HaiBunda

PARENTING

Bunda, Kenapa Harus Malu Punya Anak Autis?

Yuni Ayu Amida   |   HaiBunda

Rabu, 18 Sep 2019 12:00 WIB
Bunda, Kenapa Harus Malu Punya Anak Autis? /Foto: iStock
Jakarta - Memang tidak mudah ya, Bun, mendapati kenyataan bahwa anak kita berbeda dari anak lain. Saat dokter mendiagnosis si kecil mengidap sindrom autisme, pada tahap awal mungkin penyangkalan itu muncul. Tapi, kenapa harus malu punya anak autis?

Menurut Putu Andani, M.Psi., Psikolog dari Tiga Generasi, memang kadang ada perasaan penyangkalan dari orang tua saat mengetahui anaknya berbeda dari anak lain. Namun, Putu percaya hal ini pasti ada titik baliknya.

"Kalau denial (menyangkal) atau enggak, itu masing-masing dari orang tua. Tapi pasti ada titik di mana akhirnya orang tua tidak bisa denial karena ada feedback dari lingkungan," ungkap Putu kepada HaiBunda, usai mengisi acara di Jakarta baru-baru ini.


Kata Putu, mungkin awalnya Bunda merasa berat karena tahu anaknya autis. Namun, seiring berjalannya waktu, dan kondisi anak jauh lebih baik karena perhatian dari Ayah dan Bunda, pasti perasaan menerima pun muncul.

"Misalnya denial anaknya autis, tapi ternyata pas masuk sekolah, anaknya bisa mengikuti. Titik balik setiap orang tua pasti berbeda, dan butuh proses menyadarinya," terang Putu.

Senada dengan hal tersebut, daripada terus melakukan penyangkalan, mengutip Autism Speaks, berikut ini lima tips agar Bunda bisa belajar lebih menerima keadaan sang buah hati.

1. Meminta bantuan

Foto: iStock

Dalam situasi seperti ini, carilah informasi sebanyak-banyaknya untuk tahu cara mengatasinya. Temui praktisi atau penyedia jasa yang bisa membantu kita dan anak. Percayalah kita akan mengumpulkan kekuatan besar dari orang yang kita temui.

2. Jangan menahan perasaan

Kita mungkin merasa kecewa dan marah. Itu adalah emosi yang wajar. Boleh-boleh saja merasakan emosi yang saling bertentangan. Tapi cobalah kontrol emosi, dan jangan pernah lepaskan pada orang yang dicintai.

Ketika kita berdebat dengan pasangan tentang masalah autisme, cobalah untuk tidak larut, karena topik tersebut hanya akan menyakiti kita. Serta berhati-hatilah untuk tidak marah satu sama lain.

3. Quality time

Habiskan waktu berkualitas dengan anak serta pasangan. Pergi liburan bersama dan jangan terus berbicara tentang autisme. Semua orang di keluarga membutuhkan dukungan, serta ingin merasa bahagia terlepas dari keadaan.

4. Hargai anak

Cintai anak dan bangga dalam setiap pencapaian kecilnya. Fokus pada apa yang bisa mereka lakukan daripada membuat perbandingan dengan anak yang sedang berkembang. Cintai mereka apa adanya dan bukan apa yang seharusnya.

5. Bergabunglah dengan komunitas autisme

Jangan meremehkan kekuatan komunitas. Kita tidak bisa melakukan semua sendirian. Maka bertemanlah dengan orang tua dari anak autisme lainnya. Kita akan dapat dukungan dari keluarga yang juga memahami tantangan yang kita hadapi.

Simak pula curhatan Dian Sastro soal anaknya ini, Bun.

[Gambas:Video 20detik]

(yun/muf)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

5 Cara Mengembalikan Jam Tidur Anak Setelah Libur Lebaran

Parenting Kinan

3 Mie Bangladesh di Jakarta yang Enak & Rasanya Autentik

Mom's Life Amira Salsabila

Thames Town, Kota Unik di Asia yang Semua Bangunannya Dibuat Mirip Inggris

Mom's Life Annisa Karnesyia

7 Resep Minuman Bunga Telang yang Punya Banyak Manfaat!

Mom's Life Amira Salsabila

11 Cara Mengenali Orang dengan IQ Tinggi dari Gaya Berpakaian Menurut Psikologi

Mom's Life Natasha Ardiah

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

11 Ciri Kepribadian Ganda atau DID, Sering Tidak Disadari

3 Mie Bangladesh di Jakarta yang Enak & Rasanya Autentik

5 Cara Mengembalikan Jam Tidur Anak Setelah Libur Lebaran

7 Resep Minuman Bunga Telang yang Punya Banyak Manfaat!

Thames Town, Kota Unik di Asia yang Semua Bangunannya Dibuat Mirip Inggris

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK