet GAPS? Diet GAPS tak hanya diklaim bisa membantu menurunkan berat badan, tapi juga baik untuk kesehatan usus dan otak.

Diet GAPS adalah singkatan dari Gut and Psychology Syndrome. Diet ini terinspirasi dari penelitian yang mengeksplorasi hubungan antara saluran pencernaan dan otak. Pendukung diet GAPS percaya bahwa kondisi neurologis dan psikologis tertentu seperti autisme, gangguan perhatian defisit hiperaktif, dan depresi dapat diobati dengan mengikuti diet khusus ini.

Diet GAPS dikembangkan oleh Natasha Campbell-McBride, MD. Ia adalah seorang dokter berbasis di Inggris yang berspesialisasi dalam nutrisi untuk gangguan sistem pencernaan dan kekebalan tubuh, serta gangguan perilaku dan pembelajaran.


"Diet GAPS adalah jenis diet eliminasi yang diciptakan pada tahun 2004 oleh Dr. Natasha Campbell-McBride. Ia berteori bahwa usus yang 'bocor' dapat menyebabkan beberapa kondisi yang memengaruhi otak, seperti gangguan spektrum autisme (ASD)," kata ahli diet Jared Meacham, PhD., RD, CSCS, dikutip dari Healthline.

"Sindrom usus 'bocor' adalah istilah yang terkadang digunakan untuk menggambarkan peningkatan permeabilitas dinding usus, tetapi tidak diakui sebagai diagnosis medis resmi."

Teori GAPS mengklaim bahwa usus bocor bisa membuat bahan kimia dan bakteri dari makanan dan lingkungan masuk ke dalam darah. Kondisi tersebut diduga dapat memengaruhi fungsi dan perkembangan otak, yang pada akhirnya menyebabkan 'kabut otak' dan kondisi seperti gangguan spektrum autisme.

"GAPS dirancang untuk membantu menyembuhkan dan menutup dinding usus, mencegah racun masuk ke aliran darah, dan menurunkan 'toksisitas' dalam tubuh," ujar Meacham.

Siapa yang bisa menjalani diet GAPS?

Dalam bukunya, Dr. Campbell-McBride menyatakan bahwa diet GAPS ini dapat mengobati anak pertamanya yang mengidap gangguan spektrum autisme. Saat ini, diet GAPS telah dipromosikan sebagai pengobatan alami untuk mengatasi banyak kondisi kejiwaan dan neurologis, terutama yang memengaruhi anak-anak.

Berikut beberapa kondisi yang diklaim dapat menjalami diet GAPS:

  • Gangguan defisit perhatian (ADD)
  • ADHD
  • Dispraksia
  • Disleksia
  • Depresi
  • Skizofrenia
  • Sindrom Tourette
  • Gangguan bipolar
  • Gangguan obsesif-kompulsif (OCD)
  • Gangguan makan
  • Asam urat
  • Masalah mengompol pada anak
  • Intoleransi atau alergi makanan

Hingga saat ini, hanya sedikit penelitian yang mendukung diet GAPS sebagai pengobatan untuk kondisi neurologis atau psikologis. Tak hanya itu, belum jelas bagaimana usus 'bocor' dapat berperan dalam perkembangan kondisi mental atau neurologis, Bunda.

Ilustrasi Makanan Diet/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Artit_Wongpradu

Pola makan dalam diet GAPS

Melansir dari laman Everyday Health, ada dua fase dalam diet GAPS, yakni diet pengantar dan diet pemeliharaan atau lengkap. Diet pengantar dibagi menjadi enam tahap dan dapat memakan waktu hingga enam minggu untuk diselesaikan. Setelah menyelesaikan keenam tahap tersebut, seseorang dapat beralih ke Diet GAPS lengkap selama minimal 18 bulan. Berikut penjelasan terkait pola makan dalam diet GAPS:

Diet pengantar

Diet pengantar mengharuskan seseorang minum secangkir air yang disaring pada suhu ruang setiap pagi. Ia juga disarankan untuk mengonsumsi makanan tertentu selama enam tahapan. Misalnya, pada minggu pertama, disarankan untuk mengonsumsi kaldu daging atau ikan buatan sendiri, sup yang dibuat dengan kaldu, jus dari makanan probiotik, dan daging rebus atau daging berserat lunak.

Pada tahap kedua, orang yang menjalani diet GAPS dapat mengonsumsi kuning telur organik mentah, sup atau hidangan panggang yang terbuat dari daging dan sayuran, minum jus yang lebih banyak dari makanan probiotik dan fermentasi, serta makan satu sendok teh ghee setiap hari dan meningkatkan porsinya secara bertahap.

Diet GAPS lengkap

Setelah menyelesaikan diet pengantar, disarankan untuk memulai diet GAPS lengkap dan mengikutinya selama 18 hingga 24 bulan. Diet ini terutama terdiri dari:

  • Kaldu tulang atau kaldu daging disajikan di setiap makan.
  • Daging segar (bebas hormon dan diberi makan rumput jika memungkinkan)
  • Lemak hewan
  • Ikan dan kerang
  • Telur organik segar dari peternakan (jika dapat ditoleransi dengan baik)
  • Makanan fermentasi
  • Sayuran
  • Makanan panggang yang terbuat dari tepung kacang dan buah (dalam jumlah sedang)

Campbell-McBride juga merekomendasikan untuk mengonsumsi suplemen seperti probiotik, asam lemak esensial, minyak hati ikan kod, vitamin A, enzim pencernaan, dan suplemen vitamin dan mineral berdasarkan kekurangan yang dialami oleh seseorang.

Makanan yang harus dihindari dalam diet GAPS

Selama fase pengenalan, semua makanan yang tidak tercantum dalam enam tahapan dilarang. Setelah beralih ke diet GAPS lengkap, seseorang disarankan untuk secara khusus menghindari makanan-makanan seperti:

  • Makanan olahan tinggi
  • Karbohidrat olahan
  • Makanan yang mengandung pengawet, pewarna buatan, dan bahan kimia
  • Semua gula dan pemanis buatan
  • Bir dan minuman ringan (soda)

Risiko dan kekurangan diet GAPS

Diet GAPS memang diklaim baik untuk kesehatan usus dan otak. Tapi bukan berarti minum risiko ya, Bunda. Berikut risiko atau kekurangan dari diet GAPS yang perlu diwaspadai:

  1. Diet ini membatasi konsumsi biji-bijian, kacang-kacangan, sayuran bertepung, dan sumber makanan padat nutrisi lainnya, sehingga dapat menyebabkan kekurangan nutrisi seperti kalsium dan Vitamin D.
  2. Pada salah satu tahapan diet, konsumsi kuning telur mentah yang direkomendasikan, dapat meningkatkan risiko infeksi Salmonella dan bakteri lainnya.
  3. Diet GAPS sangat bergantung pada daging dan lemak hewani, yang dapat tinggi lemak jenuh dan menyebabkan kolesterol tinggi.
  4. Terdapat sedikit sekali penelitian yang dipublikasikan dan ditinjau mengenai kemampuan diet GAPS untuk memberikan manfaat pada hubungan otak dan usus.
  5. Diet ini mendorong pembatasan banyak makanan dan dapat menyebabkan peningkatan obsesi dan penghindaran terhadap makanan tertentu. Keduanya adalah karakteristik dari gangguan makan.
  6. Seperti halnya diet lainnya, diet GAPS dapat mengubah efektivitas beberapa obat dengan memengaruhi penyerapan atau metabolisme.

Bunda sebaiknya tidak sembarangan menjalani diet GAPS ya. Sangat penting untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan atau ahli gizi sebelum mencoba diet ini.

Demikian serba-serbi diet GAPS yang diklaim baik untuk kesehatan usus dan otak. Semoga informasi ini bermanfaat, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Berat Badan Naik Setelah Lebaran? Ini Cara Diet Ampuh Mengembalikannya, Bun

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Tanggapan Marshanda saat Anak Putuskan Lepas Hijab: Aku Hormati Proses Sienna

Parenting Annisa Karnesyia

Menanti 9 Th, Tsania Marwa Akhirnya Rayakan Ulang Tahun Ke-13 Si Putra Sulung

Mom's Life Nadhifa Fitrina

Fotografer Kerajaan Mengaku Menyesal Pernah Memotret Putri Diana Diam-diam

Mom's Life Angella Delvie Mayninentha & Fauzan Julian Kurnia

7 Cerita Dongeng Kerajaan Sebelum Tidur yang Kaya Pesan Moral

Parenting Asri Ediyati

Semakin Banyak Ibu hamil Terkena Batu Empedu, Terungkap Penyebabnya Bun

Kehamilan Indah Ramadhani

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Bunda Ini Bingung Hamil 7 Bulan tapi Tak Muncul Baby Bump, Kok Bisa?

7 Cerita Dongeng Kerajaan Sebelum Tidur yang Kaya Pesan Moral

Tanggapan Marshanda saat Anak Putuskan Lepas Hijab: Aku Hormati Proses Sienna

Semakin Banyak Ibu hamil Terkena Batu Empedu, Terungkap Penyebabnya Bun

Bolehkah Bayi Dipijat Usai Lelah Perjalanan Mudik Lebaran?

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK